Sunday, August 23, 2015

Modernitas itu Sa(la)h!



+




Selamat datang di Indonesia. Di mana pengguna media sosialnya mencapai 72 juta jiwa dan digadang-gadang sebagai salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Dengan persentasi yang kurang lebih 29% dari seluruh populasinya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling bisa stay updated tentang apa yang terjadi di seluruh belahan bumi. Tak jarang, world wide trending topic (topik yang sedang trendi di seluruh dunia) di media sosial Twitter misalnya, akan muncul dari akumulasi tagar-tagar dari pengguna Twitter di Indonesia, bahkan menggeser popularitas isu-isu yang berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Dengan paket data internet yang termasuk murah dan mudah didapat, maka “generasi merunduk” yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing adalah pemandangan yang sudah lumrah.1
Mari bersama kunjungi Indonesia. Di mana pengendara kendaraan bermotor pribadi lebih banyak daripada transportasi publik. Dan jumlahnya terus bertambah. Statistik terakhir tahun 2014 menunjukkan peningkatan bahkan 11% dibanding dengan tahun sebelumnya2. Harga kendaraan-kendaraan tersebut yang tidak murah bukan menjadi penghalang dengan segala macam sistem pembayaran kredit yang tersedia. Bahkan anak-anak SMP dan SMA pun hari ini bisa mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sepeda motor dari orang tuanya; jangan tanya bagaimana mereka bisa punya akses ke Surat Izin Mengemudi. Sebab di berbagai tayangan di televisi, anak seusia mereka bahkan pergi ke sekolah naik mobil dan tidak pernah tampak mengerjakan pekerjaan rumah – mereka lebih sibuk memperebutkan pacar dan jalan-jalan.
Ayo bertamu ke Indonesia. Di mana acara infotainment tentang selebritas ternama – atau yang sedang cari nama – ditayangkan di televisi seperti dosis minum obat dari dokter; tiga kali sehari. Pagi, jelang siang, dan sore hari. Tanpa harus membayar lebih dari sekedar biaya listrik untuk menyalakan televisi, saluran-saluran televisi swasta tak berbayar akan menampilkan siapa sedang berkencan dengan siapa, siapa baru membeli mobil mewah baru merk apa, siapa yang baru bercerai dengan siapa, dan siapa yang baru melahirkan anak keberapa – yang terakhir lengkap dengan napak tilas perjalanan proses persalinannya. Guyonan hari-hari pengguna media sosial pun tidak jauh dari tokoh-tokoh yang diberitakan di infotainment tersebut. Sambil berkendara sepeda motor pun – itu pun sambil “bonceng tiga” atau “empat” – banyak orang bisa menertawakan tokoh-tokoh tersebut dalam skala harian. Atau tergantung sensasi yang muncul dari berita tersebut.
Silakan bertandang ke sini, ke Indonesia. Di mana yang mengenakan tank top, jogger pants, crop top dan lain gaya fashion sejenis lebih umum ditemui daripada yang mengenakan baju kurung, kebaya, teluk belanga dll. Di mana pemaknaan “jangan melupakan budaya” sering kita dengarkan terutama jika ada festival/ hari besar nasional. Lalu cara salam cium tangan pada yang lebih tua bukan yang bukan lagi dengan cara dicium secara takzim atau diletakkan di kening, melainkan di pipi – mungkin agar gincu dan perona pipi dan wajahnya tidak ternodai oleh tangan orang lain.
Dan kebanyakan kita merasa inilah Indonesia yang modern. Indonesia serba canggih, KTP kita saja kini sudah elektronik. Masa penuh kemudahan teknologi. Bahwa setiap warganya seharusnya bervisi menjadi pribadi yang futuristic, mulai dari kanak-kanak hingga para lansia. Memiliki kendaraan pribadi dan gadget sudah bukan lagi kebutuhan sekunder atau tertier, melainkan primer – kalau bukan menandakan status sosial. Menjadi bagian dari sebuah kelompok sosialita adalah sebuah identitas berharga – tak jarang hal ini menjadi tolak ukur kesuksesan. Terpapar sejarah bangsa hanya saat ada hari libur nasionalnya; itu pun kadang sebatas Hari Kartini dengan perayaan mengenakan kebayanya, Hari Pendidikan Nasional dengan upacara di lapangannya, dan begitu seterusnya. Baru sejarah nasional dan kita alpa banyak. Apalagi sejarah internasional. Tak heran, ketika Nelson Mandela wafat tanggal 15 Desember 2013 lalu, ada banyak sekali komentar di media sosial dari para generasi yang katanya melek teknologi ini mengatakan, “Siapa sih, Nelson Mandela? Udah mati baru terkenal.”3.
Maka seharusnya muncullah sebuah pertanyaan dalam pikiran kita jika masih memiliki barang secuil moralitas dalam diri kita, apakah ini yang disebut menjadi modern? Mengapa saat hidup semakin dimudahkan oleh berbagai kemajuan secara sains dan teknologi, kita malah sepertinya semakin mengalami kemerosotan dalam hal respect dan kebijaksanaan terutama dalam hal berbangsa dan bernegara? Mengapa kebanyakan yang – katanya – menjalani kehidupan secara modern ini tidak lagi menghiraukan kebajikan-kebajikan yang digariskan oleh agama; bergosip melalui tontonan, kicauan-kicauan dan status di dunia maya, melanggar arahan pemerintah (ulil amri) dalam banyak hal termasuk lalu lintas, dsb. Mengingat bahwa agama mayoritas di Indonesia adalah Islam, hal ini semakin menggelisahkan; ke mana rasa “rahmatan lil ‘alamin” yang dijanjikan Allah dan Nabi Muhammad saw jika kita memeluk dan menjalankan Islam? Sementara makin hari makin canggih era yang kita jalani, semakin miris hati kita melihat seks bebas, penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras, debat kusir, caci-mencaci sesama ummat, perpecahan dalam badan kaum muslimin, dan masih banyak fenomena negatif lainnya terjadi. Ini adalah sesuatu yang kerap jadi bahan pemikiran para pemimpin, ulama, pendidik, orang tua dan pihak-pihak lain temui di lapangan.
Maka salah siapakah ini? Salahkah dunia Barat yang memberi efek buruk pada bangsa kita? Salahkah budaya-budaya non Indonesia tersebut yang meracuni anak cucu kita? Salahkah Indonesia membuka diri bagi yang disebut modernitas ini? Salahkah jika kita memutuskan hidup dalam semua kemudahan teknologi ini; menjalani “bid’ah”, sebab tak pernah Rasulullah saw mencontohkan bertransportasi dengan kendaraan bermotor, menonton televisi, berpakaian warna-warni dengan model yang bukan datang dari Arab Saudi?

