Tuesday, September 26, 2017

Sharing Perlengkapan ASI Ekslusif Bilal part 2; Pompa ASI/ Breastpump

Saya selalu berusaha untuk tidak jatuh ke #brandloyalty alias jadi fangirl dari merk tertentu. Pun tidak dibayar untuk endorse. Saya sebut merk sebab murni tujuan #SharingPerlengkapanASIXnyaBilal secara jujur. Dasar saya memilih barang apapun sejauh ini masih berdasar fungsinya, efisiensinya, dan tentu saja harganya harus rasional. 😁

Nah, sebenarnya tetap ya, rukun menyusui cuma ada 3 kaya di postingan sebelumnya; yang menyusui, yang disusui, dan air susunya. Udah titik.

Lho terus, di mana letak perlunya #pompaasi?

Kalau sudah baca postingan sebelum ini, pasti sudah tahu cerita saya yang ASI-nya tidak langsung keluar. Harus melalui beberapa ritual. Mulai dari dipijat pake minyak zaitun, minum susu soda, makan sayur ini itu (as always, daun katup adalah "makanan wajib"). Setelah dipijat oleh ibu saya, sampai nangis bombay sebab nyeri terasa payudara penuh tapi ASI belum keluar juga. Kalau istilah ibu saya "belum keluar matanya". Maka beberapa saat setelah SC, berbekal ingatan dari bacaan yang minim (sebab tidak membekali diri dengan KNOWLEDGE & COMMON SENSE termasuk perawatan payudara yang minimal selama hamil, hiks), saya minta ibu saya membelikan pompa asi dengan niat bisa lebih mudah mencoba memerah (mana tau akhirnya keluar, jadi bisa segera memberi ASI sendiri ke Bilal), sebab untuk menyusui langsung belum bisa; saya masih sulit berjalan sementara Bilal harus dirawat di NICU.

Lalu kembalilah ibu saya ke ruang rawat membawa #DodoManualBreastpump yang modelnya mirip dengan alat tensi darah ini. Setelah dicuci bersih, coba pake. Satu kata; sakit. Sakit payudaranya, juga tangan mompanya. Kaya nensi ga selesai-selesai. Mana balon pompanya keras. Akhirnya nyerah, percobaan memerah lanjut pake tangan aja.

Alhamdulillah akhirnya ASI keluar juga di malam hari ketiga pasca SC, sementara Bilal masih mengonsumsi ASI donor dari Miwa @nianizatrisna sebelum ASI saya hadir. Maka penuh rasa haru, saya dibantu ibu dan suami, merah pake tangan langsung ke botol plastik PP yang kebetulan bagian dari pompa asi Dodo tadi. Lalu gerilyalah suami saya bolak balik antar ASI ke RS.

Alhamdulillah akhirnya ASI saya keluar di hari ketiga. Maka segera kami hubungi ibu susunya Bilal, kakak ipar saya sendiri @nianizatrisna agar tidak perlu memerah lagi. Sehingga "trayek" bang @zulhadisahputra jadi rumah-RS saja, tidak perlu menjemput ASI donor lagi.

Namun kami saat itu masih nyaman memerah dengan tangan. Jika saya kelelahan, ibu dan suami saya berganti-ganti membantu. Pelan-pelan volume perahan bertambah alhamdulillah.

Namun pertambahan volume itu pada akhirnya tidak lagi bisa menyaingi kebutuhan (baca : kehausan) Bilal yang alhamdulillah sudah diperbolehkan pulang saat usia 5 hari setelah terapi sinar (iya, Bilal inkompatibilitas rupanya). Selama di NICU kami sebenarnya sudah wanti-wanti perawat hanya memberikan ASI dengan cup feeder atau pipet. Tapi rupanya, mereka tetap memberi dodot yang (sebenarnya salah kami juga kenapa ngasih sih) merupakan bagian dari botol plastik PP tempat ASI kami bawa. Malah mereka mulai ngasih masukan dodot lain yang lebih lembut agar lebih mudah diminum. Saya dan suami waktu itu sebenarnya sangat kecewa, "dikhianati diam-diam", kok ga konfirmasi dulu ke kita sebelum memperkenalkan dot.

