Wednesday, November 25, 2015

Ternyata Tidak

Dulu, kukira cinta adalah tentang saling cemburu-cemburu lucu di ujung hari.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk membuang jauh-jauh bisikan-bisikan syaithan yang menguji saling percayanya kita meski terpisah beberapa kabupaten setiap harinya.

Dulu, kukira cinta adalah tentang memberi pelukan hangat di setiap ujung malam sebelum tidur.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk menyuburkan ikatan kita dengan doa dan cukup senyum-senyum sarat harapan ingin bertemu di hadapan handphone masing-masing.

Dulu, kukira cinta adalah tentang tertawa bersama dari pagi hingga pagi lagi.
Ternyata tidak. Kau tak pernah mengajarkan hal ini, tapi aku tidak pernah sadar kapan air mataku mulai jatuh dan berhenti saat baru mendengarmu berkata, "Assalamu'alaikum" dari ujung komunikasi telepon. Suaramu menembus telingaku; menembus dasar hati yang tak bisa pura-pura tegar menghindari rindu.

Dulu, kukira cinta adalah tentang melewati masa-masa penantian lahirnya buah hati dengan kelakarmu pada perutku - tempat di mana janin cinta kita berkembang - bahwa kau akan atau sudah pulang kerja.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk berbaik sangka pada Tuhan bahwa calon anak kita akan tumbuh sebagai jiwa yang teguh dan tak mudah mengeluh, dibimbing dan dilindungi oleh Penciptanya langsung dan bukan sekedar oleh orang tuanya yang fana dan banyak kekurangan.

Dulu, kukira cinta adalah tentang kau langsung panik dan membawaku ke dokter jika ada hal-hal tak lazim terjadi semasa perkembangan calon buah hati kita.
Ternyata tidak. Aku sudah lebih dari bahagia sebab masih bisa mendengar suara khawatirmu dari jauh sambil kuterka-terka raut wajahmu saat itu. Harus bisa berlapang dada mendengar nasihat-nasihatmu untuk bersabar atas ujian yang hadir di tengah masa-masa penantian ini...dari suara nun jauh di ujung telepon.

Dulu, kukira cinta adalah berada di sisimu setiap waktu. Melihat wajahmu sebagai pembuka pagi atau penutup hari.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk selalu saling menatap dan menggenggam tangan dalam makna cinta yang sesungguhnya. Menghadap Tuhan yang sama, berdoa pada-Nya sebagai penghubung hati kita satu-satunya.

Dulu, kukira cinta adalah menyerah jika tidak bersama secara raga.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku mencintai dengan sesuatu yang lebih murni; ianya jiwa dan nurani. Bahwa sejumlah kilometer tidak akan pernah bisa membuat mataku renggang dari matamu dalam ruang kasih sayang suci kita.

Dulu, kukira aku tidak akan pernah bisa berada dalam satu biduk kasih sayang dengan seorang lelaki.
Dulu, kukira aku hanya bisa patah hati.
Dulu, kukira aku tidak akan pernah bisa mulai jatuh cinta lagi.
Dulu, kukira aku tidak akan pernah merasakan cinta sedalam ini.
Ternyata tidak. Semakin aku jauh darimu, semakin aku ingin pulang; jika ada kata di atas cinta dan rindu yang menjadi konsekuensinya, maka inilah ia.

Mendadak, Eropa tak lagi terasa romantis.
Asia Timur tak lagi terasa modern.
Amerika tak lagi terasa tempat paling bisa berekspresi diri.
Kini hanya ada satu tempat yang aku hargai lebih dari segala lokasi indah lain di dunia;
Di sisimu.


Tapaktuan, 25 November 2015.
Dariku dan calon belahan cinta kita yang kini berusia 16 minggu.

Sunday, August 23, 2015

Modernitas itu Sa(la)h!



