Tuesday, September 26, 2017

Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 3; Marmet VS Segala Jenis Pompa ASI/ Breastpump.

Kembali lagi buat #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal kali ini dalam rangka extra explanation dalam hal memerah ASI.

Yang perlu diingat berkali-kali, menyusui itu rukunnya cuma;
1. Yang menyusui
2. Yang disusui
3. Air susunya

Dan perlu diingat dan diulang berkali-kali juga, hirarki air susu, adalah;
1. ASI dinenenin langsung
2. ASI perah
3. ASI donor dipasteurisasi
4. ASI donor tak dipasteurisasi
5. Susu formula

Maka jika bisa menyusui dengan cara dinenenin langsung, itulah sebaik-baik menyusui. Namun jika tidak memungkinkan sebab harus bekerja keluar rumah, sakit dan dirawat di RS, dsb, ASI perah menjadi alternatifnya, diikuti oleh hirarki selanjutnya. Ingat, "seburuk-buruk" ASI itu lebih baik dari susu formula paling mahal. Jadi hirarkinya jangan dibalik-balik ya.

Cara merah ASI ada 2: diperah TANPA pompa & diperah DENGAN pompa.

ASI bisa diperah tanpa pompa, dengan teknik #Marmet alias memerah menggunakan tangan. Dan ini jelas sangat cocok buat yang ga mau repot bersihin pompa tiap mau merah, khawatir akan sterilitas pompa meski udah disteril (orang yang hidupnya selalu ekstra bersih, which is not me at all huhu) & punya waktu + fasilitas (misalnya ruang menyusui yang bersih & tertutup dari khalayak, secara harus ekstra buka kancing depan baju) untuk memerah secara fokus.

Namun bagi yang mau merah ASI sambil multi tasking alias ga fokus-fokus amat ke proses ASI masuk ke botol perahan (misal merah sambil baca SMS/chatting, nelpon, online, ngerumpi dengan ibu-ibu pekerja lain yang juga sedang merah ASI di ruang yang kantor sediakan, dsb) serta ga masalah agak repot menjaga sterilitas pompa ASI, mungkin #Marmet bukan untuk mereka.

Teknik #Marmet itu MSS;
1) M for Massaging. Cuci tangan, kompres payudara dengan air hangat agar rileks (bisa diskip), lalu massage (pijat payudara dengan 2 atau 4 jari melingkar dari luar ke dalam menuju aureola/area hitam sekitar puting.

2) S for Stroke. Alias tekan/"sisir". Dengan jemari / sisir gigi lebar beneran, "sisir" payudara dari luar ke arah aureola, dari segala arah.


3) S for Shake. Condongin badan, "goyangin" payudara agar ASI turun ke aureola. Lalu perah; 2 jari di aureola atas, 2 lagi di bawahnya, tekan. Done!


JENIS-JENIS POMPA ASI

#SharingPerlengkapanASIXnyaBilal
Di post sebelum ini saya udah ringkas apa itu teknik #Marmet alias merah ASI dengan tangan (detilnya silakan gugel ya, ada banyak bahannya). Nah, sekarang tentang memerah ASI dengan pompa.

Yang paling penting prinsip produksi ASI itu adalah payudara itu kaya teko/cerek; semakin sering "dituang" isinya, semakin sering ia kosong untuk diisi lagi. Tidak ada istilah payudara kecil ASI sedikit atau payudara besar ASI melimpah. Jika tidak sering dikosongkan (dinenenin/diperah), produksi ASI akan semakin melambat dan pelan-pelan menghilang.

Kadang ada bayi yang "dibantu" dengan susu formula (sufor) sebab merasa ASI-nya kurang. Sementara sufor itu dicernanya lebih lambat, bayinya kenyang lebih lama, jeda minum makin panjang, ASI makin ga "kepake" dan menurun produksinya, lalu "terpaksa" balik lagi "dibantu" sufor dan berputarlah lingkarannya; ASI makin dan makin sedikit produksinya sebab "jarang dipake", lalu hilanglah ia.

