Thursday, July 10, 2014

Versi-versi tentang Seorang Dokter


Versi pasien yang duduk di depan meja dokter :
"Dokternya sibuk dengan handphone. Mana handphone-nya 3 buah lagi. Semua diladenin. Saya cerita panjang lebar didengerin apa ngga, saya juga kurang tau. Tetiba aja udah jadi resepnya. Dokternya ga care! Terus semua koas-koas masuk semua juga diladenin. Kenapa ga ngasih waktu buat saya konsultasi maksimal, sih? Pulang dari sini saya mau lapor gubernur Aceh, ah. Biar tau rasa dokter ini. Mentang-mentang saya cuma pasien JKA, saya diperlakukan kaya gini. Huh!"

Versi pasien di ujung telepon :
"Dokter ini ya, udah lama ngangkat teleponnya, jawab pertanyaannya pun singkat-singkat. Kenapa ga dengerin cerita lengkapnya sih? Anak saya udah bisulan sejak kemarin ini, bisa-bisa bahaya siapa tau, kan? Memangnya mau saya kalau saya ga bisa ke rumah sakit sekarang juga? Kalau saya punya mobil juga saya udah ke IGD biar cepat ditangani. Dokter macam apa ini, ga ada etikanya. Suaranya datar bilang, "Besok datang ke poliklinik anak saja ya, Bu.", memangnya dia kira anak saya bisa menunggu? Dia rewel ini! Ah, mending saya bawa ke klinik Tong Fang aja deh!"

Versi sang dokter :
"..."

Sang dokter tak sanggup lagi berpikir lurus. Pasien yang harus ditangani per hari di poliklinik tidak kurang dari 50'an pasien. Belum lagi pasien di bangsal, ada sekitar 6-7 pasien, dan beberapa pasien tambahan titipan pegawai RS yang diselip-selip di antara jam klinik, sementara pasiennya tidak dibawa serta, sehingga harus berpikir ekstra keras mau memberikan terapi seperti apa. Belum lagi ada yang menelponnya terus menerus menanyakan hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan tenang asal yang menelepon tidak panik, belum lagi ancaman akan dilaporkan kepada pejabat setempat dan bahwa akan dibuat dipecat/ dikeluarkan dari program pendidikan dokter spesialis. Lalu para dokter muda yang dilirik sebelah mata oleh pasien, sementara mereka juga butuh waktu dan bimbingan untuk memeriksa pasien. Belum lagi tugas-tugas mereka yang harus diperiksa segera sebab pihak fakultas sudah meminta nilai segera dirampungkan. Sudah 2 hari belum bisa pulang sebab jadwal jaga sambung-menyambung dan pasien berlimpah masuk IGD semalaman, sementara itu ada satu SMS masuk ke handphone yang nomornya dibuat pribadi khusus untuk keluarga,

"Pa, anak kita demam terus. Harus bagaimana?"

________________________________

The narration above is inspired by true events, udah itu aja.

No comments:

Post a Comment