Sunday, August 17, 2014

Nyak Loet ("Berarti Kita Belum Merdeka, ya Mak?")

“Kenapa harus merah, Mak?”

Mak Beid menggaruk-garuk kepala. Gerahnya udara siang ini membuatnya berkeringat ekstra. Selendang kuning lebar yang menutup kepalanya nampak acak-acakan akibat garukannya. Ditambah lagi pertanyaan si Nyak Loet yang rewel ini. “Ah, tak pernah berhenti bertanya aneuk manyak sidroe nyoe,” pikir Mak Beid.

“Kan kalau merah, hue. Terang. Coba kalau warnanya coklat. Nanti bisa saja orang pikir itu bak geureundong. Ya, kan?” Mak Beid meminta persetujuan anaknya meski ia sendiri tidak yakin jawaban tadi akan memuaskan si bungsu ceriwisnya itu. Benar saja, kening Nyak Loet masih berlipat-lipat. Matanya menatap mata Maknya mencari penjelasan lebih lanjut.

“Tapi kan Mak, warna putih nggak hue. Kok malah ikut-ikutan dipakai?” 

Mata bundarnya kini memandang lepas ke luar jendela. Anak rambut yang menyembul dari kerudung putih mungilnya menari seiring angin yang menerpa wajah ingin tahunya. Ia terus saja memandang ke luar meskipun debu-debu dari tepian jalan terus-menerus menampar wajahnya perih. 

Tiang-tiang di setiap pagar rumah yang mereka lewati dari tadi menghipnotisnya sempurna, terutama selembar kain dua warna yang dipasang di pucuk-pucuknya. Mak Beid tidak terlalu memperhatikan pertanyaan terakhir anaknya. Ia sibuk membenarkan letak selendangnya.


“Jadi kenapa, Mak? Kenapa warnanya merah dan putih seperti itu?” Nyak Loet mengulangi pertanyaannya, jaga-jaga jika Mak Beid lupa untuk menjawab. Mak kan sering lupa di mana meletakkan bleut tempat menjemur belimbingnya. Apalagi pertanyaanku, pikir Nyak Loet.

“Ah, Nyak, Mak ngantuk. Nanti kalau sudah sampai di Banda, bolehlah tanya lagi.” Mak Beid menumpukan berat badannya ke bahu kiri, sedikit membelakangi Nyak Loet. Matanya dipejam rapat-rapat demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Nyak Loet. Pundaknya bergoncang-goncang, mobil angkutan L300 yang mereka tumpangi mulai berjuang mendaki badan  Seulawah.

Nyak Loet melenguh pelan. Banda Aceh itu sendiri sudah cukup membuat dirinya penasaran dan kini kain merah-putih itu ikut-ikutan menanamkan kepenasaranan di hatinya.

Sejauh ingatannya, tahun lalu dan tahun sebelumnya orang-orang di gampong juga memasang kain merah-putih itu dan semuanya di waktu yang sama setiap tahun, yaitu saat pohon jemblang di pekarangan Tengku Him berbuah. Nyak Loet tak pernah merasa terusik dengan kain-kain itu. Ia lebih tertarik untuk jalan-jalan ke Kota Sigli dengan Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan yang setiap kali kain merah-putih itu dipasang, pasti libur dari sekolah. 

Tengku Him, ayah Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan, juga selalu akan mengantarkan dan membiarkan mereka tertawa-tawa sambil menikmati angin di bak mobil pick-upnya. Biasanya mereka akan ke alun-alun. Di sana Nyak Loet pasti akan membeli Mie Caluek kesenangannya dan menyantapnya di atas batu-batu besar di pinggir pantai dekat alun-alun. Kalau hari itu sebegitu menariknya, untuk apa Nyak Loet memikirkan tentang kain merah-putih?

Nyak Loet melempar pandangnya lagi ke luar jendela. Pemandangan rumah-rumah penduduk yang satu-satu terlihat dari sejak di Padang Tijie tadi mulai tergantikan dengan hijaunya panorama. Sang mentari yang pongah dan tinggi berada tepat di atas ubun-ubun manusia sekarang. 