Apa itu “Modern”?

Barangkali salah satu penyebab salah kaprahnya kita menjalani hidup yang modern adalah sebab kita belum begitu memahami esensi dari menjadi modern itu sendiri. Istilah modern baru banyak digunakan sejak dunia Barat mengklaim mulai bangkit dan maju dalam hal sains, industri, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya dalam beberapa dekade terakhir ini, terutama sejak awal abad ke-19. Bahkan ada pula beberapa sumber yang mengatakan bahwa ada era yang disebut dengan “pre-modern” atau “early modernity” yaitu masa-masa menjelang modernitas menguasai Eropa yaitu sekitar awal abad ke-14 hingga abad ke-164,5. Tentu saja kita semua ingat dan bisa kembali membaca sejarah mengenai The Renaissance yang terjadi di Eropa, di mana salah satu karakteristik paling menonjol adalah sekularisasi antara agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Eropa yaitu Kristiani, dengan sistem pemerintahan. Tentu saja kita harus memahami bahwa sebelum era sekularisasi itu terjadi banyak sekali pengekangan oleh gereja terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dianggap bertolak belakang dengan pemahaman yang dianut secara umum pada saat itu. Salah satu contoh yang kita semua mungkin pernah baca adalah Galileo Galilei yang dihukum dengan pengucilan hingga meninggal sebab mengatakan bahwa bumi ini bulat dan bahwa pusat tata surya adalah matahari berdasarkan penelitian dan observasi ilmiah yang dilakukannya. Baru di tahun 1992 namanya dideklarasikan bersih oleh Paus Yohanes Paulus II setelah dianggap bersalah sejak tahun 16336!
Ada beberapa karakteristik lain yang dikatakan identik dengan era modernitas di Eropa dan dunia Barat secara umum hingga saat ini. Termasuk ke dalamnya unsur demokrasi, birokrasi, rasionalisasi, subjektivitas, individualisme, urbanisasi dan global citizenship4,5. Mengutip dari beberapa pemikir Barat yang menjadi cikal bakal dari Theories of Modernity, yaitu Locke, Kant, Hegel, hingga Karl Marx, seseorang dikatakan modern jika ia berada dan memahami dirinya ada di masa kini, dan yang paling penting adalah ia hidup sebagai seorang individu yang tercerahkan di mana ia menggunakan akal pikirannya untuk merasionalisasikan segala persoalan kehidupan berdasarkan pertimbangan moral demi kemajuan perkembangan dirinya sendiri dan masyarakat sebagai suatu kesatuan4.
 