+




Selamat datang di Indonesia. Di mana pengguna media sosialnya mencapai 72 juta jiwa dan digadang-gadang sebagai salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Dengan persentasi yang kurang lebih 29% dari seluruh populasinya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling bisa stay updated tentang apa yang terjadi di seluruh belahan bumi. Tak jarang, world wide trending topic (topik yang sedang trendi di seluruh dunia) di media sosial Twitter misalnya, akan muncul dari akumulasi tagar-tagar dari pengguna Twitter di Indonesia, bahkan menggeser popularitas isu-isu yang berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Dengan paket data internet yang termasuk murah dan mudah didapat, maka “generasi merunduk” yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing adalah pemandangan yang sudah lumrah.1
Mari bersama kunjungi Indonesia. Di mana pengendara kendaraan bermotor pribadi lebih banyak daripada transportasi publik. Dan jumlahnya terus bertambah. Statistik terakhir tahun 2014 menunjukkan peningkatan bahkan 11% dibanding dengan tahun sebelumnya2. Harga kendaraan-kendaraan tersebut yang tidak murah bukan menjadi penghalang dengan segala macam sistem pembayaran kredit yang tersedia. Bahkan anak-anak SMP dan SMA pun hari ini bisa mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sepeda motor dari orang tuanya; jangan tanya bagaimana mereka bisa punya akses ke Surat Izin Mengemudi. Sebab di berbagai tayangan di televisi, anak seusia mereka bahkan pergi ke sekolah naik mobil dan tidak pernah tampak mengerjakan pekerjaan rumah – mereka lebih sibuk memperebutkan pacar dan jalan-jalan.
Ayo bertamu ke Indonesia. Di mana acara infotainment tentang selebritas ternama – atau yang sedang cari nama – ditayangkan di televisi seperti dosis minum obat dari dokter; tiga kali sehari. Pagi, jelang siang, dan sore hari. Tanpa harus membayar lebih dari sekedar biaya listrik untuk menyalakan televisi, saluran-saluran televisi swasta tak berbayar akan menampilkan siapa sedang berkencan dengan siapa, siapa baru membeli mobil mewah baru merk apa, siapa yang baru bercerai dengan siapa, dan siapa yang baru melahirkan anak keberapa – yang terakhir lengkap dengan napak tilas perjalanan proses persalinannya. Guyonan hari-hari pengguna media sosial pun tidak jauh dari tokoh-tokoh yang diberitakan di infotainment tersebut. Sambil berkendara sepeda motor pun – itu pun sambil “bonceng tiga” atau “empat” – banyak orang bisa menertawakan tokoh-tokoh tersebut dalam skala harian. Atau tergantung sensasi yang muncul dari berita tersebut.
Silakan bertandang ke sini, ke Indonesia. Di mana yang mengenakan tank top, jogger pants, crop top dan lain gaya fashion sejenis lebih umum ditemui daripada yang mengenakan baju kurung, kebaya, teluk belanga dll. Di mana pemaknaan “jangan melupakan budaya” sering kita dengarkan terutama jika ada festival/ hari besar nasional. Lalu cara salam cium tangan pada yang lebih tua bukan yang bukan lagi dengan cara dicium secara takzim atau diletakkan di kening, melainkan di pipi – mungkin agar gincu dan perona pipi dan wajahnya tidak ternodai oleh tangan orang lain.
Dan kebanyakan kita merasa inilah Indonesia yang modern. Indonesia serba canggih, KTP kita saja kini sudah elektronik. Masa penuh kemudahan teknologi. Bahwa setiap warganya seharusnya bervisi menjadi pribadi yang futuristic, mulai dari kanak-kanak hingga para lansia. Memiliki kendaraan pribadi dan gadget sudah bukan lagi kebutuhan sekunder atau tertier, melainkan primer – kalau bukan menandakan status sosial. Menjadi bagian dari sebuah kelompok sosialita adalah sebuah identitas berharga – tak jarang hal ini menjadi tolak ukur kesuksesan. Terpapar sejarah bangsa hanya saat ada hari libur nasionalnya; itu pun kadang sebatas Hari Kartini dengan perayaan mengenakan kebayanya, Hari Pendidikan Nasional dengan upacara di lapangannya, dan begitu seterusnya. Baru sejarah nasional dan kita alpa banyak. Apalagi sejarah internasional. Tak heran, ketika Nelson Mandela wafat tanggal 15 Desember 2013 lalu, ada banyak sekali komentar di media sosial dari para generasi yang katanya melek teknologi ini mengatakan, “Siapa sih, Nelson Mandela? Udah mati baru terkenal.”3.
Maka seharusnya muncullah sebuah pertanyaan dalam pikiran kita jika masih memiliki barang secuil moralitas dalam diri kita, apakah ini yang disebut menjadi modern? Mengapa saat hidup semakin dimudahkan oleh berbagai kemajuan secara sains dan teknologi, kita malah sepertinya semakin mengalami kemerosotan dalam hal respect dan kebijaksanaan terutama dalam hal berbangsa dan bernegara? Mengapa kebanyakan yang – katanya – menjalani kehidupan secara modern ini tidak lagi menghiraukan kebajikan-kebajikan yang digariskan oleh agama; bergosip melalui tontonan, kicauan-kicauan dan status di dunia maya, melanggar arahan pemerintah (ulil amri) dalam banyak hal termasuk lalu lintas, dsb. Mengingat bahwa agama mayoritas di Indonesia adalah Islam, hal ini semakin menggelisahkan; ke mana rasa “rahmatan lil ‘alamin” yang dijanjikan Allah dan Nabi Muhammad saw jika kita memeluk dan menjalankan Islam? Sementara makin hari makin canggih era yang kita jalani, semakin miris hati kita melihat seks bebas, penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras, debat kusir, caci-mencaci sesama ummat, perpecahan dalam badan kaum muslimin, dan masih banyak fenomena negatif lainnya terjadi. Ini adalah sesuatu yang kerap jadi bahan pemikiran para pemimpin, ulama, pendidik, orang tua dan pihak-pihak lain temui di lapangan.
Maka salah siapakah ini? Salahkah dunia Barat yang memberi efek buruk pada bangsa kita? Salahkah budaya-budaya non Indonesia tersebut yang meracuni anak cucu kita? Salahkah Indonesia membuka diri bagi yang disebut modernitas ini? Salahkah jika kita memutuskan hidup dalam semua kemudahan teknologi ini; menjalani “bid’ah”, sebab tak pernah Rasulullah saw mencontohkan bertransportasi dengan kendaraan bermotor, menonton televisi, berpakaian warna-warni dengan model yang bukan datang dari Arab Saudi?

