Wednesday, November 25, 2015

Ternyata Tidak

Dulu, kukira cinta adalah tentang saling cemburu-cemburu lucu di ujung hari.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk membuang jauh-jauh bisikan-bisikan syaithan yang menguji saling percayanya kita meski terpisah beberapa kabupaten setiap harinya.

Dulu, kukira cinta adalah tentang memberi pelukan hangat di setiap ujung malam sebelum tidur.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk menyuburkan ikatan kita dengan doa dan cukup senyum-senyum sarat harapan ingin bertemu di hadapan handphone masing-masing.

Dulu, kukira cinta adalah tentang tertawa bersama dari pagi hingga pagi lagi.
Ternyata tidak. Kau tak pernah mengajarkan hal ini, tapi aku tidak pernah sadar kapan air mataku mulai jatuh dan berhenti saat baru mendengarmu berkata, "Assalamu'alaikum" dari ujung komunikasi telepon. Suaramu menembus telingaku; menembus dasar hati yang tak bisa pura-pura tegar menghindari rindu.

Dulu, kukira cinta adalah tentang melewati masa-masa penantian lahirnya buah hati dengan kelakarmu pada perutku - tempat di mana janin cinta kita berkembang - bahwa kau akan atau sudah pulang kerja.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk berbaik sangka pada Tuhan bahwa calon anak kita akan tumbuh sebagai jiwa yang teguh dan tak mudah mengeluh, dibimbing dan dilindungi oleh Penciptanya langsung dan bukan sekedar oleh orang tuanya yang fana dan banyak kekurangan.

Dulu, kukira cinta adalah tentang kau langsung panik dan membawaku ke dokter jika ada hal-hal tak lazim terjadi semasa perkembangan calon buah hati kita.
Ternyata tidak. Aku sudah lebih dari bahagia sebab masih bisa mendengar suara khawatirmu dari jauh sambil kuterka-terka raut wajahmu saat itu. Harus bisa berlapang dada mendengar nasihat-nasihatmu untuk bersabar atas ujian yang hadir di tengah masa-masa penantian ini...dari suara nun jauh di ujung telepon.

Dulu, kukira cinta adalah berada di sisimu setiap waktu. Melihat wajahmu sebagai pembuka pagi atau penutup hari.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku untuk selalu saling menatap dan menggenggam tangan dalam makna cinta yang sesungguhnya. Menghadap Tuhan yang sama, berdoa pada-Nya sebagai penghubung hati kita satu-satunya.

Dulu, kukira cinta adalah menyerah jika tidak bersama secara raga.
Ternyata tidak. Kau mengajarkanku mencintai dengan sesuatu yang lebih murni; ianya jiwa dan nurani. Bahwa sejumlah kilometer tidak akan pernah bisa membuat mataku renggang dari matamu dalam ruang kasih sayang suci kita.

Dulu, kukira aku tidak akan pernah bisa berada dalam satu biduk kasih sayang dengan seorang lelaki.
Dulu, kukira aku hanya bisa patah hati.
Dulu, kukira aku tidak akan pernah bisa mulai jatuh cinta lagi.
Dulu, kukira aku tidak akan pernah merasakan cinta sedalam ini.
Ternyata tidak. Semakin aku jauh darimu, semakin aku ingin pulang; jika ada kata di atas cinta dan rindu yang menjadi konsekuensinya, maka inilah ia.

Mendadak, Eropa tak lagi terasa romantis.
Asia Timur tak lagi terasa modern.
Amerika tak lagi terasa tempat paling bisa berekspresi diri.
Kini hanya ada satu tempat yang aku hargai lebih dari segala lokasi indah lain di dunia;
Di sisimu.


Tapaktuan, 25 November 2015.
Dariku dan calon belahan cinta kita yang kini berusia 16 minggu.