Tuesday, September 26, 2017

Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 4; Tips Memilih Pompa ASI/ Breastpump & Tips Memelihara Pompa ASI Manual

Bismillah, balik lagi ke #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal selanjutnya, kali ini bahas pertanyaan dek bumil salihah @arnova.reswari, #tipsmemilihpompaASI, berikut yang harus dipertimbangkan;

1. Budget
2. Mudah dibersihkan
3. Efisiensi waktu & tenaga
4. Cocok

Budget. Sebab kalau mau pompa yang kece fiturnya biasanya butuh duit 1-2 jutaan. Duh mahal ya. Ada sih caranya biar gratis. "Arahkan" siapa gitu buat bungkusin pompa ASI idaman kita jadi kado haha. Intinya berdamailah dengan isi dompet. Pompa ASI bisa diganti dengan #Marmet yang penting stok ASI buat anak aman. 🙌

Mudah dibersihkan semua seluk beluknya (dengan air & sabun, bisa diraih dengan sikat botol/dot, dibilas & disteril air panas atau mesin steriliser) agar ASI baru ga nyampur dengan lemak ASI sebelumnya (yang pasti uda basi). Jadi kalau ga niat mau susah payah bersihin pompa, mending nenenin/#Marmet aja. Daripada ga bersih, khan kalau bayinya kolik/kembung ga kece. 😣

Efisiensi adalah relatif. Kalau mau rajin bersihin + steril pompa, maka pompa adalah solusi bagi multi taskers. Jadi sambil mompa bisa makan, ngobrol dengan suami dsb termasuk online 😁. Apalagi kalau elektrik double pump, pompa 2 payudara sekaligus, hemat waktu. Tapi balik ke budget sih hehe.


Dan cocok. Ini yang abstrak. Sebab faktor nyaman & toleransi orang beda-beda. Makanya di kota besar banyak yang nyewain pompa ASI (di #BandaAceh ada ga ya?) jadi bisa nyoba beberapa merk, baru beli yang paling sesuai. Atau minjem dulu. Saya dulu minjem #UnimomManualBreastpump punya kak @nianizatrisna baru deh mutusin beli #PigeonManualBreastpump karena uda ada bandingan. Gitu.. Well, selamat nimbang-nimbang! 😊

#SharingPerlengkapanASIXnyaBilal

Uda tau jenis-jenisnya, uda mikir mau beli yang mana, sekarang #tipsmemeliharapompaASI biar tahan lama (baca: ga rusak & semoga bisa dipake buat adek-adeknya nanti hehe)

1. Pertama kali dibuka dari kotaknya, cuci bersih semua bagian yang bisa dicuci (kalau pompa elektrik, mesinnya jangan dicuci!) pake air yang mengalir + sabun + sikat sampe ke seluk beluk (saya biasanya pake sikat botol/dot yang banyak dijual di pasaran). Sterilkan. Bisa pake air panas baru mendidih, rendam. Atau pake steriliser, baik yang model steamer, dishdryer atau sinar UV (harga makin ke kanan makin mahal hehe)

2. Tiap kali pemakaian, langsung cuci dengan sabun, keringkan. Kalau mau sterilkan silakan. Tapi kalau saya, praktisnya cold sterilization alias cuci pake air dan sabun anti bakteri yang food grade (kaya Sleek) dan keringkan di suhu kamar dengan AC menyala. Atau bilas dengan air matang, simpan di kulkas. Intinya, makin segera dicuci pasca penggunaan, makin bagus agar berkurang kemungkinan lemak ASI tertinggal dan lengket lalu basi di struktur dalam pompa. Kenapa di suhu dingin simpannya? Agar kalau mau digunakan dalam waktu dekat, lebih yakin, sebab kalau pun ada ASI yang tertinggal, ASI-nya tidak basi sebab dalam suhu kulkas/dingin.

