Thursday, July 10, 2014

"Not All Australians are Like That, Dear.."


"You're f****** muslim! Such a f****** immigrant! F*** your country! Go back to your f****** country!"

Saya ingat saat itu saya cuma bisa terdiam dan membatu di bagian dalam dekat pintu bus. Mendengar sumpah serapah dari pria putih tinggi besar dengan kaos tanpa lengan dan jeans yang berdiri tepat di tengah bus, saya henyak. Bau alkohol semerbak di udara, pun di tangannya masih tergenggam sebotol sementara tangan satunya lagi menunjuk-nunjuk ke arah saya. Kacamata hitam membuatnya semakin pongah bersama gaya rambut cepak. Saya sempat keder. Segera duduk di bangku terdekat. Seisi bus diam saja menyaksikan sumpah serapah sang pria. Saya cuma bisa menggenggam pegangan ransel dan ujung jilbab putih seragam sekolah saya. Erat-erat.

15 menit kemudian, sang pria pun akhirnya turun di tujuannya, meski masih dengan caci-makinya yang memudar seiring kembali melajunya bus di atas jalan.

Kemudian seorang ibu paruh baya dengan rambut putih mendekati. Menepuk bahu dengan lembut, lalu berkata,

"Not all Australians are like that, dear.."

Dan bukankah indah mengetahui, bahwa masih ada yang peduli? Kadang, cukup satu orang saja. Dan dunia bisa jadi lebih terasa terbuka. Dan kesedihan sirna. Dan seketika stereotip di pikiran bisa kami diskusikan dengan baik. Tanpa cacian. Justru dengan kebaikan.

Bukankah memang benar, bahwa hati hanya bisa dijangkau oleh hati?

Melbourne (Australia), suatu hari di 2007.

No comments:

Post a Comment