Wednesday, September 10, 2014

Perempuan; Sang Pewaris Kecerdasan dan Ibu Peradaban yang Tak (Cuma) Tinggal di Rumah


                            Photo: Bukan saya yang ngomong lho..


Belakangan, gambar di atas banyak beredar di media sosial. Rata-rata membagikannya dengan suatu hipotesis berupa "Istri yang cerdas = anak yang cerdas". Jujur, saya merasa terusik dengan gambar di atas. Terusik pula dengan hipotesis popular ini; popular, sebab sumber referensinya tidak begitu mudah kita susuri keberadaannya (saya sudah coba Google tapi nemunya blog semua, kecuali beberapa artikel populer, tidak ada bahan berupa riset dsb yang akuntabel). Ini, saya rasa, hanya potongan dari entah kuliah, nasihat dosen, dsb. Saya juga sering mengkuotasi kata-kata dosen untuk pegangan saya sendiri meski tak banyak saya publish ke dunia maya. Sama sekali tidak salah, bagi mereka yang tetap paham konteks yang lebih besarnya, mahasiswa kedokteran/biologi yang paham tentang genetika misalnya. Bagi yang tidak? Lain lagi perkara.

Lanjut lagi, kenapa saya terusik? Bukankah seharusnya saya merasa bangga, bahwa kaum saya ini seperti baru disadarkan akan suatu privilege yang bisa menentukan nasib masa depan dunia. Berarti, tinggal mencerdaskan semua perempuan, biarkan mereka menikah dan pastikan mereka punya anak yang banyak untuk meningkatkan populasi manusia cerdas di muka bumi ini.

Tapi pada kenyataannya, saya tidak begitu bangga dengan fakta popular ini. Justru saya khawatir bahwa sebagai paradoksnya, kaum lelaki, malah dimarginalkan fungsinya dalam membangun peradaban yang lebih baik di masa depan. Ah, tapi sebelum saya bahas lebih panjang lebar lagi, ada satu gambar lagi yang juga meresahkan saya di media sosial. Kaitannya dengan gambar di atas juga ada. Inilah dia. 

                                   Photo

Mungkin melihat gambar di atas, kita langsung teringat Kyoiku Mama ya. Kyoiku Mama adalah istilah Jepang untuk seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti mendorong anak-anaknya untuk belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial. Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 mengungkapkan bahwa 61% Ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. Mereka ini pun dikenal memiliki level pendidikan yang tidak rendah. Jadi, kira-kira pesan dalam gambar di atas mirip dengan Kyoiku Mama di Jepang. Bahwa sedang ngetrend perempuan karir meninggalkan karirnya demi mendidik anak-anaknya. Untuk lebih detil lagi, silakan Google saja ya. Saya sendiri menemukan statistik di atas dalam sebuah artikel terkait di Kompasiana. Izinkan saya membahas satu per satu.


Ibu Cerdas = Anak Cerdas?

Apakah hanya perempuan yang harus cerdas agar bisa menghasilkan anak yang cerdas? Lalu sang ayah, kontribusinya apa terhadap kecerdasan itu? Jadi yang harus sekolah tinggi-tinggi itu cuma perempuan? You see, it forms a partial understanding.

Perhatikan potongan paragraf yang saya ambil dari artikel terkait yang dimuat oleh The Independent (UK) tentang warisan kecerdasan dari genetika ibunya berikut ini:

Professor Gillian Turner, the author of the study, said: "If the gene is the one that increases intelligence then its full effect will be seen in men, while in women the benefit is less pronounced. This explains why some men are extraordinarily intelligent."

Terjemahan bebasnya kira-kira begini: 

Professor Gillian Turner; peneliti dalam studi ini, mengatakan: "Jika gen inilah (maksudnya  gen yang terdapat di kromosom X, silakan baca artikel penuhnya untuk lebih jelas) yang meningkatkan kecerdasan, maka efek utamanya akan terlihat pada lelaki, sementara pada perempuan, efek ini tidak akan terlalu muncul. Ini menjelaskan mengapa beberapa lelaki bisa menjadi sangat cerdas."