3. Kalau dibilas air matang atau disteril pakai mesin steriliser steamer, kan biasanya tinggal tuh, droplet-droplet air kaya embun di struktur pompa. Nah, kalau saya ya (ga setuju gapapa hehe, yang jelas alhamdulillah Bilal belum pernah bermasalah pencernaannya dengan cara ini), biasanya langsung pakai tanpa dikeringkan. Kenapa? Sebab airnya matang. ASI kan 88% air, jadi sesama air. Daripada dilap pake tisu lagi, mending yang keikut ke ASI air matang maksudnya. TAPI kalau pake air PDAM/sumur nyucinya, saya lap kering pake tisu. "Daripada"-nya kali ini dibanding air mentah, mending kering + kena tisu. 😁

Idealnya? Cuci + steril tiap kali pake sih. Tapi apa daya, kadang-kadang "kreatifitas" itu penting asal prinsip kebersihan terjaga. Dan ini sangat berguna jika mepet-mepet hehe. Well, apapun, happy pumping dengan pompa yang bersih ya! 😊


Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 3; Marmet VS Segala Jenis Pompa ASI/ Breastpump.

Kembali lagi buat #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal kali ini dalam rangka extra explanation dalam hal memerah ASI.

Yang perlu diingat berkali-kali, menyusui itu rukunnya cuma;
1. Yang menyusui
2. Yang disusui
3. Air susunya

Dan perlu diingat dan diulang berkali-kali juga, hirarki air susu, adalah;
1. ASI dinenenin langsung
2. ASI perah
3. ASI donor dipasteurisasi
4. ASI donor tak dipasteurisasi
5. Susu formula

Maka jika bisa menyusui dengan cara dinenenin langsung, itulah sebaik-baik menyusui. Namun jika tidak memungkinkan sebab harus bekerja keluar rumah, sakit dan dirawat di RS, dsb, ASI perah menjadi alternatifnya, diikuti oleh hirarki selanjutnya. Ingat, "seburuk-buruk" ASI itu lebih baik dari susu formula paling mahal. Jadi hirarkinya jangan dibalik-balik ya.

Cara merah ASI ada 2: diperah TANPA pompa & diperah DENGAN pompa.

ASI bisa diperah tanpa pompa, dengan teknik #Marmet alias memerah menggunakan tangan. Dan ini jelas sangat cocok buat yang ga mau repot bersihin pompa tiap mau merah, khawatir akan sterilitas pompa meski udah disteril (orang yang hidupnya selalu ekstra bersih, which is not me at all huhu) & punya waktu + fasilitas (misalnya ruang menyusui yang bersih & tertutup dari khalayak, secara harus ekstra buka kancing depan baju) untuk memerah secara fokus.

Namun bagi yang mau merah ASI sambil multi tasking alias ga fokus-fokus amat ke proses ASI masuk ke botol perahan (misal merah sambil baca SMS/chatting, nelpon, online, ngerumpi dengan ibu-ibu pekerja lain yang juga sedang merah ASI di ruang yang kantor sediakan, dsb) serta ga masalah agak repot menjaga sterilitas pompa ASI, mungkin #Marmet bukan untuk mereka.

Teknik #Marmet itu MSS;
1) M for Massaging. Cuci tangan, kompres payudara dengan air hangat agar rileks (bisa diskip), lalu massage (pijat payudara dengan 2 atau 4 jari melingkar dari luar ke dalam menuju aureola/area hitam sekitar puting.

2) S for Stroke. Alias tekan/"sisir". Dengan jemari / sisir gigi lebar beneran, "sisir" payudara dari luar ke arah aureola, dari segala arah.


3) S for Shake. Condongin badan, "goyangin" payudara agar ASI turun ke aureola. Lalu perah; 2 jari di aureola atas, 2 lagi di bawahnya, tekan. Done!


JENIS-JENIS POMPA ASI

#SharingPerlengkapanASIXnyaBilal
Di post sebelum ini saya udah ringkas apa itu teknik #Marmet alias merah ASI dengan tangan (detilnya silakan gugel ya, ada banyak bahannya). Nah, sekarang tentang memerah ASI dengan pompa.

