Tuesday, September 26, 2017

Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 1; Bilal & ASI yang Tak Segera Keluar

BERIKUT HINGGA BEBERAPA ENTRIES MENDATANG, SAYA BAKAL ARSIP TULISAN MICROBLOGGING DI INSTAGRAM SAYA YANG UDAH SETAHUNAN LEBIH YANG LALU, MAAF NYEPAM. 😁
-----
Setahun lebih yang lalu..

Oke, kita mulai #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal dengan postingan ini, bismillah! Oh ya, "ASIX" maksudnya Air Susu Ibu eXclusive selama 6 bulan yow! Per postingan ini, Bilal sendiri sudah jalan 5 bulan 18 hari alhamdulillah. Sebentar lagi akan boleh ada makanan lain yang menjadi sumber nutrisinya. Hiks, selesai sudah "masa-masa posesif dan monopoli ketersediaan makanan" Bilal. *dasar mak-mak baperan*

Nomor satu, kita harus paham bahwa "rukun menyusui" itu sebenarnya cuma ada 3, ga ribet sama sekali:
1. Yang menyusui
2. Yang disusui
3. Air susu yang diberikan

Nah, pertama, yang menyusui. Ideal dan fitrahnya, seorang ibulah yang harus menyusui anaknya. Namun jika sang ibu tidak dalam keadaan bisa menyusui anaknya (entah langsung meninggal setelah melahirkan, kelainan mental/jiwa yang tidak membuatnya capable mengasuh bayi, dsb), maka bisa saja ibu anak lain menyusui anak tersebut; namanya ibu susu atau sepersusuan. Bagi yang muslim, ingat kisah Halimatussa'diah kan? Yup, ibu susunya Rasulullah saw.

Yang kedua, yang disusui. Nah, jangan salah, ASI alias Air Susu Ibu milik kita pun bisa diberikan kepada anak orang lain atas kesepakatan; nama bekennya ASI donor. Kenapa harus atas kesepakatan? Sebab pada derajat tertentu jika sudah beberapa kali ASI donor diberikan (baik secara langsung atau melalui media seperti botol dsb), secara agama Islam misanya, akan ada konsekuensi menjadi mahram sebab dasar sepersusuan.

Yang ketiga cukup jelas ya. 

Hirarki mengenai air susu buat bayi, kata para ahli di bidangnya, adalah:
1. ASI yang, maaf, dinenenin langsung
2. ASI perahan atau ASIP.
3. ASI donor yang dipasteurisasi
4. ASI donor langsung
5. Susu formula atau Sufor

Saya selalu berusaha tidak menjadi "NAZI"-nya dunia per-ASI-an. Kenapa? Kadang memang tidak semua orang punya kondisi sesuportif yang ideal; entah suami dan keluarga yang mendukung, keadaan medis kurang menguntungkan pasca melahirkan, ilmu yang tidak sampai padanya (sebab tinggal di antah-berantah misalnya) dsb. I mean, be in their shoes and then judge them; bukan sebaliknya. Saya pribadi sih pegang prinsip " please judge, I care not" . Cuma, ya, belajarlah banyak-banyak sebelum panik menyerang. J

Bilal sendiri lahir di hari-hari awal masuk bulan kesembilan kehamilan. Saya mengalami Pre Eklamsia Berat. Tensi saya naik pelan-pelan di bulan ketujuh kehamilan, mulai dari 120 mmHg, 130 mmHg, 140 mmHg sampai pernah 160 mmHg.

Sempat mengira cuma karena kelelahan, maklum, selama hamil saya sempat sebulan pertama kehamilan di Puskesmas Samadua, 4 bulan di IGD dan sisanya di instalasi rawat inap RS Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan. Selama di IGD saya sempat mengalami dua kali perdarahan tapi sedikit. Pernah istirahat minta izin ga jaga IGD 3 hari. Nah, kirain tensi yang naik terus itu cuma karena cape jaga. Makanya ga merasa ini adalah kelainan. Dokter tapi bebal ya gini, heuheu, jangan ditiru.

Sampai akhirnya saya mulai membengkak sembab dan mata terasa menyipit ekstra sebab kelopak mata kaya baru bangun tidur sembab gitu..tapi seharian! Lalu saya cek protein total di lab RS, dan lebih tinggi dari normal. Singkat cerita saya mulai nyadar dan kontrol ke dokter obsgyn di Tapaktuan, juga diberi wanti-wanti yang sama dengan dugaan saya; eklamsia.

Maka tanpa berani meriksa urin (sebab uda feeling bakal positif heuheu) saya minta dijemput keluarga lebih cepat dari rencana. Minggu saya tiba di rumah, Selasa malam saya kontrol ke dokter obsgyn di Banda Aceh, Rabu pagi saya sudah SC cyto. Di meja operasi, kata sang dokter, tensi saya bahkan mencapai sistolik 190-200 mmHg. Allahumma, mual selama dicaesar itu luar biasa.

Lalu Bilal pun dikeluarkan dari perut saya, tapi tak ada suara tangisan. Panik. Bilal dilarikan keluar kamar operasi oleh dokter anak. Saat-saat seperti itu saya benci tahu apa artinya itu. Bilal mengalami asfiksia. Bilal mungkin tidak bisa rawat bersama dengan saya. Apa Bilal mengalami inkompatibilitas, mengingat saya bergoldar O sementara suami A. Saya ingat hangatnya air mata yang membasahi pinggir mata. Cuma bisa pasrah & doa.