Kita semua mungkin tahu, bahwa kromosom yang menentukan jenis kelamin adalah kromosom X dan Y. Laki-laki berkromosom XY, sedangkan perempuan berkromosom XX. Dan ternyata teman-teman, kromosom X memang bersifat lebih mendominasi dibanding kromosom Y. Sementara kromosom X pada seorang laki-laki hanya akan diwariskan oleh ibunya. Maka wajar, jika ibu yang cerdas akan mewariskan genetika kecerdasan itu pada anak laki-lakinya. Namun pada perempuan, justru sebaliknya terjadi. Jika kromosom X bertemu dengan kromosom X juga, maka tidak akan ada yang lebih mendominasi daripada yang lainnya. Maka hipotesis "ibu yang cerdas mewariskan genetika kecerdesan pada anak" akan menjadi meragukan pada anak perempuan.

Jadi, bersedihkah kita kaum perempuan, yang secara teoritis tidak akan cerdas dalam skala "extraordinary" meski ibu kita sangat cerdas? Tentu saja tidak. Di sinilah seharusnya kita semua melihat gambar pertama di atas dengan kebijaksanaan. Bahwa genetika bukan satu-satunya faktor yang menentukan kecerdasan seseorang. Saat SMA dulu, saya ingat pernah belajar tentang suatu debat di kalangan pendidik, psikolog, psikiater, dan profesi terkait mengenai nature vs nurture; yang mana yang sebenarnya paling membentuk kepribadian dan kecerdasan kita. Debat tentang nature atau faktor biologis (genetika, bawaan sejak lahir) dan nurture atau faktor behavioural (cara dibesarkan, dididik, diajarkan). Tentu saja, debatnya panjang. Pertanyaannya, kenapa debatnya bisa sampai panjang? Sebab memang ternyata, ada saja penelitian dan penemuan bahwa keduanya memiliki efek yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pembentukan kecerdasan kita yang sekarang.

Pernah dengar tentang laki-laki yang sejak kecil dibesarkan seekor anjing hutan, sehingga sampai saat ditemukan ketika sudah dewasa, ia tetap bersikap seperti layaknya seekor anjing; berjalan dengan kaki dan tangan, menggonggong, tidak bisa bicara seperti manusia, makan bangkai, dsb? Berita tentang kasus-kasus seperti ini silakan Google sendiri. Seingat saya hal ini sudah beberapa kali diangkat oleh acara TV seperti On The Spot, dsb. Apa yang salah, sementara secara genetika ia jelas-jelas manusia bukan? Dalam contoh ini, nurture membuktikan bahwa ia tetap punya posisi yang sangat menentukan. Tak peduli bagaimana manusianya kita, jika dibesarkan oleh hewan, kita pun akan tumbuh menyerupai tingkah-laku hewan tersebut.

Saya pribadi termasuk penganut nature dan nurture adalah dua hal yang punya peran yang sama besar dalam menentukan kecerdasan seseorang. Menjelaskan alasan ilmiahnya tidak mungkin saya lakukan di sini, tapi ini merupakan kesimpulan setelah belajar Psikologi 3 tahun saat SMA dulu di Melbourne (bahkan Extended Essay saya saja di bidang Psikologi, saking saya begitu tertariknya ke bidang studi ini) dan buku bacaan-bacaan lain terkait Psikologi Perkembangan hingga sekarang. Maka mengatakan kecerdasan adalah warisan? Buat saya itu partial. Sangat "setengah" dari memahami proses munculnya kecerdasan pada anak.

Saya ingin berbagi suatu isi ceramah subuh terakhir di Masjid Baitul Makmur Lampriet, Banda Aceh (atau lebih sering dikenal dengan "Masjid Oman") dalam Ramadan 1435 H lalu di sini. Saya, jujur sangat menikmatinya, sampai-sampai saya sama sekali saya tidak mengantuk mendengarkan ceramah tersebut padahal semalaman i'tikaf di masjid yang sama. Yang menyampaikan ceramahnya? Ustadz Yasin. Mungkin kalau kalian yang baca ini tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya kenal dengan ustadz yang satu ini. Ustadz yang juga sehari-harinya adalah seorang dosen di sebuah universitas islam negeri di Banda Aceh ini memang terkenal cerdas dan enak dalam penyampaian materinya. Beliau mengatakan, dan saya mencoba mengutipnya secara parafrasa seingat saya:

"Siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Kebanyakan kita mungkin akan mengatakan ibunya. Dan begitulah setiap hari kita akan menyalahkan sang ibu, jika anaknya berbuat salah. Atau sang ayah akan marah-marah pada sang ibu, tatkala seorang anak tak bisa cerdas sesuai harapan. Pertanyaannya sekali lagi, sebenarnya siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan sang anak?"

