Saturday, August 29, 2020

Normal Baru; Bukan Kembali ke “Normal yang Lalu”

Normal Baru; Bukan Kembali ke “Normal yang Lalu”

Oleh :dr. Nuril Annissa Niswanto (Mahasiswi Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah)

Indonesia tak lagi sama sejak 2 Maret 2020. Sejak Presiden Joko Widodo melaporkan 2 kasus pertama yang dikonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, segala tatanan kehidupan mengalami dampak dalam berbagai skala. Hanya dalam 4 pekan, tepatnya pada 2 April 2020, kasus di Indonesia melejit menjadi 1790 kasus dikonfirmasi, di mana ada 113 kasus baru dengan 170 jumlah kematian dan 112 jumlah pasien yang dinyatakan sembuh. Ini adalah masa-masa mencekam, menimbang bahwa pada saat itu, jumlah kematian masih lebih tinggi dari jumlah yang pulih. Berbagai skema WFH (Work From Home) mulai berjalan, sekolah diliburkan, mall dan pasar mulai sepi pelanggan, PHK (Pemberhentian Hubungan Kerja) terjadi di mana-mana.

Kini (per tanggal 29 Mei 2020) jumlah kasus terkonfirmasi sudah mencapai angka 24.538 namun dengan angka kesembuhan yang lebih tinggi (6.240) dibanding angka kematian (1.496). Ini menandakan – meski angka penularan masih terus meningkat – Indonesia mulai bisa mengelola penanganan Covid-19 secara lebih baik dibanding awal Maret lalu. Alat Pelindung Diri (APD) yang sempat sulit ditemukan kini mulai membaik aksesibilitasnya, terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia yang bahu-membahu mengadakan APD melalui proses “plat merah” maupun crowd-funding personal maupun yang dititipkan kepada lembaga kemanusiaan/sosial terdekat. Ketersedian masker medis dan hand sanitizer kini justru mulai meresahkan para penimbun seiring membaiknya (setelah sempat melambung tinggi) harga kedua item tersebut di pasaran.

Namun demikian, kurva kasus di Indonesia menurut endcoronavirus.org, masih masuk kategori “Countries that Need to Take Action” sehingga meski dengan kasus kesembuhan yang mulai lebih tinggi dari kasus kematian, Indonesia masih harus mengejar banyak ketertinggalan negara-negara tetangganya yang sudah mulai masuk kategori “Nearly There” atau hampir bisa dikatakan mampu mengelola Covid-19 seperti Malaysia.

Belum lagi kita merasa perjuangan ini masuk kategori “Nearly There” apatah lagi “Beating Covid-19”, tiba-tiba kita sudah di penghujung masa Tanggap Darurat 29 Mei 2020. Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa masyarakat mulai harus bisa menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona Covid-19 dengan tatanan baru yang disebut new normal atau normal baru.

Pertanyaannya, apa itu new normal? Apakah ini berarti kita kembali ke kehidupan yang dulu di mana kita bebas shalat berjamaah, beramai-ramai duduk tamasya di pantai atau berdesakan mengejar diskon terbaru di mall tanpa khawatir akan tertular Covid-19? Hidup di mana dulunya lipstik dan bedak tabur terbaru lebih berharga dari selembar masker? Atau hidup di mana travelling tak butuh banyak protokol/kelengkapan surat-surat dan sesederhana mengejar tiket murah dan membuat paspor saja?