Apa itu “Modern”?

Barangkali salah satu penyebab salah kaprahnya kita menjalani hidup yang modern adalah sebab kita belum begitu memahami esensi dari menjadi modern itu sendiri. Istilah modern baru banyak digunakan sejak dunia Barat mengklaim mulai bangkit dan maju dalam hal sains, industri, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya dalam beberapa dekade terakhir ini, terutama sejak awal abad ke-19. Bahkan ada pula beberapa sumber yang mengatakan bahwa ada era yang disebut dengan “pre-modern” atau “early modernity” yaitu masa-masa menjelang modernitas menguasai Eropa yaitu sekitar awal abad ke-14 hingga abad ke-164,5. Tentu saja kita semua ingat dan bisa kembali membaca sejarah mengenai The Renaissance yang terjadi di Eropa, di mana salah satu karakteristik paling menonjol adalah sekularisasi antara agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Eropa yaitu Kristiani, dengan sistem pemerintahan. Tentu saja kita harus memahami bahwa sebelum era sekularisasi itu terjadi banyak sekali pengekangan oleh gereja terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap bertolak belakang dengan pemahaman yang dianut secara umum pada saat itu. Salah satu contoh yang kita semua mungkin pernah baca adalah Galileo Galilei yang dihukum dengan pengucilan hingga meninggal sebab mengatakan bahwa bumi ini bulat dan bahwa pusat tata surya adalah matahari berdasarkan penelitian dan observasi ilmiah yang dilakukannya. Baru di tahun 1992 namanya dideklarasikan bersih oleh Paus Yohanes Paulus II setelah dianggap bersalah sejak tahun 16336!
Ada beberapa karakteristik lain yang dikatakan identik dengan era modernitas di Eropa dan dunia Barat secara umum hingga saat ini. Termasuk ke dalamnya unsur demokrasi, birokrasi, rasionalisasi, subjektivitas, individualisme, urbanisasi dan global citizenship4,5. Mengutip dari beberapa pemikir Barat yang menjadi cikal bakal dari Theories of Modernity, yaitu Locke, Kant, Hegel, hingga Karl Marx, seseorang dikatakan modern jika ia berada dan memahami dirinya ada di masa kini, dan yang paling penting adalah ia hidup sebagai seorang individu yang tercerahkan di mana ia menggunakan akal pikirannya untuk merasionalisasikan segala persoalan kehidupan berdasarkan pertimbangan moral demi kemajuan perkembangan dirinya sendiri dan masyarakat sebagai suatu kesatuan4.
 