Di sana-sini tubuh jalan compang-camping, membuat perjalanan tidak mulus sama sekali. Sang supir terdengar mengumpat di sela-sela lantunan musik sendu dan suara tiga orang bapak-bapak yang bernyanyi tentang hal yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nyak Loet.

Sekilas, Nyak Loet melihat ke setiap penjuru mobil L300 ini. Penumpang lain terlihat sama mengantuk dan membosankannya dengan Mak, pikirnya. Ia pun melipat tangannya, cemberut. Matanya kembali menggerayangi pemandangan di luar sana yang bergerak cepat bak komidi putar. Pandangannya setengah hampa. Pikirannya mengembara ke gampong. Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan pasti sedang makan Mie Caluk di alun-alun kota Sigli.

Ayah juga pasti baru keluar dari ladang Yahwa Adnan dan langsung ke Meunasah untuk seumahyang leuhoo. Dari sana, Ayah akan pulang ke rumah dan membuka tudung saji dan mulai makan siang.

Kembara pikirannya tiba-tiba terhenti, Nyak Loet ingat sesuatu. Mak bersamanya sekarang. Berarti tidak ada yang akan memasak untuk Ayah. Ayah makan apa siang ini? mengapa Ayah tidak ikut serta saja ke Banda? Namun, dilihatnya Mak sudah terlelap.

*** 

Chit peut reubee ka jinoe, hai Mi.”

Mak Beid menggerutu. Tak urung dikeluarkannya juga empat lembar seribuan dari simpulan kecil–yang berfungsi sebagai subtitusi dompet– di ujung selendang kuningnya.

Tamah aneuk droen lom nyoe.”

Tampaknya Mak Beid sudah tiba di halte terakhir kemarahannya. Pipinya menggelembung merah jambu, lebih merah dari semburat senja di ujung Permukiman Tungkop itu.

“Dari tadi itu dia duduk di pangkuan saya! Mana labi-labimu penuh lagee aneuk boh peuteek masak! Masih mau minta tambahan ongkos untuk anak saya?” Sengit Mak Beid. Nyak Loet terlihat lunglai menggenggam erat tangan kanan Mak. Perjalanan ini begitu jauh dan melelahkan.

Kernek labi-labi itu pun akhirnya mengalah. Mak Beid dan wajah sangirnya tidak lebih mengerikan dari seringai para penumpang lain yang sudah ikut-ikutan kesal karena perjalanan mereka terhambat. Labi-labi itu pun menghilang ke tikungan menuju Lambaro Angan. 
Mak Beid dan Nyak Loet mulai menapaki jalan aspal yang berlubang di mana-mana, Desa Lamkeunung. Tas besar di tangan Mak Beid sesekali diletakkan di tanah sebelum akhirnya ditenteng lagi. Pelan sekali, karena Nyak Loet pun sudah terlalu lelah untuk berjalan. Pidie – Aceh Besar memang tidak terlalu jauh, tapi Nyak Loet benar-benar tidak terbiasa dengan perjalanan seperti ini.

“Supir L300 tadi benar-benar kejam. Sampoe hatee dia menurunkan kita di Jambotape begitu. Kasihan kau harus berdesak-desakan dalam labi-labi, Nyak,” Mak Beid membelai sayang kepala anaknya. Nyak Loet tidak menjawab, ia hanya ingin beristirahat sekarang.

Langkah-langkahnya masih terseret berat saat matanya kembali tertumbuk pada sebuah pemandangan yang tak asing lagi. Nyak Loet mendadak berhenti. Mak Beid yang memegang tangannya pun terhenti langkahnya.

“Mak, orang yang tinggal di rumah itu pasti orang Padang Tijie. Tuh, ada kain merah putih juga!”

Mak Beid tak mampu menahan senyum. Bungsunya ini memang lugu. Boh hatee terkasih ini tidak tahu rupanya bahwa hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia.

“Kain merah putih itu namanya bendera, meutuah. Dan orang yang tinggal di rumah itu belum tentu awak gampong kita. Mereka memasangnya karena hari ini tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan.” jelas Mak Beid.
Nyak Loet mengernyit namun tak urung melanjutkan langkahnya. “Kemerdekaan?” Kata itu seolah masih asing baginya. 