Jawabannya : kita (sebaiknya) tidak kembali lagi ke “normal yang lalu”. Kita hanya akan masuk ke babak baru kehidupan di mana selain memikirkan pakaian terbaik untuk menikah, juga harus mencocokkan hiasan di masker dengan yang ada di kebaya. Di mana tak hanya membawa dompet atau handphone, tiap bepergian kita sebaiknya mengantongi hand sanitizer ukuran mini agar bisa membersihkan tangan tiap kali harus bersentuhan dengan permukaan yang tidak familiar kebersihannya bagi kita. Tentu, tiap kali bertemu, kita tidak lagi bebas memeluk atau cium pipi, tapi cukup menangkupkan tangan atau “salam corona” dengan siku yang terutup baju lengan panjang. Hindari pula adegan dramatis memeluk anak setelah seharian bekerja di pintu masuk rumah; segera mandi dan ganti baju serta segera mencuci pakaian yang digunakan tadi sebelum memeluk anak. Belum lagi anggaran rumah tangga yang mungkin bisa di-switch dari alokasi membeli makanan ringan menjadi membeli kuota internet tambahan untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Indonesia belum “menang” melawan Covid-19. Kita hanya sedang mencari cara lain agar bertahan tidak hanya dari Covid-19, tetapi juga eksesnya; ekonomi. PSBB saja pun tidak selalu menjadi solusi jika kebertahanan pangan atau pekerjaan bagi masyarakat terdampak bisa terjamin. Kasus masih akan meningkat, yang sakit masih akan terus bertambah. Namun kita tidak bisa terus-menerus diam di rumah sebab kita belum mampu melakukan lockdown secara total secara ekonomi, sosial dan budaya.

Apakah ini artinya kita akan “terserah”? Tidak. Kita harus mencoba mencari jalan tengah. Sebab selain bisa meninggal oleh Covid-19, jangan sampai ada warga yang meninggal karena hilangnya kemanusiaan kita dalam menangani ini bersama-sama. Dukung tim medis dalam menangani dengan baik, tapi tolong dukung normal baru ini dengan hanya keluar rumah dengan antisipasi yang maksimal dan bukan justru berkeliling kota lalu nongkrong beramai-ramai. Sudahlah nongkrong tanpa tujuan, tanpa masker yang terpasang menutupi hidung dan mulut secara sempurna pula; ini normal yang lalu, bukan normal baru. Transmisi Covid-19 hari ini justru sangat dikhawatirkan berasal dari para Orang Tanpa Gejala (OTG) yang membawa virus dan bisa menularkan meskipun secara kasat mata, ia tampak baik-baik saja.

Benar kita semua berada dalam samudera masalah yang sama; pandemi Covid-19 yang masih belum berganti status epidemiologinya yang menginfeksi minimal 100.000 orang di 100 negara/daerah. Tapi tidak semua orang memiliki kapal yang kuat untuk mengarunginya. Beberapa bahkan harus naik perahu sekenanya, bahkan hanya berpegang pada sepotong kayu yang enggan mengambang dengan baik. Maka selain memikirkan bagaimana bisa menanganinya dengan baik secara medis, kita juga perlu memikirkan bagaimana cara menghadapinya secara ekonomi, sosial dan budaya.

Maka berhidup-hiduplah kita dengan normal yang baru. Dengan tetap mengedepankan protokol PHBS atau Perilaku Hidup Bersih & Sehat di tengah Pandemi Covid-19. Cuci tangan sesering mungkin baik dengan air dan sabun atau hand sanitizer, hindari memegang permukaan yang tidak penting, selalu mengenakan masker, jaga jarak semaksimal mungkin (tidak justru mendekati keramaian kecuali sangat mendesak). Sisihkan sebagian harta kita untuk berbagi makanan bagi tetangga yang terkena dampak PHK. Duduk lebih lama dengan anak agar bisa menemani mereka belajar melalui PJJ. Sungguh kondisi ini tidak nyaman. Tapi paling tidak, kita masih bisa bernafas dan membaca artikel ini tanpa sesak dan nyeri saat bernafas, maka itu adalah karunia terbesar yang perlu kita jaga dengan normal yang baru; bukan justru membandel dan kembali ke normal yang lalu.


Lamkeuneung – Aceh Besar, Mei 2020.


NB : Tulisan di atas dimuat di Warta Unsyiah Edisi Mei 2020.

No comments:

Post a Comment