Menjadi Modern dan Berislam; Mungkinkah?

Maka timbullah pertanyaan, demi perkembangan diri dan masyarakat yang lebih baik dan modern, haruskah kita melakukan apa yang dilakukan oleh bangsa Eropa di abad-abad terdahulu; meninggalkan agama Islam yang notabene adalah agama mayoritas di Indonesia dan menjalankan pemerintahan tanpa menimbang-nimbang masukan yang bersifat Qurani lagi?
Mari kita membaca lagi tentang bagaimana Rasulullah saw membangun suatu masyarakat yang strukturnya kokoh hingga disebut dengan istilah “madani”. Adakah pembatasan perkembangan ilmu pengetahuan? Adakah pemaksaan pemelukan agama Islam? Lalu mari telusuri lebih jauh lagi, di masa-masa gemilangnya Islam menguasai hampir 2/3 dunia. Apakah tak ada warisan teknologi dan keilmuan yang kita rasakan? Adakah tidak kita membaca kisah-kisah di mana sistem maal berjalan dengan sangat baik sehingga zakat tak tahu lagi didistribusikan ke mana sehingga akhirnya diberikan kepada para pemuda yang belum menikah agar bisa dijadikan mahar. Adakah kita lupa siapa bapak dunia kedokteran yang memberikan banyak insight mengenai anatomi manusia di saat CT-scan, MRI dan alat scan lainnya belum ada; yaitu Ibnu Sina atau Avicenna. Apakah kita tak pernah membaca sastra-sastra tentang Seribu Satu Malam, atau minimal senang mendengarkan lantuan Al-I’tiraf; yang ditulis oleh Abu Nawas?
Maka pada hakikatnya, sepanjang sejarah yang pernah ada, Islam yang dijalankan dengan baik secara sistematis, hampir tidak pernah mengecewakan hati dan pikiran. Dan jika yang kita sebut dengan modern adalah perkembangan ilmu dan pengetahuan, Islam pernah membuktikan kemajuan itu semua tanpa memisahkan agama dan pemerintahan.


Modernitas itu Sa(la)h?