Menjadi Modern dan Berislam; Mungkinkah?

Maka timbullah pertanyaan, demi perkembangan diri dan masyarakat yang lebih baik dan modern, haruskah kita melakukan apa yang dilakukan oleh bangsa Eropa di abad-abad terdahulu; meninggalkan agama Islam yang notabene adalah agama mayoritas di Indonesia dan menjalankan pemerintahan tanpa menimbang-nimbang masukan yang bersifat Qurani lagi?
Mari kita membaca lagi tentang bagaimana Rasulullah saw membangun suatu masyarakat yang strukturnya kokoh hingga disebut dengan istilah “madani”. Adakah pembatasan perkembangan ilmu pengetahuan? Adakah pemaksaan pemelukan agama Islam? Lalu mari telusuri lebih jauh lagi, di masa-masa gemilangnya Islam menguasai hampir 2/3 dunia. Apakah tak ada warisan teknologi dan keilmuan yang kita rasakan? Adakah tidak kita membaca kisah-kisah di mana sistem maal berjalan dengan sangat baik sehingga zakat tak tahu lagi didistribusikan ke mana sehingga akhirnya diberikan kepada para pemuda yang belum menikah agar bisa dijadikan mahar. Adakah kita lupa siapa bapak dunia kedokteran yang memberikan banyak insight mengenai anatomi manusia di saat CT-scan, MRI dan alat scan lainnya belum ada; yaitu Ibnu Sina atau Avicenna. Apakah kita tak pernah membaca sastra-sastra tentang Seribu Satu Malam, atau minimal senang mendengarkan lantuan Al-I’tiraf; yang ditulis oleh Abu Nawas?
Maka pada hakikatnya, sepanjang sejarah yang pernah ada, Islam yang dijalankan dengan baik secara sistematis, hampir tidak pernah mengecewakan hati dan pikiran. Dan jika yang kita sebut dengan modern adalah perkembangan ilmu dan pengetahuan, Islam pernah membuktikan kemajuan itu semua tanpa memisahkan agama dan pemerintahan.


Modernitas itu Sa(la)h?

