Thursday, July 10, 2014

Tawakkal dalam Mengapung


Saya ingat beberapa tahun lalu saya pernah diajarkan berenang oleh seorang saudari. Katanya, hal pertama yang harus saya pelajari adalah mengapung. Maka berusahalah saya mengikuti segala instruksinya. Meluruskan punggung. Merilekskan badan. Jangan panik. Dan di bagian "jangan panik" ini saya terus-terusan digerutui. 

Waktu itu saya protes padanya. Saya bilang, lepas dari segala arahan, dia tidak boleh lupa kalau saya juga punya faktor predisposisi yang bisa jadi menjadi penghambat dalam proses belajar berenang tersebut. Saya sampaikan masalah berat badan dan postur tubuh misalnya, bisa jadi sebagai salah satu faktor pemberat dalam proses berenang. Saya ditertawakan saat itu, saudari saya langsung menyerocosi saya dengan fakta tentang seorang saudari lain yang berat badannya hampir 100 kg namun sangat ligat dan cekatan dalam mengayunkan lengan dan kakinya di danau dalam yang kami tahu. Saya tidak menyerah. Saya terus saja menyecarinya dengan berbagai alibi dan argumen. Dan untuk setiap argumen, saya menerima ceramah panjang dan beberapa cubitan. Tentu saja, saya terus saja menghindari cubitannya dan terus saja bicara.

Saat itu kami tidak hanya berdua. Ada satu lagi saudari yang menyertai kami, juga sedang belajar, tapi jauh lebih kalem daripada saya. Dan akhirnya, ia pun angkat bicara dan membuat saya terdiam.

"Katanya, satu-satunya cara untuk bisa belajar mengapung itu adalah tawakkal. Berserah diri seutuhnya pada Allah."

Deg!

"Walaupun akan ada air yang masuk ke telinga kita? Walaupun batas air dengan lubang hidung cuma beberapa sentimeter saja?"

"Iya. Katanya gitu. Coba, yuk."

Deg lagi!

Tawakkal. Menyerahkan diri pada pengamanan Allah saja. Menyerahkan ujung cerita pada Allah saja. Seutuhnya yakin Dia akan melihat dan tak akan melepaskan pengawasan-Nya. Tidak panik..

Maka mulailah kami mencoba "tawakkal" untuk mengapung. Terus-terusan berkata pada diri sendiri bahwa semua akan tetap baik-baik saja. Bahwa membiarkan sesuatu yang asing masuk ke telinga itu tidak mengapa asal membrana timpani (gendang telinga) tidak pernah mengalami infeksi/pernah berlubang. Dan perlahan, seiring hari terus menyengat dengan matahari yang terus meninggi, kami pun pelan-pelan berhasil mengapung di salah satu ceruk yang sedikit lebih dalam di pantai tersebut.

Jika untuk mengapung di laut dunia saja kami harus tawakkal pada-Mu. Apalagi untuk "mengapung" di laut kehidupan-Mu yang jauh lebih luas dari itu.

Ah, Allah. Utuh. Yakinku kini utuh pada-Mu. Kau tahu isi hatiku. Kau tahu isi pikiranku. Kau tahu semua harapan dan doaku. Tapi aku juga perlu tahu, Kau lebih tahu tentang apa yang akan terjadi dan terbaik menurut-Mu..

Pantai Anoi Itam, Sabang, suatu hari.

No comments:

Post a Comment