Monday, October 2, 2017

Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal part 5; Persiapan Tempur Selain Pompa ASI


1. BANTAL MENYUSUI/ BOPPY PILLOW

Bantal yang bentuknya melingkar ini banyak sekali manfaatnya. Mulai dari menopang tubuh bayi pas menyusui sampai buat bayinya belajar tengkurap & duduk termasuk bantal yang enak dipake bobo orang tuanya. 😆



Trust me, it helps a lot dan patut dijadikan pertimbangan kado buat teman-teman kalian yang baru melahirkan. Saya pribadi awalnya pake bantal tidur biasa untuk menopang Bilal yang saat itu "mini" sekali (ga bisa ga pake bantal, masih degdegan dengan keringkihannya). Tapi tangan kurang tertopang, jadi pegal. Akhirnya dibeliin #bantalmenyusui ini sama abatinya Bilal @zulhadisahputra. 💙




✔ Durable alias tahan lama 
✔ Tangan ibu tertopang, enak menyusuinya 
✔ Bayi ga mudah tergelincir pas menyusui 
✔ Bisa dijadiin tempat bayi latihan tengkurap 
✔ Bisa juga buat bayi latihan duduk 
✔ Kalau ibunya hamil lagi, bisa buat bobo sendiri





2. NIPPLE SHIELD




Dari bentuknya uda ketangkap ga sih fungsinya apa hehe. Jadi bukan bermaksud kemakan #brandloyalty tapi memang suka sama beberapa produk @pigeon_baby_indonesia terutama yang - katanya - mendukung pemberian ASI eksklusif. Termasuk produk yang satu ini; #PigeonNippleShield alias pelindung puting yang terluka/lecet/dsb saat menyusui si bayinya langsung. Belakangan baru paham, ternyata menggunakan ini sama "dosa"-nya dengan menggunakan dot/kompeng sebab berisiko besar menimbulkan bingung puting.




Jadi kan ceritanya Bilal uda sebulan full time minum ASIP dari #PigeonPeristalticNipple sebab belum bisa ngisap ASI langsung dari payudara. Nah menjelang masuk usia dua bulan, saya dengan bantuan suami dan ibu "memanipulasi" Bilal untuk menyusu langsung (baca: nenen) alias #relaktasi.

Iya, butuh bantuan sebab harus bantu megangin (maaf) sebagian payudara agar Bilal ga kelelep, maklum, kepala #HafizDoll aja masih lebih besar dari kepala Bilal waktu itu. 😩

Dan karena belum familiar seutuhnya, dalam proses "manipulasi" itu, Bilal masih sering seperti menggigiti puting umminya. Masya Allah, langsung kebayang ibu sendiri, dulu pasti saya nyusahin beliau banget, maafin anak Mamak kalau ada salah salah ya. *khas baper mak muda baru punya anak, baru tau rasanya gimana hiks hiks* 😭

Walhasil puting jadi nyeri. Browsing punya browsing ketemu produk ini. Beli. Dan berhasil...memberikan sugesti yang baik + pede buat menyusui tapi pada akhirnya ga kepake sampe sekarang sebab pas ini uda ada, Bilalnya uda keburu pro tanpa gigit-gigit lagi. Alhamdulillah, berkurang satu dosa haha. Buibu, ga usah beli ini deh, uda mahal, ga kepake juga. Semua cuma masalah waktu dan usaha serta izin Allah kok, bukan nipple palsu ini. 😅

Alhamdulillah #relaktasi berjenjang pun kami lakukan. Mulai dari menyusui langsung (baca: nenenin) Bilal hanya sekali dalam sehari saat sepertiga malam terakhir (jamnya hampir teratur, pengaruh golongan darah A? Hehe) di mana Bilal haus tapi belum sepenuhnya sadar dicekokin nenen dan bukan dot. Sampai pelan-pelan nambah durasi nenen langsungnya ke dhuha, lalu zuhur dst hingga akhirnya I said good bye to the pumping every 2 hours selamanya, yeay! Dan akhirnya by sebulan setengah usianya Bilal, #relaktasi boleh dinyatakan sukses. Alhamdulillah, makin pede dan bersyukur. 😊