Yang paling penting prinsip produksi ASI itu adalah payudara itu kaya teko/cerek; semakin sering "dituang" isinya, semakin sering ia kosong untuk diisi lagi. Tidak ada istilah payudara kecil ASI sedikit atau payudara besar ASI melimpah. Jika tidak sering dikosongkan (dinenenin/diperah), produksi ASI akan semakin melambat dan pelan-pelan menghilang.

Kadang ada bayi yang "dibantu" dengan susu formula (sufor) sebab merasa ASI-nya kurang. Sementara sufor itu dicernanya lebih lambat, bayinya kenyang lebih lama, jeda minum makin panjang, ASI makin ga "kepake" dan menurun produksinya, lalu "terpaksa" balik lagi "dibantu" sufor dan berputarlah lingkarannya; ASI makin dan makin sedikit produksinya sebab "jarang dipake", lalu hilanglah ia.

Pengalaman saya, memerah (baik #Marmet maupun pake pompa) per 2 jam di 1 bulan pertama Bilal lahir membuat pelan-pelan hasil perahan meningkat. Dari cuma 5ml, jadi 10ml, jadi 20 ml, jadi 50ml, jadi 70ml, jadi 100ml hingga kini alhamdulillah bisa 150ml per sekali pompa per payudara jika benar-benar penuh dan tidak diinterupsi Bilal yang minta jatah. 😅

Nah, #pompaASI sendiri setau saya sudah banyak yang diciptakan dari riset bertahun-tahun. Masing-masing merk yang ada di pasaran punya fitur yang didasarkan pada riset mereka. Tapi secara umum, bagan di bawah adalah simpulan umum dan orat-oret pribadi saya dari apa yang saya pahami tentang jenis #pompaASI yang ada.

Manual artinya dioperasikan pakai tangan.
Kelebihan : tak butuh colokan/baterai (Listrik padam? Woles..), kekuatan perahan kita yang atur sendiri, partisinya cenderung lebih tidak rumit dibanding yang elektrik, ringan dan lebih mudah dibersihkan sebab ga ada mesin yang harus kita jaga jangan sampai kena air.

TAPI, manual berarti tenaga tangan mompa kudu oke. Kadang harus gantian tangan kanan-kiri mompa; pegel bok. Beberapa bilang, pompa manual ga bikin payudara kosong maksimal dibanding elektrik + nyumbat saluran ASI kalau sering ga abis diperah, tapi ga selalu.

Btw, hindari #pompaASImanual model balon ya, ASI bisa masuk terhisap ke balon dan bisa jadi sarang bakteri, plus memang ga bisa dibersihin.

Setelah bahas #pompaASImanual, sekarang waktunya #pompaASIelektrik.

Jelas, elektrik butuh sumber energi listrik, baik berupa colokan maupun baterai. Ada yang bisa nyimpan daya (kaya handphone, bisa dicharge), ada yang bisa pake baterai + colokan, ada yang murni butuh colokan. Beda merk + seri biasanya fiturnya beda-beda.

Open system artinya tidak ada valve yang memisahkan mesin (yang menciptakan tarikan pompa) dengan selang/bagian yang menghubungkannya dengan corong pompa. Katanya, sering bikin ASI bisa masuk ke mesin, dan tentu saja tidak bisa dibersihkan dengan air (ntar mesinnya rusak kan?), sehingga bisa jadi sarang bakteri. TAPI, katanya, open system tarikan isapan pompanya lebih kuat dari yang closed system, katanya performa lebih mantap.

Sementara closed system sebaliknya, ada valve yang memisahkan antara mesin dengan bagian lain sehingga dijamin ASI ga masuk ke dalam mesin. Meskipun banyak yang mereview tarikannya tidak semantap yang open system. Ada lebih kuranglah ya. TAPI, harus digarisbawahi kebanyakan #pompaASI yang hospital grade alias digunakan di RS-RS ternama, rata-rata closed system.

