Tuesday, May 5, 2015

Dari Suatu Tengah Malam di Monas ke Hari Ini

Hari ini setahun lalu, kita sempat melarikan diri dari keramaian after-conference partying mob of YLI Annual Conference di Hotel Borobudur. Jalan kaki melalui trotoar, pedagang-pedagang kaki lima, kendaraan lalu lalang dan keramaian orang bermalam minggu. Ke mana? Awalnya cuma jalan. Menggunakan kaki yang bersepatu. Tujuan belakangan. Lalu akhirnya kita memutuskan untuk menuju lapangan Monas. Duduk di situ padahal sudah jam 23.00. Dan kita baru bangun dan kembali ke hotel pukul 01.00. Hampir lupa diri sebab rupanya Jakarta tengah malam masih seperti Banda Aceh sore hari.

Di hamparan rumput itu, kita duduk dan memandangi langit Jakarta yang bintangnya sangat minimal. Menatap-natap langit yang jadi berwarna-warni sebab lampu-lampu dari bangunan-bangunan tinggi di bawahnya. Kita bicara. Tentang Aceh. Tentang Indonesia. Tentang pendidikan. Tentang politik. Dan tentu saja, tentang cinta. Kurasa, jika para ondel-ondel (yang menurutku agak sedikit menyeramkan masih berkeliaran tengah malam) tahu kita bicara tentang apa, kita akan disuruh,tidur saja dan mewujudkan sisa pembicaraan dalam mimpi.

Masalahnya ondel-ondel itu tidak tahu, bahwa kita selalu dan terlanjur percaya ada yang namanya mimpi di luar tidur. Kita sudah membuktikan beberapa kali. Hanya dari coretan saat kita masih tsanawiyah dulu di MTsN I Banda Aceh, hingga saat itu ketika kita sudah selesai kuliah; aku akan menjadi dokter, dan engkau psikolog. Dan bahwa kita sadar benar, perjalanan masih sangat panjang, kami tak akan berhenti di sini saja.

Dan lagi para ondel-ondel itu tidak pernah tahu bahwa khusus malam itu, justru kita memutuskan bahan bicara akhirnya lebih mendominasi masalah hati. Cinta. Khas anak muda yang mulai bertanya-tanya, aku mau ke mana. Dan kita berbicara. Tentang orang-orang yang mungkin tak pun memikirkan kita. Yang jauh. Yang tidak berbentuk. Khayalan yang mungkin akan ditertawakan debu-debu kota Jakarta.

Kita (pernah) percaya bahwa pangeran kita hadir dari negeri antah berantah. Dengan pemikirannya yang memesona. Yang auranya cerdas mencerdaskan. Yang tak pernah habis bahan pembicaraan. Yang siap memimpin bangsa bersama kita di sisinya, bukan di belakangnya. Yang membuat kita merasa seperti ratu yang dewasa dan tuan puteri yang jenaka di saat bersamaan.

Kemudian kita tenggelam dalam gelombang pengharapan yang terlalu besar, kita hampir tenggelam. Bahwa pangeran kita akan datang dan meminta tangan kita; untuk dibawanya berkelana ke negeri-negeri bersamanya. Sedikit banyaknya, kita sempat seperti para princesses di kartun-kartun dongeng yang hanya bisa menunggu diberi kecupan baru bisa bangun dari tidur dan lara berkepanjangan. Jika kuingat lagi, betapa menyedihkannya. Sebab cinta seharusnya saling mendekati, bukan cuma menunggu. Bukan cuma berharap, tapi juga berusaha. Bukan pasrah pada keadaan, tapi kita selalu senang jika sedikit saling memperjuangkan.

Ternyata kita waktu itu overlooked. Kita memcoba melihat cinta di ujung samudera sementara hanya menutup mata dari yang tepat ada di depan mata. Dan parahnya lagi, aku, sempat agak gulana. Karena engkau mulai membuka hati. Dan kini tak untuk yang jauh lagi, melainkan sosok yang padahal kita kenali bersama sejak suatu lomba cerdas cermat bidang studi Bahasa Inggris di FKIP Pendidikan Bahasa Inggris, Unsyiah, di kota kita sendiri. Tinggal aku, yang masih punya secuil harapan, akan dibawa mengarungi bahtera di samudera lain selain yang sudah biasa kuarungi sendiri di kota kita. Naif dan takut di saat yang bersamaan.

Lalu akhirnya setelah bicara panjang, akhirnya kita pulang. Esoknya aku kembali ke Aceh dan setelah beberapa jenak menarik nafas, aku pun memutuskan untuk "benar-benar pulang". Aku harus membuka hati. Harus. Dan itulah pertama kali aku pulang dalam arti yang sebenarnya. Aku pulang secara hati.

Dan selang sebulan kemudian pada tanggal 6 Juni 2014, akhirnya aku mengatakan "ya" pada seseorang yang dijodohkan denganku oleh seorang ustadzah. Dengan perasaan yang hampa. Murni hanya percaya Tuhan tidak akan pernah mempertemukam manusia secara sia-sia. Bahwa meskipun seseorang tersebut ternyata berdomisili hanya 1.6 km dari rumah. Meski ternyata beliau adalah adik dari seorang kakak yang kukenal sejak dulu. Bahkan jika beliau adalah teman dekat seorang abang senior di kampus yang terkenal dekat dengan kami adik-adik angkatannya. Ya. Ternyata memang kedamaian itu tidak pernah jauh. Cinta itu, kadang, Tuhan titipkan pada yang dekat. Kita yang kadang sombong dan merasa bisa mencari sendiri dan berharap pada bintang yang di langit; sudah jauh, hanya berkedip sesekali dan jika memang bisa kita capai, tentu tak bisa kita sentuh sebab pijarnya yang mematikan.

Lihat saja blog entry ini. Muncul setelah 6 bulan usia pernikahanku. Aku terlalu menikmati hari-hari di dunia nyata aku lupa untuk menuliskannya. Abaikan keresahan di blog entry sebelum ini. Begitulah kira-kira suasana hati yang kubawa pulang setelah duduk di lapangan Monas tengah malam itu bersamamu. Aku telah salah khawatir tidak pada tempatnya. Ternyata ada cinta yang menenangkan. Membahagiakan. Membelajarkan. Memeluk sekaligus melepas terbang. Dan aku masyuk pada cinta yang ternyata tak pernah jauh ini.

Dan engkau pun demikian. Kutunggu engkau tiba di sini minggu depan. Akan kucoba arrange cara agar bisa menghadiri pernikahanmu beberapa pekan lagi meski aku akan sedang di Tapak Tuan untuk internsip. Kapan-kapan, kita harus duduk-duduk random lagi, kurasa. Sebab banyak duduk-duduk random itu yang justru jadi milestone buat tumbuh kembang persahabatan kita. Sejak masih jadi peserta lomba saat tsanawiyah, menjadi siswi SMA terpisah benua, kuliah di kampus yang berdekatan, lalu kembali terpisah benua, provinsi dan (akan juga) kabupaten minimal. Dari labil-labil remaja mendadak dewasa hingga akhirnya settled down membangun rumah tangga dan suatu hari, ibu dari anak-anak yang akan melanjutkan cerita persahabatan kita dengan cara mereka sendiri.

Selamat datang setelah setahun merantau, Ruz. Selamat (segera) menempuh hidup baru. We have more topics than ever buat cerita dan diskusi, jangan kita habiskan sekalian, jadi cukup di sini dulu. ;)

Jakarta - Aceh, 5 Mei 2014 – 5 Mei 2015
Bersama seorang sahabat yang tidak hanya bertumbuh secara fisik tapi juga secara mental