It is easy to blame everything on The West. When in fact all focus should be on ourselves.”
-          Maher Zein
Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa era modern ini adalah racun bagi generasi muslim hari ini. Bahwa semua kecanggihan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin sejalan dengan menjalankan perintah agama.
Maka jika ada yang mengatakan demikian, saya adalah yang paling depan mengatakan, bahwa kita hanya memahami Islam secara parsial. Sebab sejarah sudah membuktikan itu mungkin dan tidak akan bersebrangan. Untuk apa Allah menyebut berkali-kali dalam Alquran agar kita berpikir, menggunakan akal, mengembarai buminya agar melihat kebesaran-Nya. Bukankah itu semua agar kita belajar dan menemukan hal-hal baru sehingga rasa syukur kita semakin besar pada-Nya?
Bahwa jika menjadi modern adalah sama dengan meninggalkan identitas keislaman dan mengejar kesuksesan tanpa nilai-nilai spiritual di dalamnya, benar, itu adalah kesuksesan yang gersang. Bahwa jika menjadi modern adalah hanya mengedepankan warna dan bentuk pakaian tanpa memperluas pikiran, iya itu salah. Bahwa jika menganggap bahwa semakin menutup aurat adalah semakin tidak butuh kita memperluas bacaan, itu juga tidak benar.
Bukankah Islam mengajarkan kita untuk senantiasa seimbang?
Bukankah Rasulullah saw selalu mengarahkan kita untuk selalu bersikap wasatha atau di tengah-tengah?
Adalah sebuah kesedihan jika kita melihat generasi muda Islam dijauhkan dari pendidikan cuma karena kita takut mereka akan berpikir secara “Barat” dan lalu menjadi kafir. Betapa jika demikian, seharusnya Mush’ab bin Umair dahulu tidak sepantasnya dikirim ke Madinah saat masih belia untuk berdakwah ke sana sebelum Rasulullah saw berhijrah ke sana; ia belum mampu. Ada slot pembelajaran yang diberi oleh Rasulullah saw pada Msuh’ab pada saat itu. Kita menyebutnya field trip, excursion, penugasan outdoor dsb. Maka jika kita perhatikan, Aisyah ra juga senantiasa dibiarkan belajar banyak hal dari suaminya, bahkan diladeni semua pertanyaannya sehingga menjadi jawaban dan ilmu di masa saat Rasulullah saw lalu tiada. Dan itu juga di usia muda.
Maka sebenarnya menjadi modern itu hanya akan sah jika kita paham bahwa sepanjang Islam menjadi panji sebuah pemerintahan tanpa dipisahkan dari esensi aqidahnya, maka kita hanya akan merasakan kemanisan peradaban seperti saat kekhalifahan dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-rasyid, Abdurrahman Ad-Dakhil, Muhammad Al-Fatih, dll.
Sementara itu modernitas adalah sebuah kesalahan jika kita memandangnya dengan kacamata sekular; bahkan lebih parah lagi jika dengan kacamata individualis berlebihan. Suatu hari saya pernah mendengar seorang teman menceritakan bahwa ada yang berkomentar mengenai cara saya berpakaian dan berperilaku, bahwa saya ternyata tidak “selebar” kerudung saya. Saat itu saya mulai sadar bahwa begitulah ummat memandang mengenai modernitas hari ini. Bahwa stereotype yang beredar adalah semakin religius seseorang, maka semakin kolotlah pemikirannya. Semakin tertutuplah mata wawasannya. Semakin tak asyik-lah ia jika diajak berdiskusi. Sehingga ketika ada yang berkerudung lebar tapi tetap mau berdiskusi sekitar konsep modernitas, itu adalah sebuah kontradiksi.
Padahal Islam sudah hadir memberi semulia-mulia definisi modernitas, yaitu melepaskan diri dari segala stigma dan budaya yang tidak logis ke arah jalan yang setiap belokannya hanya berisi kebaikan semata. Membuat laki-laki tidak seangkuh dan sembarangan pada keluarganya lagi. Membuat budak sahaya mendapat kemerdekaan abadi dalam dirinya. Membuat semua orang dinilai hanya dari keimanan dan kontribusinya bagi kebaikan, bukan atas dasar kasta dan status sosial. Dan salah satu yang paling penting, membuat perempuan tak lagi dikubur hidup-hidup dan boleh berpendapat seperti dengan cara menulis seperti ini.
Dan bagi yang masih menyalahkan Barat untuk memberi konsep modernitas yang salah bagi generasi muda hari ini, mari kita ambil cermin dan berkaca bersama-sama. Apakah memang benar semua kemerosotan moral terjadi sebab semua salah orang lain, ataukah kita yang lalai dan mulai menjauh dari memahami Islam beserta seluruh sejarah peradabannya yang pernah sangat gemilang itu.
Maka dengan ini saya mengembalikan lagi kepada kita semua, apa sebenarnya konsep modernitas bertolakbelakang dengan apa yang Islam ajarkan pada kita semua. Nurani yang jujur tentu akan melihat bahwa Alquran dan Hadits memberi banyak sekali isyarat bahwa memperbaharui pengetahuan dan membebaskan diri dari segala pengaruh negatif stigma dan stereotype sebagai bagian dari konsep modernitas adalah sebenarnya konsep Islam itu sendiri. Dan Allah Maha yang Lebih Mengetahui.