Pengalaman saya, memerah (baik #Marmet maupun pake pompa) per 2 jam di 1 bulan pertama Bilal lahir membuat pelan-pelan hasil perahan meningkat. Dari cuma 5ml, jadi 10ml, jadi 20 ml, jadi 50ml, jadi 70ml, jadi 100ml hingga kini alhamdulillah bisa 150ml per sekali pompa per payudara jika benar-benar penuh dan tidak diinterupsi Bilal yang minta jatah. 😅

Nah, #pompaASI sendiri setau saya sudah banyak yang diciptakan dari riset bertahun-tahun. Masing-masing merk yang ada di pasaran punya fitur yang didasarkan pada riset mereka. Tapi secara umum, bagan di bawah adalah simpulan umum dan orat-oret pribadi saya dari apa yang saya pahami tentang jenis #pompaASI yang ada.

Manual artinya dioperasikan pakai tangan.
Kelebihan : tak butuh colokan/baterai (Listrik padam? Woles..), kekuatan perahan kita yang atur sendiri, partisinya cenderung lebih tidak rumit dibanding yang elektrik, ringan dan lebih mudah dibersihkan sebab ga ada mesin yang harus kita jaga jangan sampai kena air.

TAPI, manual berarti tenaga tangan mompa kudu oke. Kadang harus gantian tangan kanan-kiri mompa; pegel bok. Beberapa bilang, pompa manual ga bikin payudara kosong maksimal dibanding elektrik + nyumbat saluran ASI kalau sering ga abis diperah, tapi ga selalu.

Btw, hindari #pompaASImanual model balon ya, ASI bisa masuk terhisap ke balon dan bisa jadi sarang bakteri, plus memang ga bisa dibersihin.

Setelah bahas #pompaASImanual, sekarang waktunya #pompaASIelektrik.

Jelas, elektrik butuh sumber energi listrik, baik berupa colokan maupun baterai. Ada yang bisa nyimpan daya (kaya handphone, bisa dicharge), ada yang bisa pake baterai + colokan, ada yang murni butuh colokan. Beda merk + seri biasanya fiturnya beda-beda.

Open system artinya tidak ada valve yang memisahkan mesin (yang menciptakan tarikan pompa) dengan selang/bagian yang menghubungkannya dengan corong pompa. Katanya, sering bikin ASI bisa masuk ke mesin, dan tentu saja tidak bisa dibersihkan dengan air (ntar mesinnya rusak kan?), sehingga bisa jadi sarang bakteri. TAPI, katanya, open system tarikan isapan pompanya lebih kuat dari yang closed system, katanya performa lebih mantap.

Sementara closed system sebaliknya, ada valve yang memisahkan antara mesin dengan bagian lain sehingga dijamin ASI ga masuk ke dalam mesin. Meskipun banyak yang mereview tarikannya tidak semantap yang open system. Ada lebih kuranglah ya. TAPI, harus digarisbawahi kebanyakan #pompaASI yang hospital grade alias digunakan di RS-RS ternama, rata-rata closed system.

Kalau single pump jelas lah ya, cuma bisa mompa satu payudara sekali waktu, sementara double pump bisa pompa dua-dua payudara sekalian. Double pump jelas lebih nambah "beban bawaan" kalau mau dibawa pompa ke kantor misalnya, tapi efisien di waktu.

Single pump sebaliknya, biasanya waktu yang dibutuhkan ya 2x lipat double pump. Plus, ada risiko "ASI mubazir". Contoh: sedang mompa sebelah kanan, kiri uda merembes aja padahal belum dipompa. Meskipun bisa diakalin dengan #breastpad (kalau mau diabaikan rembesan itu) atau #milksaver/botol biasa (buat nampung ASI yang merembes, jadi ga rugi). Semua di atas cuma kesimpulan dari riset kecil-kecilan saya ya, soalnya belum punya #pompaASIelektrik. Tapi one day, insya Allah kalau Bilal punya adik (entah kapan hehe), pompa elektrik+closed system+double pump kayanya bakal jadi pilihan saya. Kalian? 😀


No comments:

Post a Comment