3. BOTOL SUSU PP





Sebulan pertama usia Bilal saya belum bisa menyusui langsung sebab Bilal-nya belum bisa lama-lama ngisap. Baru 3-4 kali suckling, dia uda kelelahan, megap-megap, tidur. Maklum, faktor lahir tidak cukup bulan kombo dengan BBLR (berat badan lahir rendah). Awalnya sejak Bilal pulang dari NICU di usia 5 hari, kami coba perlekatan langsung. Failed. Kaya yang uda dijelasin, dianya megap-megap. Sementara ASI harus masuk, berat badannya uda 1800 gram aja (turun 200 gram selama di NICU) apalagi kalau sampai makin dehidrasi. Gimana caranya, kami pikir waktu itu.


Awalnya kami sendokin satu satu. Lama-lama Bilal ga sabaran, dia butuh lebih. Pake cup feeder, duh, kesusahan dianya. Ukuran cup feeder aja uda setengah mukanya dia yang waktu itu keciiiil sekali masih. Pake pipet juga sama, ga ngejar kebutuhannya, Bilal mulai merengek-rengek. 😢

Akhirnya kembali lagilah kami ke dodot. Karena dari NICU, Bilal uda kena dodot juga, kami pikir, sementara ikutin dulu "kebiasaan" yang terlanjur diperkenalkan ke Bilal. Meskipun di satu titik, kami berkomitmen akan #relaktasi lagi.

Lalu terpakailah (plus beberapa beli baru) botol susu plastik PP. Untuk menampung ASI perah. Juga untuk memberi ASI perah ke Bilal. Dan juga untuk media penyimpanan ASI perah lebih di dalam kulkas bagian bawah untuk pemakaian dalam waktu dekat.

Awalnya saya belum pernah pake botol kaca. Sebab berpegang dari buku #CatatanAyahASI + beberapa referensi lain, jika buat nyimpan ASI di kulkas bawah (tahan 4-5 hari), lebih baik botol plastik PP.

Menurut Becky Flora, Bsed, IBCLC (dinukil dari buku #CatatanAyahASI), botol plastik PP adalah opsi terbaik buat nyimpan ASIP di kulkas bawah sebab leukosit/sel darah putih menempel pada dinding botol kaca, sementara pada botol PP ga. TAPI kalau untuk ASIP di freezer, botol kaca lebih baik. Sebab lebih tahan lama meskipun ASI memuai, botol kaca cenderung ga ikutan "nggembung" (Pernah simpan air mineral gelas di freezer? Nggembung sampe hampir pecah kan? Coba deh) sehingga ga rentan bocor.

Alhamdulillah, hanya sebulan Bilal tergantung pada botol. Kemudian kami #relaktasi dan botol PP ini fungsinya berkurang satu. 😊



4. CUP FEEDER


Saya dapat hadiah dua #MedelaCupFeeder ini dari dokter Obsgyn kesayangan, dr. Niken Asri Utami, Sp.OG (yang sekarang udah jadi senior dalam hal pengurus Aceh Peduli ASI, organisasi yang saya geluti sekarang, love you Mbak Niken, kiss kiss!), saat visite pertama pasca SC di RS. Dokter Obsgyn yang satu ini juga konselor menyusui, bahkan katanya juga buka kelas laktasi di hari tertentu (sampai sekarang masih, dengan tim Aceh Peduli ASI). Prakteknya di Sentra Medika Harapan Bunda sebelah Haba Cafe seberang RSUZA, Banda Aceh. *langsung saya jabarin sebelum ada yang nanya haha*

Ironisnya, saya ga berani make ini di awal-awal. Tapi alhamdulillah akhirnya saya ngerti juga cara makenya dengan belajar otodidak lewat Youtube, browsing di forum-forum parenting online yang ada dsb. Ternyata memang tidak sesulit yang saya kira. Hingga akhirnya dari usia 3-4 bulan, saya coba sesekali pada Bilal, dan berhasil! Tujuan saya ngenalin #cupfeeder ini adalah ngajarin Bilal pake gelas secara general. Toh kalau Bilal saya tinggal, ga semua orang berani ngasih ASIP pake media ini. Rata-rata takut bayinya keselek kalau ga bisa kontrol cairannya, makanya masih pake dot/nipple sampai akhirnya relaktasi berhasil, Bilal sendiri yang nolak dot dan lebih milih media lain, termasuk cup feeder ini hihi.