Saya ingat saat itu, saya yang hampir pasang ancang-ancang menopang kepala dengan tangan jika-jika tertidur sebab sangat mengantuk, jadi segar seketika. Saya penasaran.

"Coba buka Alquran, tunjukkan pada saya, mana dari satu ayat saja yang menunjukkan seorang ibu yang sedang mendidik anaknya? Ada? Tidak ada! Sebab ayat-ayat yang ada di Alquran tentang ibu adalah cuma tentang mengandung, menyusui, menyapih susuan, beratnya membesarkan sang anak. Interaksi ibu dan anak yang direkam dalam Alquran adalah tentang hubungan secara emosional seperti kasih sayang, bukan secara kognitif. Tapi di mana bisa kita lihat ada proses pendidikan secara kognitif ini? Mari kita sama-sama buka kembali surat Luqman. Apa isinya? Ya, isinya adalah percakapan Luqman dengan anaknya. Lalu coba kita lihat lagi cerita Nabi Ibrahim dengan Nabi Isma'il dalam banyak ayat di Alquran saat ia akan hendak disembelih, juga antara ayah dan anak. Kemudian coba kita lihat lagi cerita Nabi Nuh, saat hendak naik ke kapal, siapa yang memanggil anaknya untuk turut naik ke atas kapal? Ayahnya. Maka kesimpulannya apa? Wahai kaum ayah, jangan merasa itu tugas kaum ibu untuk mendidik anak-anak. Justru Alquran mengisyaratkan bahwa ayahlah yang paling besar peranannya dalam mendidik anak-anaknya. Lihat bagaimana Luqman mendidik anak-anaknya. Memanggil dengan panggilan sayang (Ya Bunayya), memberikan nasihat-nasihat yang prinsipil dalam agama kita; tentang aqidah, tentang akhlaq, tentang adab pada orang tua. Bukan seperti beberapa kita sekarang, nasihatnya malah tentang harta, "Kalau bapak meninggal, rumah itu begini ya, mobil itu begitu ya"."

Deg! Sirna segala kantuk! Saya juga baru sadar, rupanya! Tak perlu saya jelaskan lagi, kan, tentang genetika ibu cerdas sebagai faktor nature itu ternyata "tak kalah penting" dibanding dengan proses nurture yang rupanya, dalam Islam, justru harus lebih dikuasai dengan baik oleh sang ayah! Ini, belum banyak yang tahu juga, saya rasa. Jadi, kalau mau anak-anak yang cerdas, wahai kalian para perempuan yang merasa belum cerdas-cerdas amat, cerdaskan diri dulu dong. Baca yang banyak. Belajar, sekolah tinggi-tinggi. Kan ceritanya mau mewariskan genetika kecerdasan ke anak-anak toh? Ya kali aja genetikanya bisa altered sebab kita lebih banyak belajar sehingga gen yang altered oleh proses belajar kita itu yang akan diwariskan.

Dan yang paling penting, setelah mencerdaskan diri, jangan lupa pilih calon ayahnya anak-anak kita yang kira-kira punya modal untuk mendidik anak secara kognitif. Standar paling tingginya ya seperti Luqman (semoga Allah memberkahinya). Atau minimal, mendekati atau mau belajar ke arah sana. Baru deh, bisa berharap, anak-anak kita di masa depan nanti cerdas-cerdas. Clear?



Ibu Bekerja

Adalah suatu janji Allah bahwa untuk tiap kebaikan yang kita lakukan, ganjarannya adalah lebih baik dari apa yang dikerjakan, baik lelaki maupun perempuan.

"Barangsiapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik , dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan."
(An Nahl , 16 : 97  , An Nisaa’ , 4 : 124)

Maka satu hal yang harus kita pahami, Islam datang tidak hanya datang untuk mengurusi hak dan kewajiban perempuan, tetapi juga lelaki. Menjadikan perempuan sebagai topik bahasan itu baik, terutama dalam hal rumah tangga dan mendidik anak. Wajar, naluri seorang perempuan, dengan adanya satu set sistem hormon yang dikaruniai Tuhan bernama Estrogen, Progesteron dan Oksitosin, adalah jauh lebih nurturing dibanding lelaki yang tidak punya hormon ini. Saya juga sedang belajar dari berbagai sumber tentang hal ini meskipun saya belum berkeluarga. Sebab pengetahuan adalah sesuatu yang diendapkan, bukan sekedar dibaca malam ini dan diuji esok di ruang ujian.

Tapi saya selalu melihat proses belajar sebagai seorang ibu sebagai suatu kesenangan dan keinginan untuk memperkaya khazanah dan wawasan, bukan semata-mata karena "kewajiban". Karena sekian lama terlibat banyak diskusi dan prahara di macam-macam organisasi, saya belajar bahwa setiap orang bisa saja mengemukakan suatu pendapat yang benar, tapi tidak semua bisa bijaksana dalam menyampaikannya. Termasuk dalam hal "peran ibu" di atas yang beredar di media sosial.

Entah, tak kah kita merasa terusik? Bagaimana perasaan Ibu Walikota Banda Aceh, Walikota Gaza Barat, Ibu Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Ibu-ibu Bidan di Puskesmas, Ibu-ibu Guru di sekolah-sekolah, Ibu-ibu Dokter PTT di berbagai daerah terpencil, Ibu-ibu Perawat yang berjaga di IGD Ibu-ibu pekerja sosial yang sibuk menangani kasus KDRT, dsb profesi yang mengharuskan mereka turun ke masyarakat, kadang, dari pagi hingga malam, bahkan ada yang sampai pagi lagi?

Maksud saya, apa lantas karena mereka bekerja di luar sana, mereka langsung masuk kategori "perempuan yang tidak memenuhi fitrahnya dalam mendidik anak-anaknya dengan baik"? Dan yang paling bikin saya terusik, bahwa kadang-kadang ada yang nyeletuk, bahwa seolah-olah alasan perempuan bekerja adalah karena faktor finansial. Bahwa seorang istri bekerja adalah karena ia ingin membantu penghasilan suaminya. Bahwa jika alasannya itu, biarlah sang suami saja yang bekerja lebih ekstra, karena memang itu kewajibannya. Jika alasan seorang istri bekerja "sedangkal" dan "cuma tentang uang dan materi" begitu, saya juga sepakat itu tidak pantas sama sekali!

Sebab seharusnya kita melihat perkara ini dengan pandangan yang lebih luas. Kalau perlu, posisikan diri kita seperti sedang duduk di bulan; terlihat bumi dengan seutuhnya. Secara logika saja, perbandingan populasi laki-laki dan perempuan di mana-mana sering adalah 1 : 3. Jika laki-laki saja yang kita andalkan untuk menjalankan pemerintahan, perdagangan, sosial budaya, sastra bahasa, kesehatan, pendidikan formal, vokasi, dan lain-lainnya yang penting agar kehidupan bermasyarakat tetap terjaga tatanannya (bahkan jika perlu, agar bisa Madani seperti tuntunan Islam), maka sudah pasti mereka tidak akan sanggup. Secara angka. Belum lagi secara kualitas dan kompetensi. Apakah jumlah lelaki yang terbatas itu semuanya memang memiliki kompetensi dan kualitas yang memadai untuk menjalankan sistem tatanan masyarakat (baik lokal maupun global) yang diharapkan? Atau dari jumlah yang sudah sedikit itu, masih banyak juga yang tidak (mau) sekolah, tidak (mau) bekerja, dsb yang menurunkan kompetensi dan kualitas mereka?

Izinkan saya mengutip status Facebook ketua umum Forum Lingkar Pena, Sinta Yudisia, pada tanggal 1 September 2014 yang lalu:

Kenapa Harus Ummi?