Kalau single pump jelas lah ya, cuma bisa mompa satu payudara sekali waktu, sementara double pump bisa pompa dua-dua payudara sekalian. Double pump jelas lebih nambah "beban bawaan" kalau mau dibawa pompa ke kantor misalnya, tapi efisien di waktu.

Single pump sebaliknya, biasanya waktu yang dibutuhkan ya 2x lipat double pump. Plus, ada risiko "ASI mubazir". Contoh: sedang mompa sebelah kanan, kiri uda merembes aja padahal belum dipompa. Meskipun bisa diakalin dengan #breastpad (kalau mau diabaikan rembesan itu) atau #milksaver/botol biasa (buat nampung ASI yang merembes, jadi ga rugi). Semua di atas cuma kesimpulan dari riset kecil-kecilan saya ya, soalnya belum punya #pompaASIelektrik. Tapi one day, insya Allah kalau Bilal punya adik (entah kapan hehe), pompa elektrik+closed system+double pump kayanya bakal jadi pilihan saya. Kalian? 😀


Sharing Perlengkapan ASI Ekslusif Bilal part 2; Pompa ASI/ Breastpump

Saya selalu berusaha untuk tidak jatuh ke #brandloyalty alias jadi fangirl dari merk tertentu. Pun tidak dibayar untuk endorse. Saya sebut merk sebab murni tujuan #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal secara jujur. Dasar saya memilih barang apapun sejauh ini masih berdasar fungsinya, efisiensinya, dan tentu saja harganya harus rasional. 😁

Nah, sebenarnya tetap ya, rukun menyusui cuma ada 3 kaya di postingan sebelumnya; yang menyusui, yang disusui, dan air susunya. Udah titik.

Lho terus, di mana letak perlunya #pompaasi?

Kalau sudah baca postingan sebelum ini, pasti sudah tahu cerita saya yang ASI-nya tidak langsung keluar. Harus melalui beberapa ritual. Mulai dari dipijat pake minyak zaitun, minum susu soda, makan sayur ini itu (as always, daun katup adalah "makanan wajib"). Setelah dipijat oleh ibu saya, sampai nangis bombay sebab nyeri terasa payudara penuh tapi ASI belum keluar juga. Kalau istilah ibu saya "belum keluar matanya". Maka beberapa saat setelah SC, berbekal ingatan dari bacaan yang minim (sebab tidak membekali diri dengan KNOWLEDGE & COMMON SENSE termasuk perawatan payudara yang minimal selama hamil, hiks), saya minta ibu saya membelikan pompa asi dengan niat bisa lebih mudah mencoba memerah (mana tau akhirnya keluar, jadi bisa segera memberi ASI sendiri ke Bilal), sebab untuk menyusui langsung belum bisa; saya masih sulit berjalan sementara Bilal harus dirawat di NICU.

Lalu kembalilah ibu saya ke ruang rawat membawa #DodoManualBreastpump yang modelnya mirip dengan alat tensi darah ini. Setelah dicuci bersih, coba pake. Satu kata; sakit. Sakit payudaranya, juga tangan mompanya. Kaya nensi ga selesai-selesai. Mana balon pompanya keras. Akhirnya nyerah, percobaan memerah lanjut pake tangan aja.

Alhamdulillah akhirnya ASI keluar juga di malam hari ketiga pasca SC, sementara Bilal masih mengonsumsi ASI donor dari Miwa @nianizatrisna sebelum ASI saya hadir. Maka penuh rasa haru, saya dibantu ibu dan suami, merah pake tangan langsung ke botol plastik PP yang kebetulan bagian dari pompa asi Dodo tadi. Lalu gerilyalah suami saya bolak balik antar ASI ke RS.

Alhamdulillah akhirnya ASI saya keluar di hari ketiga. Maka segera kami hubungi ibu susunya Bilal, kakak ipar saya sendiri @nianizatrisna agar tidak perlu memerah lagi. Sehingga "trayek" bang @zulhadisahputra jadi rumah-RS saja, tidak perlu menjemput ASI donor lagi.

