Tuesday, August 16, 2016

Sepucuk Surat Singkat untuk Bilal Irsyada Zulhadi

Kami menamaimu Bilal Irsyada Zulhadi.

Bilal, sebab kami berdoa agar engkau bisa merdeka dalam arti sebenar-benar merdeka seperti yang Bilal bin Rabah contohkan; merdeka dari segala jeratan dan kawat-kawat duri dunia, dan hanya bersikap hamba bagi Sang Pencipta. Yang suaranya kelak memanggil dan mengajak ummat ke arah kemenangan; seperti azannya Bilal. Yang bahkan hanya satu katanya saja mengguncang sejarah; Ahad.

Irsyada, agar engkau selalu dilimpahi kecerdasan, kebijaksanaan dan petunjuk-petunjuk Ilahiyah serta akan dikenang oleh sejarah untuk kontribusimu terhadap peradaban Islam yang mendunia seperti yang Harun Ar-Rasyid contohkan.

Zulhadi, sebab agar terikat selalu nasabmu dengan abati-mu; pria yang mempersunting ummi-mu dan senantiasa menanti kehadiranmu dan selalu ada untuk kita berdua meski saat kehamilanmu, beliau jauh dari kita. Belajarlah kelak nanti engkau padanya tentang bagaimana memuliakan wanita; ibunya, kakaknya, adiknya, istrinya, dst. Sungguh padanya akan banyak hikmah kehidupan yang manis bagimu untuk kaucicipi selalu.

"Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama." (HR. Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi).

"Dari Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu." (Hadits hasan riwayat Al Baihaqi).

Maka kami memilih mengaqiqahkanmu di hari ke-21.

Sebab di hari ke-7 engkau masih sangat merah, ringkih, kecil. Beratmu saat itu masih 1800 gram; menurun (secara normal) 20 gram dari berat lahirmu yang 2000 gram pasca dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care) Rumah Sakit Harapan Bunda. Iya, engkau lahir pada tanggal 30 Maret 2016 (padahal taksiran lahirmu awalnya adalah 5-6 Mei 2016) melalui proses caesar atas indikasi IUGR (Intra Uterine Growth Retardation) sebab Ummi mengalami PEB (Pre Eklamsia Berat) dan oligohidroamnion (air ketuban berkurang) di usia kehamilan 35-36 minggu di kota Banda Aceh untuk lalu setelah 5 hari dirawat di sana, engkau kembali ke peraduan yang kita sebut rumah di Lamkeuneung, Aceh Besar; tempat di mana Ummi tinggal sejak masuk SD. Ummi masih ingat betapa harunya kami semua saat ditelepon untuk menjemputmu dari NICU setelah beberapa hari hanya bisa menitipkan pada Abati untuk mengantarkan ASI perah dari rumah. Itupun setelah sebelumnya bolak balik Abati menjemput ASI donor dari Ummi sepupumu Bang Naufal, Miwa Nia (Kakak kandung Abati) di Lingke sebab ASI Ummi belum keluar sampai hari ketiga malam. Itu juga sebab sempat "kalah" dua kali (maafkan kami, ya, Nak) mengizinkanmu diberi susu formula sebelum mendapat ide donor ASI.

Sebab di hari ke-14 engkau belum pun mencapai berat 2500 gram; syarat dari dokter anakmu untuk memulai imunisasi. Kita mendapat "pekerjaan rumah" untuk mengejar grafik pertumbuhanmu dan berjemur tiap pagi. Maka setelah mufakat antara Ummi, Abati, Nenek, Ayahnek, kami setuju fokus ke menggenjot berat badan dan kesehatanmu dulu, Nak. Engkau sempat tiba-tiba sulit bernafas, batuk sebentar-bentar sampai terdengar seperti berdahak, demam; singkat cerita Ummi panik. Ummi sering menemukan pasien bayi yang demikian, tapi menghadapi anak Ummi sendiri, Nak, Ummi sempat blank. Sampai akhirnya Ummi berdiskusi dengan dokter anak yang Ummi kenal saat internsip di Tapaktuan dulu, meski berat, Ummi memberimu obat. Ummi sangat khawatir dengan kondisimu yang masih di bawah kurva normal untuk berat badan, ditambah pula sakit. Alhamdulillah, engkau membaik 2-3 hari kemudian.

Lalu "tergadailah" engkau di hari ke-21. Dan divaksin untuk pertama kali di hari ke-56-mu, alhamdulillah sampai hari ini sudah BCG, DPT, Hepatitis B, Polio dan HiB. Perjalanan imunisasi wajib kita hampir selesai insya Allah bulan Oktober nanti. Terima kasih ya, Nak, sudah selalu kuat saat diberi suntikan, hanya menangis singkat sebentar saja lalu kembali ceria sedia kala.