"Aku berterima kasih pada Ibu, karena telah mendidik lelaki, dan mengizinkan aku mendampingi seseorang seperti Hasan al Banna," demikianlah kurang lebih Lathifah as Shuli menghibur mertuanya, di hari bumi memeluk jasad terkoyak tubuh bersarang peluru-peluru.

Aku ingin mengucapkan itu juga pada abah ummi -mertua- yg telah menjadi bagian hidupku, menghantarkan seorang lelaki , Qowwam dakwahku.

Dihari tawaran ke Palestina itu datang padaku, pertanyaan yg muncul adalah, "kenapa harus Ummi? Banyak lelaki, wartawan, sudah kesana. Ummi bisa menuliskannya."

Kukatakan, mata dan jiwa perempuan akan berbeda dari sudut pandang lelaki. Aku ingin melihat, merasakan, meresapi, bagaimana para ibu menjadikan Quran sbg mata panah, mata kepala, mata pena bagi anak-anaknya. Dan, tak pernah kusesali perjalanan tandus menembus gurun Sinai. Melintasi el Arish. Bersabar di Rafah. Kuingat pesan suamiku.

"Jika itu perjalanan keimanan, maka berangkatlah."


Sejak saya baca status di atas, saya tambah doa pada Allah untuk seseorang yang suatu hari nanti akan menjadi imam saya dalm rumah tangga. Bahwa ia juga menjadikan landasan pemberian izin jika hendak pergi kemanapun dengan ruh yang sama; jika itu perjalanan keimanan, maka berangkatlah. Dan lihatlah alasan kenapa akhirnya Mbak Sinta berangkat ke Gaza; mata dan jiwa perempuan akan berbeda dari sudut pandang lelaki! Hal inilah yang sekiranya harus kita renungkan bersama-sama. Bahwa memang ada fungsi di tatanan masyarakat yang lebih baik dijalankan oleh seorang perempuan, karena sudut pandang yang tak bisa dipungkiri, akan berbeda! Tak heran, lebih banyak kita temui perawat perempuan daripada lelaki, sebab perempuan lebih punya naluri yang telaten dalam merawat. Tak heran pula, lebih banyak guru PAUD dan TK yang perempuan, karena perempuan lebih tahan terhadap tantrum dan teriakan anak-anak. Dan masih banyak profesi lain yang kadang-kadang, memang harus ditempati oleh perempuan sebab yang lelaki tidak/belum ada yang memenuhi kompetensi tersebut.

Lantas, jika saya bekerja, atau sekolah jauh-jauh, anak saya bagaimana? Buat apa saya sekolah tinggi-tinggi, tapi anak saya dijaga oleh seseorang yang bahkan tidak lulus SMA di rumah; dididik oleh seseorang yang tidak sekapasitas saya?

Buat yang bertanya seperti di atas, mari, kita bijaksanai.

Kalau memang profesimu memberi kontribusi kepada ummat dan bangsa, lanjutkan! Sekolah tinggi-tinggi hingga ke luar negeri, jalankan! Apapun itu untuk membenahi ummat dan bangsa ini, laksanakan! DENGAN CATATAN, bahwa anda tidak mengontradiksikannya dengan peran anda sebagai istri dan ibu!

"Jadi ibu rumah tangga itu kewajiban, bukan cita-cita. Cari cita-cita lain.", begitu kata seorang mentor spiritual sekaligus dosen saya di FK Unsyiah, dr. Rosaria Indah, M.Sc. Jelas, beliau mengajarkan untuk tidak meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga, namun juga jangan sampai tidak memberi kontribusi bagi bangkitnya peradaban dalam makna yang lebih luas.

Kalau yang kita khawatirkan adalah anak-anak kita, tak kah kita khawatir jika guru-guru TK, SD, SMP dan SMA mereka nanti habis semua atau tinggal sedikit (yang laki-laki saja); sebab semua memutuskan berhenti dan menjaga anaknya masing-masing di rumah saja?

Kalau yang kita khawatirkan adalah anak-anak kita, tak kah kita khawatir tentang anak-anak yang tak punya ibu seperhatian kita, sebab keluarganya terlibat kasus narkoba, perceraian, dan KDRT? Mereka yang harapannya tinggal pada ibu-ibu yang bekerja di Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, harus dibiarkan terlantar sebab ibu-ibu itu pun pulang ke rumah dan cuma menjaga anak-anaknya masing-masing saja?