Namun kami saat itu masih nyaman memerah dengan tangan. Jika saya kelelahan, ibu dan suami saya berganti-ganti membantu. Pelan-pelan volume perahan bertambah alhamdulillah.

Namun pertambahan volume itu pada akhirnya tidak lagi bisa menyaingi kebutuhan (baca : kehausan) Bilal yang alhamdulillah sudah diperbolehkan pulang saat usia 5 hari setelah terapi sinar (iya, Bilal inkompatibilitas rupanya). Selama di NICU kami sebenarnya sudah wanti-wanti perawat hanya memberikan ASI dengan cup feeder atau pipet. Tapi rupanya, mereka tetap memberi dodot yang (sebenarnya salah kami juga kenapa ngasih sih) merupakan bagian dari botol plastik PP tempat ASI kami bawa. Malah mereka mulai ngasih masukan dodot lain yang lebih lembut agar lebih mudah diminum. Saya dan suami waktu itu sebenarnya sangat kecewa, "dikhianati diam-diam", kok ga konfirmasi dulu ke kita sebelum memperkenalkan dot.

Tapi setelah banyak pertimbangan, konsultasi dengan dokter anaknya Bilal plus menambah bacaan, kami memilih untuk berdamai. Bilal tetap kami berikan ASIP dengan dot. Nanti akan ada bahasannya sendiri tentang ini.

Intinya, sejak pulang ke rumah, Bilal (1.8kg saat pulang dari RS) mulai minum 10ml per jam, lalu 15ml per jam, lalu 20ml per jam, lalu umminya panik sebab kejar setoran ASI dengan cuma memerah pake tangan mulai terasa bikin pegal.

Diskusilah saya dengan beberapa bukibuk pejuang ASI di sekitar saya untuk rekomendasi. Misalnya @unaauun dan @warzukni24 yang rekom #PigeonManualBreastpump, @desty_nazier yang ternyata nyaman dengan #DodoManualBreastpump (saya nyerah mah 😅), umminya dek @maryamqonita_ yang rekom #SpectraElectricBreastpump, @f.larasati yang rekom #MedelaElectricBreastpump dst.

Setelah timbang sana timbang sini, saya memutuskan membeli pompa asi yang manual saja yaitu #PigeonManualBreastpump.

Meskipun saya nyaman dengan #PigeonManualBreastpump sebagai #pompaasi yang ga berisik, mudah dibersihkan (dengan sikat dot, masih bisa dibersihin dalamnya) & nyokong ketersediaan ASI saya selama Bilal masih nyusu melalui dot selama +/- 1 bulan, saya tetap ingin punya pompa ASI yang elektrik bahkan yang doube pump one day.

Kenapa? Sebab #pompaasi itu aset ternyata. Tak hanya untuk wanita yang bekerja tapi tetap ingin memberi ASI bagi anaknya, tapi bagi yang (sedang) memilih untuk jadi #stayathomemother kaya saya juga penting. Stok ASI bisa sewaktu-waktu menjadi sangat berharga lho, contoh: saat kita sakit dan minum obat yang berpengaruh pada ASI, saat kita ingin sesekali cuap-cuap di kajian/seminar apa gitu (curcol bok hoho) & meningkatkan produksi ASI + mencegah terjadinya mastitis alias radang payudara sebab kepenuhan ASI.

Saya pernah mastitis, pas Ramadan yang lalu. Saya kebetulan puasa dan Bilal masih berusia 2-3 bulan. Sempat saat Bilal tidur siang, saya merasa payudara mulai penuh tapi saya malas mompa sebab lemas berpuasa (alasannn). Walhasil sorenya saya makin lemas, meriang, nyeri di payudara. Segeralah pijat-pijat oleh suami dan ibu saya, pompa, nenenin langsung ke Bilal. Alhamdulillah pas magrib langsung baikan. 😅

Saya juga pernah pakai #UnimomManualBreastpump punya kak @nianizatrisna, menurut saya lebih bisa ngeluarin ASI saat Pigeon uda mentok. Cuma bantalan silikonnya yang berjendol-jendol (buat mijat katanya) bikin ASI meluber saat mompa. Buasahh jadinya.