Tapi setelah banyak pertimbangan, konsultasi dengan dokter anaknya Bilal plus menambah bacaan, kami memilih untuk berdamai. Bilal tetap kami berikan ASIP dengan dot. Nanti akan ada bahasannya sendiri tentang ini.

Intinya, sejak pulang ke rumah, Bilal (1.8kg saat pulang dari RS) mulai minum 10ml per jam, lalu 15ml per jam, lalu 20ml per jam, lalu umminya panik sebab kejar setoran ASI dengan cuma memerah pake tangan mulai terasa bikin pegal.

Diskusilah saya dengan beberapa bukibuk pejuang ASI di sekitar saya untuk rekomendasi. Misalnya @unaauun dan @warzukni24 yang rekom #PigeonManualBreastpump, @desty_nazier yang ternyata nyaman dengan #DodoManualBreastpump (saya nyerah mah 😅), umminya dek @maryamqonita_ yang rekom #SpectraElectricBreastpump, @f.larasati yang rekom #MedelaElectricBreastpump dst.

Setelah timbang sana timbang sini, saya memutuskan membeli pompa asi yang manual saja yaitu #PigeonManualBreastpump.

Meskipun saya nyaman dengan #PigeonManualBreastpump sebagai #pompaasi yang ga berisik, mudah dibersihkan (dengan sikat dot, masih bisa dibersihin dalamnya) & nyokong ketersediaan ASI saya selama Bilal masih nyusu melalui dot selama +/- 1 bulan, saya tetap ingin punya pompa ASI yang elektrik bahkan yang doube pump one day.

Kenapa? Sebab #pompaasi itu aset ternyata. Tak hanya untuk wanita yang bekerja tapi tetap ingin memberi ASI bagi anaknya, tapi bagi yang (sedang) memilih untuk jadi #stayathomemother kaya saya juga penting. Stok ASI bisa sewaktu-waktu menjadi sangat berharga lho, contoh: saat kita sakit dan minum obat yang berpengaruh pada ASI, saat kita ingin sesekali cuap-cuap di kajian/seminar apa gitu (curcol bok hoho) & meningkatkan produksi ASI + mencegah terjadinya mastitis alias radang payudara sebab kepenuhan ASI.

Saya pernah mastitis, pas Ramadan yang lalu. Saya kebetulan puasa dan Bilal masih berusia 2-3 bulan. Sempat saat Bilal tidur siang, saya merasa payudara mulai penuh tapi saya malas mompa sebab lemas berpuasa (alasannn). Walhasil sorenya saya makin lemas, meriang, nyeri di payudara. Segeralah pijat-pijat oleh suami dan ibu saya, pompa, nenenin langsung ke Bilal. Alhamdulillah pas magrib langsung baikan. 😅

Saya juga pernah pakai #UnimomManualBreastpump punya kak @nianizatrisna, menurut saya lebih bisa ngeluarin ASI saat Pigeon uda mentok. Cuma bantalan silikonnya yang berjendol-jendol (buat mijat katanya) bikin ASI meluber saat mompa. Buasahh jadinya.


Pigeon bantalan silikonnya polos jadi ga ada adegan basah sekitar dada pas mompa. Plus bisa niru fase menyusui: dangkal & cepat di awal lalu cepat & dalam. Tapi ya namanya manual, pegel juga kalau kelamaan. Makanya saya bilang pompa ASI elektrik double pump sepertinya akan lebih efisien; jadi ga ada Let Down Reflex sia-sia di payudara yang sedang "nganggur" saat satunya lagi dipompa sehingga ga ada ASI yang merembes terbuang kaya saya sekarang. Plus kata dr. Rosaria Indah, "mentor kehidupan" yang selalu support saya dari Sydney sambil S3, pompa manual katanya bisa merusak saluran ASI. Kalau ekstrim kali ya kak hehe. 😁


No comments:

Post a Comment