“Ya, merdeka,” ternyata belum cukup ‘jelas’ penjelasan tadi. “Merdeka itu artinya kita tidak lagi dijajah, diperintah-perintah oleh orang lain. Kita bebas menentukan apa yang ingin kita lakukan. Paham?” Mak Beid tak tahu bagaimana hendak menjelaskan lagi. Terlalu berbelit-belit nanti malah akan diserang balik dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi.

Mulut Nyak Loet membundar menggemaskan. Tak lama kemudian keningnya berkerut lagi.

“Contohnya?”

Sia-sia Mak Beid berusaha meminimalisir kesempatan Nyak Loet bertanya. Ia melengos pelan. Namun demikian, Mak Beid sebenarnya senang anaknya tidak lagi terlihat sakit dan menyedihkan seperti di dalam labi-labi tadi.

“Misalnya, Tengku Him yang punya pohon jemblang. Kalau Tengku Him dijajah oleh orang lain, nanti Tengku Him akan disuruh-suruh membersihkan halamannya sendiri, mengurus pohon jemblangnya, tetapi nanti ketika berbuah, Tengku Him tak akan mendapatkan sedikit pun dari jemblangnya. Tapi karena Tengku Him merdeka, ia bisa makan buah jemblangnya sesuka hatinya. Bisa juga menjualnya, terserah Tengku Him lah.” Mak Beid sebisa mungkin menggunakan hal yang paling familiar dengan bungsunya.

Nyak Loet manggut-manggut. Beberapa ekor anak kambing berlarian di sawah-sawah kosong yang mengitari jalan setapak yang mereka lewati. Dari kejauhan lenguhan panjang lembu-lembu yang sedang merumput melatari.

“Memangnya dulu pohon jemblang Indonesia dijajah sama siapa, Mak?” Nyak Loet kembali bertanya.

Mak Beid tertawa kecil. Peluh yang bertengger di dahinya jatuh ke tanah. 

“Indonesia memang pernah dijajah, tapi bukan pohon jemblangnya. Semua yang ada di negara kita ini waktu itu dijajah oleh orang Belanda. Lautnya, tanahnya, buah-buahannya, rempah-rempahnya, kecuali satu daerah.” Mak Beid melirik Nyak Coet, mengharapkan kepenasaranannya.

“Kecuali satu daerah?”

“Daerah mana, Mak?”“
Nanggroe tanyoe nyoe, meutuah. Aceh.” 

Mak Beid menatap langit. Semburat jingganya sempurna. Lamkeunung memang sedang dipeluk senja.

“Jadi dari dulu Aceh ini sudah merdeka, ya Mak? Makanya kita dari dulu boleh makan buah jemblang Tengku Him, ya Mak?” Nyak Loet nyengir memamerkan ompongnya.

Mak Beid tersenyum geli kali ini. Ia hanya mengangguk membenarkan. Ah, Nyak Loet!

“Kita memang dari dulu sudah merdeka. Lalu kita bergabung dengan Indonesia,” Mak Beid meletakkan tas besarnya sesaat di tanah. “Dan karena kita sudah bersatu dengan Indonesia, kita juga memperingati hari kemerdekaannya. Jadi intinya, kita sudah tidak dijajah lagi. Semua yang kita punya di negara kita ini tidak lagi diambil oleh orang lain. Semua punya kita.”

Nyak Loet seperti merenung. Semua punya kita?

Mak Beid menangkap ketidakmengertian bungsunya. “Maksudnya, misalnya Indonesia punya banyak pohon jemblang, nanti buahnya dibagi-bagikan ke semua rakyatnya, yaitu kita. Jadi tidak diambil oleh orang lain, begitu.”

“Ooo,” ia berhenti sesaat, “Mak, memangnya Indonesia itu seperti apa sih? Tinggi besar seperti Tengku Him?”

Mak Beid terpingkal-pingkal. Untuk beberapa detik beban di tangan kanannya terasa sangat ringan.