Maka kini di usiamu hari ini yang sudah 4 bulan lebih 2 minggu dengan berat 6250 gram, Ummi bersyukur sekali sudah melalui masa-masa yang lalu dan akan selalu bersyukur atas masa yang akan datang. Ummi dan Abati bukan orang tua sempurna; dan tak akan pernah sempurna. Akan ada masanya engkau akan tidak suka atau bahkan benci dengan keputusan kami, tak mengapa. Cinta tidak selalu rata ceritanya.

Tapi ketahuilah satu hal, Anakku sayang, cinta yang suci dan fitrah dari Ilahi hanya akan kembali pulang meski berkelana ke sana ke mari. Maka kesallah, marahlah, gusarlah pada kami. Tapi kembalilah dan pulanglah engkau selalu dalam doa-doa dan amalan salihmu di masa depan. Engkau bukan milik kami, dan kami harus belajar tentang batasan kepemilikan itu. Engkau punya Allah, dan hubungan orang tua-anak ini adalah salah satu hubungan paling manis dan tulus yang menjalaninya dengan baik adalah salah satu ibadah paling megah hasanatnya.

Sekarang, sebelum kita melalui belantara drama kehidupan di mana engkau sudah dewasa nanti, kita maksimalkan sisa satu setengah bulan ASI eksklusifmu dan kita songsong usia MPASI-mu di hadapan.

Oh ya sedikit lagi. Ummi sejujurnya sedang menanti suara tertawa cekikikanmu. Ummi pernah dengar sekali saat engkau tidur, entah apa yang engkau mimpikan, tapi setelah bangun engkau tertawa biasa minim suara lagi. Cepat bisa tertawa ya, Nak. Sebab dunia tak lain adalah bahan candaan belaka. Dan melaluinya tak perlu terlalu mengikuti standar kemapanan duniawi ala ala manusia yang usianya jarang melewati ratusan sementara tahun masehi saja sudah ribuan.

Tumbuh besarlah, Sayang; tak hanya ragamu, tapi juga jiwamu.

Semoga selalu panjang umur; bukan usia lahiriahmu, melainkan usia karya dan kontribusimu terhadap ummat dan dunia.

Be that Bilal whose name has been stamped onto yours; a man freed from all kinds of slaveries, including the worldly one. :)

8 comments:

  1. Ma sya allah... Ma sya allah... Ma sya allah...

    ReplyDelete
  2. Kisah Bilal mirip Hamdi dulu.
    Hamdi lahir lebih cepat 1 bulan dari perkiraan sebab kandungan mamanya sudah turun. Lahir dengan berat 2200 gram...lalu turun menjadi 2100 karena belum bisa mengisap ASI dan harus menetap di RS selama 9 Hari dengan cara ASI di pompa. Cuma bedanya...kakak ikut menginap di Rs selama 9 hari, karena kebetulan ayahnya juga menjalani operasi san baru pulih juga 9 hari kemudian...bersamaan dengan hari pertama Hamdi mulai pintar menghisap ASI mamanya.

    Tau sekali rasa yang Nuril rasakan. Alhamdulillah masa itu udah nuril lewati dengan baik. Sehat..sehat...sehat ya Nak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allahumma amin.. Bikin kita makin menghargai orang tua sendiri juga ya kak, ternyata begini rasanya.. :')

      Delete
  3. MasyaAllah.. Alhamdulillah.. Terharu bacanya kak... Krn isra ngalamin lbh kurang kayak kak nuril jg :')
    Hamil jauh dr suami n keluarga (krn lg skripsi), bayi lahir tergolong kecil jg (2,6 gr), asinya baru keluar stlh 3 hr jd sempat dikalahkan sufor. Tp alhamdulillah skrg semua sudah terlewati.jd bisa lbh bersyukur walaupun dgn hal2 kecil bahkan skrg :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo isra nulis juga, kita ga pernah tau bukibuk muda di luar sana yg sdg down dan butuh sharing dari kawan senasib ;)

      Delete
  4. Hai adek bilal. Kak naqiya dulu cepat lahir pas 38 minggu dengan KPD, ologohidramnion, dan lilitan tali pusat. Tumbuh sehat dan cerdas ya, semoga suatu hari kita bermain bareng di blangpadang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak2 tangguh lahirnya pnuh plot ya kak hehe, semangatttt. Yok kak naqiya maen kita! ^^

      Delete