REFERENSI
4.      https://belate.wordpress.com/2013/03/03/what-is-modernity/, diakses pada 30 April 2015
5.      http://www3.dbu.edu/mitchell/modernit.htm, diakses pada 30 April 2015
6.      http://id.wikipedia.org/wiki/Galileo_Galilei, diakses pada 30 April 2015


Tuesday, May 5, 2015

Dari Suatu Tengah Malam di Monas ke Hari Ini

Hari ini setahun lalu, kita sempat melarikan diri dari keramaian after-conference partying mob of YLI Annual Conference di Hotel Borobudur. Jalan kaki melalui trotoar, pedagang-pedagang kaki lima, kendaraan lalu lalang dan keramaian orang bermalam minggu. Ke mana? Awalnya cuma jalan. Menggunakan kaki yang bersepatu. Tujuan belakangan. Lalu akhirnya kita memutuskan untuk menuju lapangan Monas. Duduk di situ padahal sudah jam 23.00. Dan kita baru bangun dan kembali ke hotel pukul 01.00. Hampir lupa diri sebab rupanya Jakarta tengah malam masih seperti Banda Aceh sore hari.

Di hamparan rumput itu, kita duduk dan memandangi langit Jakarta yang bintangnya sangat minimal. Menatap-natap langit yang jadi berwarna-warni sebab lampu-lampu dari bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Kita bicara. Tentang Aceh. Tentang Indonesia. Tentang pendidikan. Tentang politik. Dan tentu saja, tentang cinta. Kurasa, jika para ondel-ondel (yang menurutku agak sedikit menyeramkan masih berkeliaran tengah malam) tahu kita bicara tentang apa, kita akan disuruh,tidur saja dan mewujudkan sisa pembicaraan dalam mimpi.

Masalahnya ondel-ondel itu tidak tahu, bahwa kita selalu dan terlanjur percaya ada yang namanya mimpi di luar tidur. Kita sudah membuktikan beberapa kali. Hanya dari coretan saat kita masih tsanawiyah dulu di MTsN I Banda Aceh, hingga saat itu ketika kita sudah selesai kuliah; aku akan menjadi dokter, dan engkau psikolog. Dan bahwa kita sadar benar, perjalanan masih sangat panjang, kami tak akan berhenti di sini saja.

Dan lagi para ondel-ondel itu tidak pernah tahu bahwa khusus malam itu, justru kita memutuskan bahan bicara akhirnya lebih mendominasi masalah hati. Cinta. Khas anak muda yang mulai bertanya-tanya, aku mau ke mana. Dan kita berbicara. Tentang orang-orang yang mungkin tak pun memikirkan kita. Yang jauh. Yang tidak berbentuk. Khayalan yang mungkin akan ditertawakan debu-debu kota Jakarta.

Kita (pernah) percaya bahwa pangeran kita hadir dari negeri antah berantah. Dengan pemikirannya yang memesona. Yang auranya cerdas mencerdaskan. Yang tak pernah habis bahan pembicaraan. Yang siap memimpin bangsa bersama kita di sisinya, bukan di belakangnya. Yang membuat kita merasa seperti ratu yang dewasa dan tuan puteri yang jenaka di saat bersamaan.

Kemudian kita tenggelam dalam gelombang pengharapan yang terlalu besar, kita hampir tenggelam. Bahwa pangeran kita akan datang dan meminta tangan kita; untuk dibawanya berkelana ke negeri-negeri bersamanya. Sedikit banyaknya, kita sempat seperti para princesses di kartun-kartun dongeng yang hanya bisa menunggu diberi kecupan baru bisa bangun dari tidur dan lara berkepanjangan. Jika kuingat lagi, betapa menyedihkannya. Sebab cinta seharusnya saling mendekati, bukan cuma menunggu. Bukan cuma berharap, tapi juga berusaha. Bukan pasrah pada keadaan, tapi kita selalu senang jika sedikit saling memperjuangkan.