Lalu jangan juga protes, jika semua dokter kandungan tinggal yang laki-laki, sebab semua dokter yang perempuan juga sudah di rumah, menjaga kesehatan anak-anaknya saja.

Saya rasa pendapat saya sudah bisa anda rasakan maksudnya bagaimana, bukan?

Jangan pernah membuat seolah-olah bekerja (demi ummat dan bangsa terutama) itu tidak bisa sejalan dengan mendidik anak-anak dengan baik. Bukankah kita sepakat, kualitas cinta itu lebih penting daripada kuantitas? Betapa banyak, maaf, ibu-ibu yang tinggal di rumah sepanjang hari namun anak-anaknya tetap saja tak mengalami perubahan apa-apa? Sementara sebagai contoh, dosen saya yang saya kutip ucapannya di atas, meski sibuk sebagai dosen dan dokter, anak-anaknya tetap cerdas, berani tampil ke depan, pintar baca puisi, menghafal Alquran secara rutin, dan beberapa prestasi lainnya. Padahal ibunya tidak "tinggal di rumah sepanjang hari".

Jangan samakan Indonesia dengan Jepang. Kalau saya tinggal di sana, saya juga mau jadi Kyoiku Mama. Di sana, tatanan masyarakatnya sudah lebih stabil dibanding Indonesia. Dan mereka yang ingin jadi Kyoiku Mama pun diberi dukungan oleh pemerintahnya. Di Kanada juga hampir mirip. Cuti melahirkan dan menyusui bisa sampai 6 bulan bahkan 2 tahun. Kalau perlu, suaminya juga diberi cuti. Kita? Saya rasa juga kita semua tahu jawabannya apa.

Maka menjadi moderat-lah, sebab Islam mengajarkan demikian. 

Aisyah ra., sebagaimana istri Rasulullah saw lainnya, harus selalu dalam keadaan bertabir dan tidak boleh dilihat oleh siapapun kecuali mahramnya. Tapi ketika kondisi membutuhkan, beliau juga muncul di medan Perang Jamal.

Khadijah ra., seorang perempuan dengan bisnis skala internasional. Berinteraksi dengan banyak pihak demi kepentingan bisnisnya. Namun ketika suaminya menggigil, ia tetap ada di sana menyelimutinya.

Dan masih banyak contoh lainnya. Tugas kita bukan membentrokkan hal-hal seperti di atas. Tugas kita adalah membuat segalanya mungkin. Dan kalaupun ada yang tetap ingin menjadi ibu rumah tangga saja setelah sekolah tinggi-tinggi, maka itu adalah haknya. Saya juga pun mengapresiasi keputusan itu. Sebab tidak perlu semua turun ke dunia di luar sana, sebagaimana tidak pula semua laki-laki juga turun ke ranah yang sama. Tapi jika kita sebagai perempuan merasa, bahwa ada  kompetensi tertentu sangat terbatas dan itu ada pada kita, semoga Allah memudahkan kita dalam menjalani peran ibu rumah tangga sebagai kewajiban, dan Allah mudahkan pula dalam peran kita bagi ummat dan bangsa ini. Agar purna fungsi kita; tak sekedar ibu dari anak-anak di rumah, tapi juga ibu bagi peradaban ummat dan bangsa di masa depan. Amin.


Lamkeuneung, 10 September 2014



19 comments:

  1. Salam nuril, tulisan yang mencerahkan ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa'alaikumussalamwrwb, terima kasih sudah bertandang ^^b

      Delete
  2. Thanks Rin Chan ilmunya. Diriku setuju, dukungan terhadap ibu bekerja kurang. Namun dengan keyakinan dan kerja terus menerus,, semua mungkin ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama Piya sayang, moga jadi self-reminder buat diriku juga, insya Allah. Amin. :')

      Delete
  3. Setuju rin, ga ada komentar lain. Cukup itu aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Semangat kak Liza, semoga lahirannya lancar ya, bisa jadi supermom juga, amin! ;D