“Kita memang harus pindah ke Banda.” Mak Beid tertawa-tawa kecil. Nyak Loet menguncupkan mulut, tidak mengerti.

Mak Beid tiba-tiba menghentikan langkah. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah berpagar sedada Mak Beid. Perlahan tapi pasti Mak Beid membuka gerbang pagar itu. Inilah tujuan akhir perjalanan ini.

Nyak Loet menatap takjub atap genteng merah tua rumah di depannya. Rumahnya jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan rumah mereka di gampong. Dindingnya berwarna putih, lantai terasnya berwarna hitam berkilau. Beda sekali dengan ubin di rumah Tengku Him. “Ini rumah kita yang baru ya, Mak?”

Mak Beid menggeleng sembari tersenyum kecut, “Iya.”

***

“Jalan di desa ini tidak begitu bagus, ya. Tidak menyangka bahwa yang tinggal di sini malah kebanyakan dosen.” Mak Beid membuka tutur setelah meneguk teh dinginnya sampai habis. Seorang wanita tambun setengah baya berkerudung putih yang duduk di depan Mak Beid tersenyum mengangguk. 

Nyak Loet terus-terusan menatap sang wanita nyaris tak berkedip. Tadi ia sempat menangkap kilau emas dari dalam mulutnya saat menyilakan mereka minum dan bercerita bahwa di daerah ini terdapat banyak orang yang bekerja seperti suaminya.

“Iya, Zubaidah, memang jelek jalannya. Kami sudah beberapa kali melapor ke kantor kecamatan tapi masih belum ada respon apa-apa. Hana peng, alasan mereka.” Sang wanita menjelaskan. Mata Nyak Loet membesar, kilau emas terlihat lagi dari dalam mulut sang wanita.

“Ah, alasan saja itu. Padahal mungkin sudah ‘ditelan’ semua uangnya, makanya tidak ada lagi.” Mak Beid memberikan pendapatnya.

Sang wanita terkekeh, kini Nyak Loet bisa mengobservasi dengan leluasa asal kilau emas tadi. Oh, rupanya giginya terlalu kuning, Nyak Loet berbisik dalam hati.

“Ngomong-ngomong, Ayah si Nyak Loet ini apa kabar? Masih mengurus ladang Abang lon?”

“Alhamdulillah sehat saja, Kak Mah. Ya, dia masih bekerja di situ. Tapi Kak Mah tahu sendiri, hasilnya cuma cukup untuk makan sehari-hari saja. Padahal, si Nyak Loet ini sudah harus sekolah.”

Nyak Loet yang sedari tadi memerhatikan wanita bergigi emas itu tiba-tiba terduduk tegak demi mendengar Ayahnya disebut-sebut. Lebih terkejut ketika namanya disebut dan dikait-kaitkan dengan sekolah. Kak Desi bilang kan di sekolah itu banyak PR!

“Nyanyak nggak mau sekolah. Kata Kak Desi di sekolah banyak PR!” tiba-tiba saja ia sudah menumpahkan kekhawatirannya.

“Memangnya Nyanyak tahu PR itu apa?” Mak Beid menggodanya.

“Hahaha, alahai Nyak Loet meutuah. Cek Hikmah dulu juga tidak mau sekolah. Tapi ketika sudah masuk sekolah, Cek Hikmah malah tidak ingin keluar, lho.”

Jadi, nama wanita ini Cek Hikmah!

Cek Hikmah pun terkekeh-kekeh lagi demi melihat Nyak Loet yang cengengesan sekarang.

“Baiklah, Beid. Kamarmu di sini ya.” Cek Hikmah menunjuk sebuah kamar di belakang pundaknya. “Untuk hari ini, jangan bekerja apa-apa dulu. Kasihan si Nyak Loet. Mantong hek that hie.” Cek Hikmah tersenyum sembari mengusap kepala Nyak Loet sayang. Yang kepalanya diusap tersenyum malu.

Di kamar mereka yang berisi satu ranjang dan lemari pakaian beserta cerminnya, Nyak Loet tiba-tiba ingat sesuatu, “Mak, kenapa Ayah tidak ikut ke Banda?”