Selang 15 menitan sayup-sayup suara bayi menangis di kejauhan pun terdengar. Namun pupuslah sudah keinginan untuk IMD alias Inisiasi Menyusu Dini. Beratnya 2 kilo, sesekali masih sesak. Tak bisa jauh dari observasi dulu. Maka Bilal lahir tanpa melalui prosedur ideal yang selalu saya pahami semasa pendidikan menjadi dokter. Tak ada IMD alias Inisiasi Menyusu Dini. Tak ada rawat gabung alias rooming in. Tak ada percobaan menyusui langsung.

Bilal harus masuk NICU level 2 dan ditempatkan dalam inkubator. Harus menggunakan selang oksigen, selang OGT, infus terpasang. Dan saya hanya bisa mendengar tentang kondisinya dari bang @zulhadisahputra yang bolak balik ke NICU sebab saya masih belum mobile pasca operasi sampai 2 hari.

Makin trenyuhlah. PEB saya pun belum mau berdamai, tensi saya bertahan di sistolik 150 mmHg. Terapi MgSO4 saya masih lanjut. Allahumma, panas sekali rasanya, haus dan berkeringat bertambah-tambah.

Di tengah-tengah menahan panas terapi PEB, saya teringat Bilal belum mendapat ASI saya. Sebab semua tiba-tiba, saya belum sempat beli pompa ASI, saya belum menguasai teknik pijat payudara dan "teknik-teknik" mengundang hadirnya ASI sebelum bisa menyusui Bilal langsung (Hiks, maafkan Ummi belum terdukASI dengan baik saat itu, ya Nak). Alhamdulillah, selain suami, anggota keluarga lain tak kalah dukungannya. Saya bersyukur pada Allah telah dikaruniai Mamak yang bisa memijat payudara sampai ASI saya keluar. Juga adik-adik tersayang @dianisrawati, @zuhrasrimulyani dan @raudhatuljannah_zulfadli yang bergantian ke rumah sakit, termasuk adikiparanda @marlisarahmi yang sampai menginap dan bantu piket kipas-kipas. Termasuk support nun jauh dari Sydney from beloved Kak Rosaria Indah yang terus kept in touch by phone with us.

Nah, masalahnya ASI saya baru keluar setelah saya pulang setelah 3 hari dari RS sementara Bilal masih harus dirawat di NICU sebab masih sesak sesekali plus kuning karena curiga inkompatibilitas. Ya. Golongan darahnya A sementara saya O (silakan gugel apa itu ya inkompatibilitas ABO). 

Padahal dari hari ke-2 pihak NICU sudah meminta ASI. Saya makin panik, belum keluar, dan makin ga keluar sebab kecemasan tiada tara.

Lalu sempat "kalah"-lah kami pada pilihan hirarki air susu no.5 #iykwim, dua kali pemberian. Alhamdulillah, sebab melihat seorang teman yang menggunakan ASI donor (credit goes to Kak Yusni Zahara dan Bang Saiful Akmal yang bayinya lahir sehari lebih cepat dari bayi kami), saya dan bang @zulhadisahputra teringat akan kakakiparanda @nianizatrisna! Sebab sedang dalam proses menyapih anaknya, ASI-nya masih ada meski tidak terlalu banyak.

Alhamdulillah Bilal jadi punya ibu susu. Kebutuhan ASI Bilal untuk sementara terpenuhi sambil saya terus berusaha dan berdoa agar ASI segera hadir. Dan dalam perjalanan ASI Eksklusif selanjutnya, berikut adalah hal-hal yang menemani saya melaluinya.

Jadi kalau uda baca sedikit prolong sebelumnya, pasti paham kan kenapa saya share tentang ini duluan. Iya, ilmu itu kudu diupdate jauh-jauh hari bahkan kalau perlu sebelum punya anak/sebelum menikah. Alhamdulillah dapat kado dari kakakiparanda Nianiza Trisna​ buku Catatan Ayah ASI, lumayan ringkas dan compact yet full with knowledge and sharings from others. Infografisnya juga banyak, jadi ga ngebosenin bacanya.

Lalu semua ilmu itu, jangan cuma dipegang secara saklek. Atau kalau ga kita cuma akan tertekan jika kondisi tak diduga hadir. Pikirkan skenario-skenario yang mungkin terjadi dan apa kira-kira jalan yang akan ditempuh. Di situlah common sense dibutuhkan. Gunakan nurani, dengarkan suara hati yang paling dalam. A good parenting is when you always try to listen to the real situations and deal with them. And make sure those calls come from enough knowledge ya!


Oh ya, imbauan ini bukan cuma buat bukibuk ya, pakbapak jugak. Anak itu tanggung jawab berdua, bukan si emak doang. "Benih"-nya kan dari dua orang, masa tugas ngurusin dan mendidiknya cuma ke satu orang aja, kan ga adil. Harus sama pinternya, atau lebih kalau perlu. Percayalah, bukibuk hamil dan melahirkan kadang untuk sementara waktu bisa ga sanggup baca lama-lama buat update ilmu. Suami bisa bantu di situ. Selalu senangkan hati istri agar produksi ASI makin lancar. Transfer duit belanja lebih biar meski sedang "madeung" di rumah, belanja (baca : online shopping) tetap jalan dan istri bahagia. :p


No comments:

Post a Comment