Wednesday, August 17, 2016

Memahami Pasien dengan Bahasa Lokal; 1/3 Tahun di Aceh Selatan

*Tulisan di bawah adalah refleksi saya saat baru 3 bulanan (bukan refleksi utuh mengenai keseluruhan tahapan) menjalani program internsip di Aceh Selatan, sebelum akhirnya mengandung Bilal sehingga kegiatan home visit yang saya gadang-gadang sebagai kegiatan favorit tidak lagi banyak saya jabani di bulan terakhir saya bertugas di Puskesmas Samadua. Maklum, sudah mulai tidak sanggup "ceramahin pasien" lama-lama lagi sebab mudah lelah hehe. Tulisan ini juga dimuat di Warta Unsyiah edisi 191/ September 2015.

-------------------------------------------------------------------------------------


Profesi dokter adalah profesi penuh ekspektasi tinggi; secara finansial dan secara status sosial. Banyak yang mengira bahwa profesi dokter adalah sesederhana wajah bahagia dengan jas putih dan stetoskop di kantungnya atau melingkar di lehernya. Berbicara sepatah dua kata dengan pasien, lalu pundi-pundi uang pun mengalir masuk kantung. Betapa terlihat mapan secara tampang dan kekayaan. Adalah konon bahkan sampai-sampai menjadi dokter merupakan “cita-cita nasional” selain menjadi insinyur dan menjadi presiden di era 90’an seperti yang sering dinyanyikan oleh sang boneka Susan dan Kak Ria.

Padahal, sebagaimana profesi-profesi lainnya, profesi dokter juga memiliki jalan terjal nan panjang dan penuh perjuangan untuk mencapainya. Dalam sistem pendidikan kedokteran yang berlaku di Indonesia sekarang, butuh waktu kira-kira 5-6 tahun untuk menyelesaikan studi mendapatkan titel sarjana kedokteran (S.Ked) dan dokter (dr.), itu pun tergantung dari apakah sang mahasiswa kedokteran bisa menyelesaikan tiap semester dengan baik tanpa mengulang suatu apapun. Bahkan setelah itu pun, untuk meneguhkan titel dokternya, masih ada ujian kompetensi baik secara tulisan dan praktik yang harus diikuti.

Setelah lulus sekalipun, masih harus mengurusi sertifikat kompetensi beserta beberapa hal administratif lainnya agar bisa mengikuti Program Internsip Dokter Indonesia selama setahun di wahana-wahana yang sudah ditetapkan oleh pihak terkait yang bisa dipilih secara online dan serentak pada tanggal dan jam yang sudah ditentukan. Pilihan wahana tersebut tersebar di berbagai kabupaten daerah dan kota di Indonesia; mulai dari yang maju hingga ke yang kurang maju.

Setelah menyelesaikan program internsip, barulah sang dokter mendapat Surat Izin Praktik yang sah, menandakan bermulanya kewenangannya untuk berpraktik mandiri. Secara total, butuh waktu 7-8 tahun (kalau tidak lebih) menjalani semua proses di atas.

Lama dan membosankan? Pasti. Membuat banyak yang memutuskan menyerah? Sering. Mencetuskan kritik-kritik terhadap proses pendidikannya? Acap kali. Panjang sekali debat mengenai tiap fase dalam pendidikan kedokteran, terutama terkait program internsip.

Ada yang pro, ada pula yang kontra. Masing-masing memiliki pandangan dan alasan kuat sendiri sehingga membahasnya cenderung tidak efektif dalam bahasan kali ini.

Lepas dari berbagai pro kontranya, ada banyak pelajaran yang bisa saya petik selama sudah hampir 4 bulan menjalani Program Internsip Dokter Indonesia ini. Saya sendiri mendapat wahana di kabupaten Aceh Selatan. Dalam 4 bulan terakhir, saya mendapat penempatan di Puskesmas Samadua, salah satu puskesmas di kota Tapaktuan, ibukota kabupaten Aceh Selatan.

Awalnya, saya stress berjumpa dengan pasien yang "itu-itu" saja, sebab memang banyak pasien yang penyakitnya memang butuh kontrol rutin seperti Diabetes Melitus (DM), Hipertensi, dsb. Selain itu, jumlah desa cakupan di Kecamatan Samadua adalah yang paling banyak dibanding kecamatan-kecamatan lain di Tapaktuan. Ketika kecamatan lain hanya terdiri dari 7-8 desa, kecamatan Samadua terdiri dari 28 desa. Otomatis, populasi yang berkunjung ke Puskesmas Samadua adalah yang paling tinggi dibanding puskesmas-puskesmas lainnya; satu lagi hal yang membuat saya kadang-kadang kewalahan.

Saya ingat, saking bosannya, saya ingat pernah "merobotkan" diri sepanjang hari dan menulis resep obat tanpa banyak bicara yang kurang penting di luar seputar penyakit. Tentu saja ini bukan sesuatu yang terjadi setiap hari dan jelas bukan sesuatu yang patut dicontoh.

