Thursday, July 10, 2014

Tentang Seorang Wanita Berbedak Cemong di Rumah Sakit Kami


Saya selalu iri dengan seorang wanita paruh baya namun dengan kelainan mental yang sering wara-wiri di rumah sakit tempat saya kepaniteraan (baca: koass). Badannya kecil pendek, sering mengenakan kerudung putih, kemeja putih, dengan lipstik agak merah dan bedak yang cemong. Ia sering keliling dengan sebuah kursi roda yang didorongnya sendiri. Isi kursi roda tersebut biasanya buah-buah (entah dari mana) dengan jumlah sekedarnya yang dijual dari bangsal ke bangsal. 


Sesekali (sebenarnya sering kali), ia malah mengedukasi pasien setelah kami paramedis mengedukasi pasien. Dengan wejangan khas "pengalaman seorang pasien dengan penyakit yang sama/mirip", yang kadang malah bertolakbelakang dengan edukasi kami.

Di wajahnya tak pernah beban. Ia bahkan menyapa kami tanpa tekanan. Padahal jelas ada yang tidak sinkron antara "pelayanan" yang kami tawarkan dengan yang dia tawarkan.

Dan pada hal tersebutlah saya iri padanya. Ia berkeliling membagi apa yang ia bisa bagi tanpa pamrih. Pada keluarga pasien seantero rumah sakit. Berbicara sendiri sambil berjalan, tertawa dan menyampaikan informasi yang terkesan penting (padahal entah apa yang ia ceritakan) semena-mena pada sesiapa yang dijumpainya.

Ah. Kadang, mereka yang kita anggap sakit jiwanya, lebih bahagia dari yang kita kira. Sementara kita? Selalu ingin lari. Selalu ingin pergi. Khawatir sakit hati. Cemas ditusuk oleh teman sendiri.

Tak berani menjalani hidup dengan nafas panjang dan mata yang tajam memandang. Pengecut. Pengecut sejati yang mengaku waras ke sana-sini..


*don't worry, I'm talking about nobody, but someone I see in my mirror every morning*
26 Desember 2013

No comments:

Post a Comment