Monday, September 1, 2014

Puisi; Aku Ingin Bertanya (Peringatan Hari Anak Nasional oleh Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banda Aceh)


Aku Ingin Bertanya
Oleh : Nuril Annissa (28 Agustus 2014, 07:45 WIB)
*Puisi ini dibacakan dalam Peringatan Hari Anak Nasional 
 Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Banda Aceh



Apa itu layang-layang, Ayah?
Sepanjang hari di sekolah, si Ahmad terus-menerus bercerita tentang layang-layangKata ayahnya, membuatnya mudah
Cuma perlu bambu, pisau, kertas layang-layang, lem
Kucari-cari di Playstore dalam Tab yang ayah belikan, tak ada aplikasi yang namanya seperti itu

Apa itu nasi minyak, Bunda?
Di Kursus Bahasa Inggris yang Bunda daftarkan untukku, Aminah cerita
Katanya enak sekali, tiada taranya
Pakai telor ceplok, lagi luar biasa
Kucari-cari di Google menggunakan Wi-Fi yang Bunda pasang di rumah kita, tak paham juga aku, Bunda

Apa itu rumah pohon, Ayah?
Kata si Arif, anak pedagang siomay dekat sekolah, dia menyimpan mainannya di sana
Kalau pulang sekolah, dia sering di situ, tidur siang
Mana seimbang otak kiri dan otak kanannya, kan Yah?
Sebab agar sukses, kita harus sekolah dan les musik sampai malam, seperti kata Ayah kan, Yah?

Apa itu celengan ayam, Bunda?
Kata si Aisyah anak penjaga sekolah, dia sedang menabung di situ
Dia bilang, Maknya yang suruh
Biar nanti kalau sudah banyak, dia bisa naik pesawat seperti cita-citanya, begitu kata Maknya
Kalau kita, bagus menabung di tabungan anak-anak di bank saja, begitu kata Bunda, kan Nda?

Apa itu Eungkot Paya, Ayah?
Kata si Rahman, anak pembantu kita, dia sering ke sawah untuk mencarinya
Bersama ayahnya, dia akan kotor sekali kalau sudah dapat Eungkot Paya
Berkubang-kubang dalam lumpur, dari pagi sampai siang, kalau perlu sampai sore!
Apa tidak gatal-gatal ya? Air sawah itu kotor sekali kan, Yah?

Bunda, Ayah, dengarkah engkau akan pertanyaan-pertanyaanku?
Punyakah engkau jawaban-jawabannya?
Atau aku hanya harus tetap mencari jawabannya sendiri?
Atau paling jauh, aku tanyakan nanti pada guru di sekolah saja?
Tapi nanti pasti ditertawakan,
Pasti hanya akan dijawab, “Pulang ke rumah nanti, tanya sama orang tuamu saja ya.”
Tiap kali Bu Guru berkata begitu, aku rasanya ingin sekali menjawab,
“Ayah dan Bunda selalu pulang dalam keadaan kelelahan.
Mereka biasanya langsung tidur setiba di rumah.
Beberes dan lain-lain, memang sudah dilakukan oleh pembantu kami.
Aku tak berani mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku lagi.”

Meskipun sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengan mereka
Bertanya apapun yang aku mau
Mendapatkan semua jawaban yang aku inginkan
Kadang-kadang aku berkhayal,
Bisa tertawa-tawa seperti Ahmad, memamerkan layang-layang buatan Ayah di sekolah
Membanggakan nasi minyak buatan Bunda pada Aminah
Menceritakan rumah pohon hebat yang Ayah buatkan untukku
Memecahkan celengan bersama Bunda, lalu menghitung uangnya satu-satu
Dan kalau memungkinkan, membenamkan kaki ke dalam sawah sambil diajarkan Ayah mencari Eungkot Paya

Tiap hari setiap selesai shalat, aku berdoa seperti diajarkan ustadz yang Bunda datangkan ke rumah
Agar Ayah dan Bunda selalu sehat dan bahagia
Tapi diam-diam kutambah sendiri doanya
Aku mohon pada Allah,
Satu hari, satu hari saja,
Ayah dan Bunda tidak terlalu kelelahan
Tak apa tak tentang layang-layang
Tak apa bukan tentang nasi minyak
Ya sudah jika tak sempat bahas celengan ayam dan rumah pohon
Apalagi jika harus turun ke sawah mencari Eungkot Paya, tak apa
Aku hanya ingin bertanya
Bicara
Menceritakan khayalan-khayalanku pada Ayah dan Bunda
Cuma bicara, aku janji, sehari saja,
Lalu aku janji, tak akan ganggu Ayah dan Bunda lagi,
Sehari saja,
Kabulkan doaku ya Allah, Amin.






No comments:

Post a Comment