Mak Beid yang sedang mengeluarkan isi tasnya ke dalam lemari tiba-tiba berhenti. Setelah meletakkan sepotong daster ke dalam lemari, Mak Beid duduk di sebelah Nyak Loet di atas ranjang. Sudah saatnya menjelaskan semua, pikir Mak Beid.

Tuloet lon sayang, masih ingat cerita Mak tentang Kak Phoenna kan?” Mak Beid menyebut kakak Nyak Loet yang sudah meninggal sebelum Nyak Loet lahir. Nyak Loet mengangguk.

“Saat umurnya sebaya denganmu sekarang, kakakmu kerap bermain-main dengan anak-anak gampong. Ah, seandainya saja kakakmu bersekolah, ia pasti tidak akan tertabrak mobil itu.” Mak Beid menghela nafas panjang. Dibelainya kepala berkuncir milik Nyak Loet. “Umurmu sekarang sudah enam tahun. Mulai tahun depan kau sudah harus bersekolah. Mak dan Ayah tidak akan membiarkanmu tidak sekolah seperti kak Phoenna.”

Nyak Loet menatap lantai keramik putih di bawahnya. “Tetapi kenapa harus ke Banda, Mak? Kak Desi saja bisa bersekolah di Kunyet.” Ia mengucapkannya tanpa mengangkat pandangannya dari lantai.

“Karena Mak dan Ayah tidak punya cukup uang, meutuah. Di sini, Mak akan bekerja jadi pembantu. Dengan gaji yang Mak dapatkan, mulai tahun depan Nyanyak akan Mak sekolahkan di sekolah Tungkop. Nanti di sekolah, Nyanyak tanyalah sama Bu Gurunya, kenapa warna bendera yang kita lihat hari ini merah putih. Tanya sejarah tentang Indonesia, tanya apa saja yang Nyanyak ingin tahu. Mak mau Nyak Loet bisa pintar, koen lagee Mak nyang hana jak sikula chit jameun. Ya?”

“Mmm… Maksudnya jadi pembantu itu apa, Mak?” Nyak Loet benar-benar bingung.

Mak Beid terlihat sedikit enggan menjawab. Tetapi Nyak Loet harus mengerti sejelas-jelasnya. “Kita akan membantu-bantu Cek Hikmah membersihkan rumahnya, memasak makanannya, yah, melakukan apa yang disuruhlah nanti.” Mak Beid mengusap sayang kening Nyak Loet yang masih terus berkerut.

“Mak…” Nyak Loet terlihat ragu-ragu berkata.

“Ya, meutuah. Ada apa?”

“Nanti pokoknya kita melakukan apa yang disuruh Cek Hikmah?”

Mak Beid mengangguk. Pahit kenyataan ini untuk dibicarakan memang.

“Mak…,” Nyak Loet masih ragu-ragu ingin berbicara. “Berarti kita belum merdeka ya?”



Lamkeuneung, 17 Agustus 2008
Cerpen ini diterbitkan bersama cerpen-cerpen anggota FLP Wilayah Aceh lainnya dalam antologi "Rumah Matahari Terbit" (Kamoe Publishing House, 2009)

                               

Keterangan :
Aneuk manyak sidroe nyoe : anak kecil seorang ini.
Hue : terang
Bak geureundong  : batang kuda-kuda, sering dijadikan pagar alami oleh orang Aceh
Chit peut reubee ka jinoe, hai Mi : memang sudah empat ribu (rupiah) sekarang lho, Bu
Tamah aneuk droen lom nyoe : tambah anak ibu seorang lagi.
lagee aneuk boh peuteek masak : seperti anak biji pepaya yang sudah masak.
Pan Boh hatee  : Buah hati, ungkapan sayang dalam Bahasa Aceh.
Meutuah : ungkapan sayang lain dalam Bahasa Aceh.
Nanggroe tanyoe nyoe : negeri kita ini.
Lon  : saya
Tuloet : bungsu, Nyak Loet : panggilan untuk anak bungsu
koen lagee Mak nyang hana jak sikula chit jameun  : tidak seperti ibu yang tidak sekolah.