Kadang, ketika saya terkena penyakit radang tenggorokan di mana untuk berbicara saja saya terdengar seperti kodok, saya harus meminta maaf ke pasien sebab tidak banyak bisa bicara atau minum air putih berulang-ulang di depan pasien. Padahal, berbincang di luar keluhan pasien sebenarnya juga baik untuk berlatih bahasa lokal yang baru saya pelajari sejak tiba di sini. Agak dekat dan bernuansa bahasa dari Sumatera Barat, kadang-kadang pasien hanya bisa berbicara dengan bahasa lokal tersebut dan nihil kemampuan bicara Bahasa Indonesia. Namun saat kejenuhan melanda, saya hanya bisa pasrah dan tidak mengaktifkan keinginan menganalisa antara bahasa yang diutarakan pasien dengan keluhan yang dideritanya. Biasanya jika sudah begitu, saya hanya bisa mengandalkan bahasa isyarat sampai antara saya sebagai dokter dan pasien bisa saling mengerti apa yang menjadi keluhannya.

Tapi saat saya sedang penuh semangat, lain lagi ceritanya. Misalnya ketika suatu hari saya bertemu kasus baru Hipertensi. Saya ingat, sebab pasiennya pun tampak kooperatif, saat itu saya pun edukasi panjang lebar tentang obat, cara minum, gaya hidup (saya sempat merasa terkejut, perempuan tua di sekitar kecamatan ini memiliki kebiasaan “kencang” minum kopi hitam!) di samping rutinitas meminum obat dari puskesmas. Siapa saja yang mau meng-Google terapi hipertensi akan menemukan bahwa memperbaiki gaya hidup adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam menangani hipertensi. Jadi berceramah panjang lebar menjelaskannya di atas adalah sebuah keharusan bagi para tenaga kesehatan yang terkait.

Hingga lalu pasien tersebut kontrol ulang dua hari kemudian. Setelah ditensi tekanan darahnya, tekanan darahnya menurun sesuai target saya. Dan ternyata, bahagianya saat pasien mengucapkan terima kasih itu, rasanya...sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Lalu di hari yang lainnya, saya melakukan kegiatan home visit/ kunjungan ke rumah-rumah untuk Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Atas kebijakan puskesmas, hanya dua penyakit kronis yang difokuskan, yaitu Diabetes Mellitus dan Hipertensi. Secara umum, program ini adalah kegiatan favorit saya selama di puskesmas. Selain lebih bisa menyelami kehidupan pasien terutama yang berhubungan dengan penyakitnya, saya juga bisa sambil belajar tentang budaya lokal sini; melihat bunga dan buah pala dijemur berjejer di halaman banyak rumah, gemericik air parit yang jernih seperti sungai kecil, sungai-sungai cantik di desa-desa tertentu, dll.

Suatu saat, di salah satu desa yang kami – saya dan tiga orang perawat puskesmas – kunjungi, saya berjumpa dengan salah satu pasien Diabetes Mellitus yang biasanya kadar gula darah sewaktunya 300-400'an (biasanya pasien cek di puskesmas). Namun, hari itu saat kami cek di rumahnya, kadar gula sewaktunya sudah turun menjadi 150'an gr/dl. Pasien  tersebut berkata, "Makasih ya dok, udah saya ikutin saran dokter tentang makanan dan cara makan, alhamdulillah baru kali ini gula saya turun."

Pada akhirnya saya (semakin) sadar bahwa dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa selesai hanya dengan komunikasi yang baik, termasuk dalam menangani banyak penyakit sebagai dokter. Panjang dan membosankan memang, apalagi jika dokter yang ceramah itu tipe “cerewet” seperti saya yang jika sudah berbicara, susah berhenti. Tapi dengan dokter dan pasien yang berbicara sambil tanya dan jawab, tanpa ada yang "pura-pura tuli" di salah satu pihak pun, mungkin ada hal baik yang bisa kita hasilkan.

Dan semakin saya menjalani program internsip ini, meski dengan berbagai kendalanya, saya jadi mau tidak mau jadi belajar bahasa baru sebagai saranan agar komunikasi itu tadi bisa terjadi dengan baik. Sudah menjadi rahasia umum, menguasai bahasa lokal di tempat seorang dokter bekerja adalah sebuah faktor plus-plus yang akan paling tidak keterbukaan dari para pasien dalam menceritakan keluhannya dan mendengarkan nasihat dari dokternya secara lebih baik.

Masih ada 8 bulan lagi yang harus saya jalani dalam program internsip ini, namun dengan lingkungan rumah sakit, yaitu di RSUD Dr. H. Yuliddin Away, tepatnya di Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Rawat Inapnya. Semoga dengan bekal pembelajaran komunikasi ini, saya dan teman-teman lainnya bisa menyelesaikan program ini dengan baik. Dan semoga terus memberi kami semangat untuk terus mempertajam kemampuan komunikasi kami bahkan jika sudah selesai internsip nanti.

3 comments:

  1. Beautifully written. The question in my mind is: would you say that your experience will influence your career choice? Will u work at rural area?

    ReplyDelete
    Replies
    1. I would, but maybe most probably I won't, need to get "extra permission" from my husband to voluntarily work on my own decision in rural areas. Internship was an exception, I had to take it and Banda Aceh was already full quota.

      Oh actually, I still can choose to work in rural areas without leaving my husband, my son and the rest of the family; I already live on the outskirt, got to find a job nearby and voila, two birds in a catch. :D

      Delete
  2. tulisan yang mengalir baik dan enak dibaca
    sukses ya, dan mari lanjut sekolah :)

    ReplyDelete