It is easy to blame everything on The West. When in fact all focus should be on ourselves.”
-          Maher Zein
Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa era modern ini adalah racun bagi generasi muslim hari ini. Bahwa semua kecanggihan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin sejalan dengan menjalankan perintah agama.
Maka jika ada yang mengatakan demikian, saya adalah yang paling depan mengatakan, bahwa kita hanya memahami Islam secara parsial. Sebab sejarah sudah membuktikan itu mungkin dan tidak akan bersebrangan. Untuk apa Allah menyebut berkali-kali dalam Alquran agar kita berpikir, menggunakan akal, mengembarai buminya agar melihat kebesaran-Nya. Bukankah itu semua agar kita belajar dan menemukan hal-hal baru sehingga rasa syukur kita semakin besar pada-Nya?
Bahwa jika menjadi modern adalah sama dengan meninggalkan identitas keislaman dan mengejar kesuksesan tanpa nilai-nilai spiritual di dalamnya, benar, itu adalah kesuksesan yang gersang. Bahwa jika menjadi modern adalah hanya mengedepankan warna dan bentuk pakaian tanpa memperluas pikiran, iya itu salah. Bahwa jika menganggap bahwa semakin menutup aurat adalah semakin tidak butuh kita memperluas bacaan, itu juga tidak benar.
Bukankah Islam mengajarkan kita untuk senantiasa seimbang?
Bukankah Rasulullah saw selalu mengarahkan kita untuk selalu bersikap wasatha atau di tengah-tengah?
Adalah sebuah kesedihan jika kita melihat generasi muda Islam dijauhkan dari pendidikan cuma karena kita takut mereka akan berpikir secara “Barat” dan lalu menjadi kafir. Betapa jika demikian, seharusnya Mush’ab bin Umair dahulu tidak sepantasnya dikirim ke Madinah saat masih belia untuk berdakwah ke sana sebelum Rasulullah saw berhijrah ke sana; ia belum mampu. Ada slot pembelajaran yang diberi oleh Rasulullah saw pada Msuh’ab pada saat itu. Kita menyebutnya field trip, excursion, penugasan outdoor dsb. Maka jika kita perhatikan, Aisyah ra juga senantiasa dibiarkan belajar banyak hal dari suaminya, bahkan diladeni semua pertanyaannya sehingga menjadi jawaban dan ilmu di masa saat Rasulullah saw lalu tiada. Dan itu juga di usia muda.
Maka sebenarnya menjadi modern itu hanya akan sah jika kita paham bahwa sepanjang Islam menjadi panji sebuah pemerintahan tanpa dipisahkan dari esensi aqidahnya, maka kita hanya akan merasakan kemanisan peradaban seperti saat kekhalifahan dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-rasyid, Abdurrahman Ad-Dakhil, Muhammad Al-Fatih, dll.
Sementara itu modernitas adalah sebuah kesalahan jika kita memandangnya dengan kacamata sekular; bahkan lebih parah lagi jika dengan kacamata individualis berlebihan. Suatu hari saya pernah mendengar seorang teman menceritakan bahwa ada yang berkomentar mengenai cara saya berpakaian dan berperilaku, bahwa saya ternyata tidak “selebar” kerudung saya. Saat itu saya mulai sadar bahwa begitulah ummat memandang mengenai modernitas hari ini. Bahwa stereotype yang beredar adalah semakin religius seseorang, maka semakin kolotlah pemikirannya. Semakin tertutuplah mata wawasannya. Semakin tak asyik-lah ia jika diajak berdiskusi. Sehingga ketika ada yang berkerudung lebar tapi tetap mau berdiskusi sekitar konsep modernitas, itu adalah sebuah kontradiksi.
Padahal Islam sudah hadir memberi semulia-mulia definisi modernitas, yaitu melepaskan diri dari segala stigma dan budaya yang tidak logis ke arah jalan yang setiap belokannya hanya berisi kebaikan semata. Membuat laki-laki tidak seangkuh dan sembarangan pada keluarganya lagi. Membuat budak sahaya mendapat kemerdekaan abadi dalam dirinya. Membuat semua orang dinilai hanya dari keimanan dan kontribusinya bagi kebaikan, bukan atas dasar kasta dan status sosial. Dan salah satu yang paling penting, membuat perempuan tak lagi dikubur hidup-hidup dan boleh berpendapat seperti dengan cara menulis seperti ini.
Dan bagi yang masih menyalahkan Barat untuk memberi konsep modernitas yang salah bagi generasi muda hari ini, mari kita ambil cermin dan berkaca bersama-sama. Apakah memang benar semua kemerosotan moral terjadi sebab semua salah orang lain, ataukah kita yang lalai dan mulai menjauh dari memahami Islam beserta seluruh sejarah peradabannya yang pernah sangat gemilang itu.
Maka dengan ini saya mengembalikan lagi kepada kita semua, apa sebenarnya konsep modernitas bertolakbelakang dengan apa yang Islam ajarkan pada kita semua. Nurani yang jujur tentu akan melihat bahwa Alquran dan Hadits memberi banyak sekali isyarat bahwa memperbaharui pengetahuan dan membebaskan diri dari segala pengaruh negatif stigma dan stereotype sebagai bagian dari konsep modernitas adalah sebenarnya konsep Islam itu sendiri. Dan Allah Maha yang Lebih Mengetahui.


REFERENSI
4.      https://belate.wordpress.com/2013/03/03/what-is-modernity/, diakses pada 30 April 2015
5.      http://www3.dbu.edu/mitchell/modernit.htm, diakses pada 30 April 2015
6.      http://id.wikipedia.org/wiki/Galileo_Galilei, diakses pada 30 April 2015