Ternyata kita waktu itu overlooked. Kita memcoba melihat cinta di ujung samudera sementara hanya menutup mata dari yang tepat ada di depan mata. Dan parahnya lagi, aku, sempat agak gulana. Karena engkau mulai membuka hati. Dan kini tak untuk yang jauh lagi, melainkan sosok yang padahal kita kenali bersama sejak suatu lomba cerdas cermat bidang studi Bahasa Inggris di FKIP Pendidikan Bahasa Inggris, Unsyiah, di kota kita sendiri. Tinggal aku, yang masih punya secuil harapan, akan dibawa mengarungi bahtera di samudera lain selain yang sudah biasa kuarungi sendiri di kota kita. Naif dan takut di saat yang bersamaan.

Lalu akhirnya setelah bicara panjang, akhirnya kita pulang. Esoknya aku kembali ke Aceh dan setelah beberapa jenak menarik nafas, aku pun memutuskan untuk "benar-benar pulang". Aku harus membuka hati. Harus. Dan itulah pertama kali aku pulang dalam arti yang sebenarnya. Aku pulang secara hati.

Dan selang sebulan kemudian pada tanggal 6 Juni 2014, akhirnya aku mengatakan "ya" pada seseorang yang dijodohkan denganku oleh seorang ustadzah. Dengan perasaan yang hampa. Murni hanya percaya Tuhan tidak akan pernah mempertemukam manusia secara sia-sia. Bahwa meskipun seseorang tersebut ternyata berdomisili hanya 1.6 km dari rumah. Meski ternyata beliau adalah adik dari seorang kakak yang kukenal sejak dulu. Bahkan jika beliau adalah teman dekat seorang abang senior di kampus yang terkenal dekat dengan kami adik-adik angkatannya. Ya. Ternyata memang kedamaian itu tidak pernah jauh. Cinta itu, kadang, Tuhan titipkan pada yang dekat. Kita yang kadang sombong dan merasa bisa mencari sendiri dan berharap pada bintang yang di langit; sudah jauh, hanya berkedip sesekali dan jika memang bisa kita capai, tentu tak bisa kita sentuh sebab pijarnya yang mematikan.

Lihat saja blog entry ini. Muncul setelah 6 bulan usia pernikahanku. Aku terlalu menikmati hari-hari di dunia nyata aku lupa untuk menuliskannya. Abaikan keresahan di blog entry sebelum ini. Begitulah kira-kira suasana hati yang kubawa pulang setelah duduk di lapangan Monas tengah malam itu bersamamu. Aku telah salah khawatir tidak pada tempatnya. Ternyata ada cinta yang menenangkan. Membahagiakan. Membelajarkan. Memeluk sekaligus melepas terbang. Dan aku masyuk pada cinta yang ternyata tak pernah jauh ini.

Dan engkau pun demikian. Kutunggu engkau tiba di sini minggu depan. Akan kucoba arrange cara agar bisa menghadiri pernikahanmu beberapa pekan lagi meski aku akan sedang di Tapak Tuan untuk internsip. Kapan-kapan, kita harus duduk-duduk random lagi, kurasa. Sebab banyak duduk-duduk random itu yang justru jadi milestone buat tumbuh kembang persahabatan kita. Sejak masih jadi peserta lomba saat tsanawiyah, menjadi siswi SMA terpisah benua, kuliah di kampus yang berdekatan, lalu kembali terpisah benua, provinsi dan (akan juga) kabupaten minimal. Dari labil-labil remaja mendadak dewasa hingga akhirnya settled down membangun rumah tangga dan suatu hari, ibu dari anak-anak yang akan melanjutkan cerita persahabatan kita dengan cara mereka sendiri.

Selamat datang setelah setahun merantau, Ruz. Selamat (segera) menempuh hidup baru. We have more topics than ever buat cerita dan diskusi, jangan kita habiskan sekalian, jadi cukup di sini dulu. ;)

Jakarta - Aceh, 5 Mei 2014 – 5 Mei 2015
Bersama seorang sahabat yang tidak hanya bertumbuh secara fisik tapi juga secara mental