Tapi kalau uda terlanjur haus yang bertambah-tambah, Bilal jadi ga bisa ngontrol diri, dia suka menggapai sendiri #cupfeeder-nya dan dorong ke atas jadi ASIP-nya bisa tumpah semua. 😑

Tapi di saat Bilal kadang ga mau nenen langsung kaya sekarang (i dont know, kayanya gusinya ga nyaman, penampakannya bakal ada gigi yang mau tumbuh waktu itu, dan bener aja beberapa minggu setelah itu nongol gigi perdananya), meskipun saya ada di rumah, Bilal jadi sering saya kasihin ASIP pake #cupfeeder. Kalau kata abatinya, Bilal minum ASIP kaya bapak-bapak minum kopi; seruputnya itu lho hehe. Yo weis, pokoke ASI harus masuk ke perutnya meskipun gusi lagi ga enak, Nak ya.



5. BOTOL KACA ASI


Setelah baca buku #CatatanAyahASI saya akhirnya bergegas baring dan browsing (haha ga perlu ke pasar buat beli) #botolkacaASIP. Segala macam ramai ditemui di berbagai website, online shop, e-commerce dsb. Mulai yang botol rekondisi UC1000 sampai yang baru dari pabrik. Dari tutup karet sampai tutup ulir. Dari takaran ml dalam bentuk print sampai bentuk embossed di botol kacanya langsung. Dari yang sepaket dengan #coolerbag atau #coolerbox. Luar biasa marketing botol kaca ini, salut sama semua produsen. 🙌






Lalu jatuhlah hati saya pada #botolkacaASI merk #BabyPaxRainbow ini.
✔ Botol kaca 150 ml (pas buat 1x pompa)
✔ Tutup model ulir (diputar), lebih kuat
✔ Lucu warna-warniii (dasar manusia 😒)
✔ Leher botol pas di pompa standard neck
✔ Ga perlu tukar botol lagi abis pompa
✔ Abis pompa langsung ke kulkas, praktis
✔ Takaran ml embossed, ga bakal ilang

Kekurangannya cuma satu; mahal untuk pasaran sesama botol kaca ASI. Dengan harga yang sama, beli botol kaca baru merk lain uda dapat 1 atau 2 lusin. Kalau beli yang rekondisi bisa buat menuhin freezer. Ini, cuma dapat 6 botol.

Tapi sebab saya ga butuh banyak, cuma untuk pompa demi alasan maintenance produksi ASI (maklum saya sedang mutusin ga kerja jadi nenen full time except ditinggal bentar sesekali), saya masih bisa kemakan kelucuannya botol ini dan beli selusin (dasar perempuan 😒). Tapi I must say, ada harga ada rupa kali ya. Botolnya kokoh. Pernah ga sengaja jatuh keguling rendah, aman. Tutupnya kuat, abis mompa ditungging-tungging kenceng tetep ga tumpah. Saya jujur parno dengan tutup karet soalnya, bisa popped up kalau memuai berlebihan katanya. Dan takaran ml yang embossed; sukak bingits. Pas mompa (baca: duduk tegak) pun bisa raba botolnya untuk tau uda berapa hasil perahan. Kalau print kan bisa ilang dengan waktu. Yang ga ilang dengan waktu mah harusnya kenangan aja, jangan takaran ml botol kaca ASIP jugak. #eaaa

Tapi jika nanti qadarullah Bilal punya adik & saya dalam keadaan sekolah/bekerja, saya ga bakal beli botol ini lagi biar bisa lebih dapat banyak botol merk lain dengan jumlah uang yang sama...mungkin. Haha.

No comments:

Post a Comment