Pigeon bantalan silikonnya polos jadi ga ada adegan basah sekitar dada pas mompa. Plus bisa niru fase menyusui: dangkal & cepat di awal lalu cepat & dalam. Tapi ya namanya manual, pegel juga kalau kelamaan. Makanya saya bilang pompa ASI elektrik double pump sepertinya akan lebih efisien; jadi ga ada Let Down Reflex sia-sia di payudara yang sedang "nganggur" saat satunya lagi dipompa sehingga ga ada ASI yang merembes terbuang kaya saya sekarang. Plus kata dr. Rosaria Indah, "mentor kehidupan" yang selalu support saya dari Sydney sambil S3, pompa manual katanya bisa merusak saluran ASI. Kalau ekstrim kali ya kak hehe. 😁


Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 1; Bilal & ASI yang Tak Segera Keluar

BERIKUT HINGGA BEBERAPA ENTRIES MENDATANG, SAYA BAKAL ARSIP TULISAN MICROBLOGGING DI INSTAGRAM SAYA YANG UDAH SETAHUNAN LEBIH YANG LALU, MAAF NYEPAM. 😁
-----
Setahun lebih yang lalu..

Oke, kita mulai #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal dengan postingan ini, bismillah! Oh ya, "ASIX" maksudnya Air Susu Ibu eXclusive selama 6 bulan yow! Per postingan ini, Bilal sendiri sudah jalan 5 bulan 18 hari alhamdulillah. Sebentar lagi akan boleh ada makanan lain yang menjadi sumber nutrisinya. Hiks, selesai sudah "masa-masa posesif dan monopoli ketersediaan makanan" Bilal. *dasar mak-mak baperan*

Nomor satu, kita harus paham bahwa "rukun menyusui" itu sebenarnya cuma ada 3, ga ribet sama sekali:
1. Yang menyusui
2. Yang disusui
3. Air susu yang diberikan

Nah, pertama, yang menyusui. Ideal dan fitrahnya, seorang ibulah yang harus menyusui anaknya. Namun jika sang ibu tidak dalam keadaan bisa menyusui anaknya (entah langsung meninggal setelah melahirkan, kelainan mental/jiwa yang tidak membuatnya capable mengasuh bayi, dsb), maka bisa saja ibu anak lain menyusui anak tersebut; namanya ibu susu atau sepersusuan. Bagi yang muslim, ingat kisah Halimatussa'diah kan? Yup, ibu susunya Rasulullah saw.

Yang kedua, yang disusui. Nah, jangan salah, ASI alias Air Susu Ibu milik kita pun bisa diberikan kepada anak orang lain atas kesepakatan; nama bekennya ASI donor. Kenapa harus atas kesepakatan? Sebab pada derajat tertentu jika sudah beberapa kali ASI donor diberikan (baik secara langsung atau melalui media seperti botol dsb), secara agama Islam misanya, akan ada konsekuensi menjadi mahram sebab dasar sepersusuan.

Yang ketiga cukup jelas ya. 

Hirarki mengenai air susu buat bayi, kata para ahli di bidangnya, adalah:
1. ASI yang, maaf, dinenenin langsung
2. ASI perahan atau ASIP.
3. ASI donor yang dipasteurisasi
4. ASI donor langsung
5. Susu formula atau Sufor

Saya selalu berusaha tidak menjadi "NAZI"-nya dunia per-ASI-an. Kenapa? Kadang memang tidak semua orang punya kondisi sesuportif yang ideal; entah suami dan keluarga yang mendukung, keadaan medis kurang menguntungkan pasca melahirkan, ilmu yang tidak sampai padanya (sebab tinggal di antah-berantah misalnya) dsb. I mean, be in their shoes and then judge them; bukan sebaliknya. Saya pribadi sih pegang prinsip " please judge, I care not" . Cuma, ya, belajarlah banyak-banyak sebelum panik menyerang. J

Bilal sendiri lahir di hari-hari awal masuk bulan kesembilan kehamilan. Saya mengalami Pre Eklamsia Berat. Tensi saya naik pelan-pelan di bulan ketujuh kehamilan, mulai dari 120 mmHg, 130 mmHg, 140 mmHg sampai pernah 160 mmHg.

