Thursday, July 10, 2014

Perempuan, Dokter, Cinta, Cita-cita & Ummat


"Perempuan. Sudah dokter saja, sudah banyak yang segan untuk melamar. Kalau tambah-tambah lagi jadi spesialis, atau sekolah S2, S3, ngga tanggung-tanggung lagi, ke luar negeri, atau pake pingin kerja di WHO atau lembaga internasional lagi, bagaimana? Mana berani orang mendekati. Mau, menjadi tua sendirian?"

"Jadi, harusnya seperti apa?"

"Ya, sekolah sih boleh. Secukupnya. Jangan terlalu meninggikan diri, tidak ada yang sanggup meraih ketinggian itu nanti.."

"Oh."

"Oh, apa?"

"Oh, ya sudah."

"Ya sudah, kamu sepakat? Untuk belajar secukupnya saja? Untuk akhirnya menyesuaikan derajat mimpi dengan realita?"

"Well, that depends."

"Depends on what?"

"Depends whether Islam has reached its highest civilization achievement. When that happens, then you can ask me to sit down and no longer dream high. Let alone some cheesy romanticism. If you love, you pursue. If you don't dare to pursue, it is not love. As simple as that. Kalau nanti rupanya saya cuma mengejar posisi, dan bukan prestasi yang memberikan kebaikan bagi ummat, yang mengikuti posisi tersebut, bolehlah saya ditegur. Tapi untuk berhenti bermimpi? I don't think so.."

------------------------------------------------

Kadang kita sering mengenyampingkan mimpi besar bernama "Ustadziyatul 'alam" dengan khayalan kebahagiaan pribadi. Kadang. Dan itu membuat sedih. Ketika kita merendahkan standar pencapaian kontribusi bagi kemajuan peradaban cuma karena alasan "cinta", ah, seolah "cinta" adalah penghalang. Seolah "cinta" adalah rintangan.

Menurut saya, "cinta" adalah kekuatan maha dahsyat yang membuat Ummu Salamah marah besar ketika anak-anaknya tak berangkat perang bersama Rasulullah. 

Menurut saya, "cinta" adalah keberanian Shafiyyah "mengkhianati" kaum sedarah-keturunan-nya, para Yahudi, untuk menikah dengan Rasulullah saw; menjadi bagian penting dalam sejarah shahabiyyah yang kita baca-baca sekarang.

Menurut saya, "cinta" adalah kejujuran sang gadis Anshar menyatakan penolakannya atas lamaran Salman Al-Farisi dan pengakuannya atas ketertarikannya yang malah jatuh pada Abu Darda', yang awalnya cuma menemani Salman Al-Farisi untuk melamar sang gadis. Suatu langkah besar untuk menghindari ketidaknyamanan hati yang berpotensi menimbulkan "perasaan yang tidak tuntas dengan orang lain" dalam kehidupan rumah tangganya nanti. Sementara berumahtangga adalah ibadah yang seharusnya membuahkan pahala dan kasih sayang, bukan penyesalan berupa "andai suamiku bukan yang ini". 

Tak kah kita melihat, bahwa mereka yang ada di sekitar Rasulullah saw di masanya itu begitu tegas dan jujur mendefinisikan cinta. Lebih mengedepankan keinginan meraih ridha Allah daripada berkumpul di rumah bersama seluruh anggota keluarga, mendapat tempat di suku asal geografis, atau ketidakenakan pada orang lain. Mereka begitu ada apa-apanya dalam berbagai keputusan. Bukan sekedar pasrah dan apa adanya. Apalagi sekedar takut "tak ada jodoh". Seakan-akan Allah bisa silap menentukan siapa jodoh untuk kita, dan kapan kita akan dipertemukan dengannya; sungguh bukan mental ummat yang mengaku beriman pada Allah beserta seluruh set qadha dan qadr-Nya.

But hei, ini IMHO sih. CMIIW.

No comments:

Post a Comment