      Delete
  4. Mantap ... Sebagai kaum laki2 mesti banyak2 perbaiki diri sebelum menjadi seorang ayah ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yua! Kita semua harus sama-sama perbaiki diri insya Allah, perempuan, laki-laki. :)

      Delete
  5. "Menjadi Ibu rumah tangga itu kewajiban, bukan cita-cita... " setuju dengan pendapat ini, semua ibu-ibu yg bekerja itu tetap menjadi ibu rumah tangga.
    tulisan yang sangat inspiratif kak Rin.. salam super :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam super juga buat ummu Raushan yang kece badai tetep nulis meski uda punya anak ^^b

      Delete
  6. mbak.
    bagus sekali ulasannya. saya ibu dua anak. saya sgt byk kkurangan dan
    sdg mprbaiki diri. klau saya lihat, tdk mgkn anak2 saya mdpt tladan
    akhlak aqidah dr ayahnya. bgmana jk peran ismail,luqman dan nuh itu saya
    ambil? mgkinkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah indahnya perempuan yang Allah ciptakan. Ia dikaruniai kemampuan multi-tasking yang kadang jg berguna untuk proses pendidikan anaknya. Iya, untuk mendidik seorang anak, dibutuhkan kasih sayang (emosional) dan pendidikan (kognitif). Dan ketika sang ayah tidak bisa memberikan jatah kognitif seperti yang digambarkan dalam Alquran, maka jika sang ibu bisa menggantikannya, silakan. Itu hak sang anak. Dan di sinilah sepertinya kenapa banyak perempuan akhirnya memutuskan tidak bekerja lagi; lelah sekali menjadi sosok emosional dan kognitif secara bersamaan begitu. Mungkin itu juga ibrahnya Allah menunjukkan isyarat pemisahan fungsi ini di dalam Alquran. Tapi seperti sebuah kaidah ushul fiqh berkata, adh-dharuratu tubihu mahdhurat; kondisi emergency membolehkan (memubahkan) yang tidak boleh. Misalnya dalam keadaan terdampar di hutan dan tak ada makanan lain selain babi, maka memakannya hukumnya saat itu mubah, cuma untuk menyambung hidup. Mungkin, demikianlah juga dengan fungsi emosional dan kognitif itu; menjadi suatu nilai plus jika seorang ibu bisa mengcover kedua-duanya meski tidak harus sebenarnya. Contohnya dalam shirah? Ummu Sulaim (seorang wanita Anshar yang masuk Islam) yang mengajarkan syahadat pada Anas bin Malik (bahkan menanamkan cinta belajar tanpa harus peduli perasaan ibunya, dititipkannya Anas pada Rasulullah saw serta mengajarkannya untuk menjaga rahasia, maka tak heran kemudian Anas bin Malik terkenal sebagai seorang sahabat yang paling bisa menjaga rahasia), sebab suaminya Malik bin Nadhar masih belum beriman saat itu. Wallahu a'lam. :)

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Menarik sekali pembahasannya ^_^, penafsiran kata "walud" dan "wadud" menjadi semakin jelas maksudnya.

    http://www.catatanfiqih.com/2014/08/memilih-calon-istri-yang-ideal.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, pada dasarnya uda diatur dalam Islam, kita cuma menemukan hikmah-hikmahnya saja kemudian :)

      Delete
  9. Sangat menginspirasi...saya blm menikah namun kelak semakin punya keyakinan ketika saya berumahtangga nanti saya tetap ingin bekerja....karena bukan cita cita saya menjadi IRT tapi itu kewajiban saya....dahsyat Kak Nissa....pgn belajar nulis spt anda rasanya.. terima kasih

    ReplyDelete
  10. terimakasih dek nurul..mengobati sedikit luka hati , tinggal di dalam atau pun harus ke luar rumah, seorang perempuan tetap luar biasa :)

    ReplyDelete
  11. Mantap kali, Rin. Tidak semua yang hanya menyandang gelar ibu rumah tangga itu menjadi orang tua ideal. Tidak pula semua yang berkarier itu tak ideal. Semua tergantung dari kepahaman seorang wanita tentang hak dan kewajibannya.

    ReplyDelete