Sempat mengira cuma karena kelelahan, maklum, selama hamil saya sempat sebulan pertama kehamilan di Puskesmas Samadua, 4 bulan di IGD dan sisanya di instalasi rawat inap RS Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Selama di IGD saya sempat mengalami dua kali perdarahan tapi sedikit. Pernah istirahat minta izin ga jaga IGD 3 hari. Nah, kirain tensi yang naik terus itu cuma karena cape jaga. Makanya ga merasa ini adalah kelainan. Dokter tapi bebal ya gini, heuheu, jangan ditiru.

Sampai akhirnya saya mulai membengkak sembab dan mata terasa menyipit ekstra sebab kelopak mata kaya baru bangun tidur sembab gitu..tapi seharian! Lalu saya cek protein total di lab RS, dan lebih tinggi dari normal. Singkat cerita saya mulai nyadar dan kontrol ke dokter obsgyn di Tapaktuan, juga diberi wanti-wanti yang sama dengan dugaan saya; eklamsia.

Maka tanpa berani meriksa urin (sebab uda feeling bakal positif heuheu) saya minta dijemput keluarga lebih cepat dari rencana. Minggu saya tiba di rumah, Selasa malam saya kontrol ke dokter obsgyn di Banda Aceh, Rabu pagi saya sudah SC cyto. Di meja operasi, kata sang dokter, tensi saya bahkan mencapai sistolik 190-200 mmHg. Allahumma, mual selama dicaesar itu luar biasa.

Lalu Bilal pun dikeluarkan dari perut saya, tapi tak ada suara tangisan. Panik. Bilal dilarikan keluar kamar operasi oleh dokter anak. Saat-saat seperti itu saya benci tahu apa artinya itu. Bilal mengalami asfiksia. Bilal mungkin tidak bisa rawat bersama dengan saya. Apa Bilal mengalami inkompatibilitas, mengingat saya bergoldar O sementara suami A. Saya ingat hangatnya air mata yang membasahi pinggir mata. Cuma bisa pasrah & doa.

Selang 15 menitan sayup-sayup suara bayi menangis di kejauhan pun terdengar. Namun pupuslah sudah keinginan untuk IMD alias Inisiasi Menyusu Dini. Beratnya 2 kilo, sesekali masih sesak. Tak bisa jauh dari observasi dulu. Maka Bilal lahir tanpa melalui prosedur ideal yang selalu saya pahami semasa pendidikan menjadi dokter. Tak ada IMD alias Inisiasi Menyusu Dini. Tak ada rawat gabung alias rooming in. Tak ada percobaan menyusui langsung.

Bilal harus masuk NICU level 2 dan ditempatkan dalam inkubator. Harus menggunakan selang oksigen, selang OGT, infus terpasang. Dan saya hanya bisa mendengar tentang kondisinya dari bang @zulhadisahputra yang bolak balik ke NICU sebab saya masih belum mobile pasca operasi sampai 2 hari.

Makin trenyuhlah. PEB saya pun belum mau berdamai, tensi saya bertahan di sistolik 150 mmHg. Terapi MgSO4 saya masih lanjut. Allahumma, panas sekali rasanya, haus dan berkeringat bertambah-tambah.

Di tengah-tengah menahan panas terapi PEB, saya teringat Bilal belum mendapat ASI saya. Sebab semua tiba-tiba, saya belum sempat beli pompa ASI, saya belum menguasai teknik pijat payudara dan "teknik-teknik" mengundang hadirnya ASI sebelum bisa menyusui Bilal langsung (Hiks, maafkan Ummi belum terdukASI dengan baik saat itu, ya Nak). Alhamdulillah, selain suami, anggota keluarga lain tak kalah dukungannya. Saya bersyukur pada Allah telah dikaruniai Mamak yang bisa memijat payudara sampai ASI saya keluar. Juga adik-adik tersayang @dianisrawati, @zuhrasrimulyani dan @raudhatuljannah_zulfadli yang bergantian ke rumah sakit, termasuk adikiparanda @marlisarahmi yang sampai menginap dan bantu piket kipas-kipas. Termasuk support nun jauh dari Sydney from beloved Kak Rosaria Indah yang terus kept in touch by phone with us.

Nah, masalahnya ASI saya baru keluar setelah saya pulang setelah 3 hari dari RS sementara Bilal masih harus dirawat di NICU sebab masih sesak sesekali plus kuning karena curiga inkompatibilitas. Ya. Golongan darahnya A sementara saya O (silakan gugel apa itu ya inkompatibilitas ABO). 

Padahal dari hari ke-2 pihak NICU sudah meminta ASI. Saya makin panik, belum keluar, dan makin ga keluar sebab kecemasan tiada tara.

Lalu sempat "kalah"-lah kami pada pilihan hirarki air susu no.5 #iykwim, dua kali pemberian. Alhamdulillah, sebab melihat seorang teman yang menggunakan ASI donor (credit goes to Kak Yusni Zahara dan Bang Saiful Akmal yang bayinya lahir sehari lebih cepat dari bayi kami), saya dan bang @zulhadisahputra teringat akan kakakiparanda @nianizatrisna! Sebab sedang dalam proses menyapih anaknya, ASI-nya masih ada meski tidak terlalu banyak.

Alhamdulillah Bilal jadi punya ibu susu. Kebutuhan ASI Bilal untuk sementara terpenuhi sambil saya terus berusaha dan berdoa agar ASI segera hadir. Dan dalam perjalanan ASI Eksklusif selanjutnya, berikut adalah hal-hal yang menemani saya melaluinya.

Jadi kalau uda baca sedikit prolong sebelumnya, pasti paham kan kenapa saya share tentang ini duluan. Iya, ilmu itu kudu diupdate jauh-jauh hari bahkan kalau perlu sebelum punya anak/sebelum menikah. Alhamdulillah dapat kado dari kakakiparanda Nianiza Trisna​ buku Catatan Ayah ASI, lumayan ringkas dan compact yet full with knowledge and sharings from others. Infografisnya juga banyak, jadi ga ngebosenin bacanya.

Lalu semua ilmu itu, jangan cuma dipegang secara saklek. Atau kalau ga kita cuma akan tertekan jika kondisi tak diduga hadir. Pikirkan skenario-skenario yang mungkin terjadi dan apa kira-kira jalan yang akan ditempuh. Di situlah common sense dibutuhkan. Gunakan nurani, dengarkan suara hati yang paling dalam. A good parenting is when you always try to listen to the real situations and deal with them. And make sure those calls come from enough knowledge ya!


Oh ya, imbauan ini bukan cuma buat bukibuk ya, pakbapak jugak. Anak itu tanggung jawab berdua, bukan si emak doang. "Benih"-nya kan dari dua orang, masa tugas ngurusin dan mendidiknya cuma ke satu orang aja, kan ga adil. Harus sama pinternya, atau lebih kalau perlu. Percayalah, bukibuk hamil dan melahirkan kadang untuk sementara waktu bisa ga sanggup baca lama-lama buat update ilmu. Suami bisa bantu di situ. Selalu senangkan hati istri agar produksi ASI makin lancar. Transfer duit belanja lebih biar meski sedang "madeung" di rumah, belanja (baca : online shopping) tetap jalan dan istri bahagia. :p